Mengasihi Menghidupi Jati Diri

28
Mengasihi Menghidupi Jati Diri
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com Minggu 04 November 2018, Hari Minggu Biasa XXXI, Ul 6:2-6; Mzm 18:2-3a, 3bc-4, 47, 51ab; Ibr 7:23-28; Mrk 12:28b-34

“Mengasihi berarti keluar dari diri sendiri, tidak menjadikan dirinya sebagai pusat untuk mendapat perhatian atau dipenuhi kebutuhannya”

HARI ini bacaan pertama dan Injil berbicara tentang mengasihi. Bacaan pertama berisi perintah untuk berpegang pada ketetapan dan perintah Tuhan Allah dan mengasihi Dia. Jika perintah itu dilaksanakan, bangsa Israel akan menerima berkat berupa umur panjang, populasi banyak, dan hidup di negeri yang subur makmur.

Menaati perintah Tuhan Allah dan mengasihi-Nya akan mendatangkan berkat yang mereka rasakan dan alami semasa hidup di dunia ini. Bacaan Injil berbicara tentang mengasihi Allah yang disebut sebagai bagian pertama dari perintah yang paling utama dan mengasihi sesama manusia sebagai bagian kedua.

Mengerti tentang hal itupun, demikian Yesus menegaskan, telah menempatkan orang tidak jauh dari Kerajaan Allah. Kepercayaan bahwa manusia diciptakan seturut gambar atau citra Allah (Kej 1:26-27), sebenarnya langsung menunjuk pada kasih, karena Allah adalah kasih seperti ditegaskan oleh Santo Yohanes (1Yoh 4:8).

Sebagai gambar atau citra Allah, mengasihi bukanlah hal yang asing melainkan justru sesuai dengan jati dirinya. Ketika mengasihi, manusia menghidupi jati dirinya dan karenanya merasa betah dengan dirinya. Mengasihi berarti keluar dari diri sendiri, tidak menjadikan dirinya sebagai pusat untuk mendapat perhatian atau dipenuhi kebutuhannya.

Bagi orang yang percaya akan Tuhan, pusat perhatian utama adalah Tuhan yang telah menyatakan dan mewujudkan kasih-Nya dengan menciptakan dirinya dan segala sesuatu. Lebih dari itu, Tuhan Allah telah menyelamatkannya melalui dan dalam Tuhan Yesus Kristus.

Dengan demikian jelaslah bahwa Allah telah mengasihi lebih dahulu sebelum manusia mengasihi Dia. Maka mengasihi Tuhan sebenarnya bukan sebagai pelaksanaan perintah, tetapi dorongan asali yang hidup dalam diri setiap orang. Sebagai gambar Allah dan yang telah menerima kasih-Nya, setiap orang mestinya mengarahkan diri kepada Allah, mengasihi-Nya dan terdorong untuk semakin menyerupai Dia.

Sayangnya, dorongan itu tidak kuat lagi atau bahkan hilang sama sekali karena dosa. Kedosaan manusia menghambat bahkan menghalangi setiap pribadi untuk mengasihi sang Pencipta dan Penyelenggara kehidupan. Karena itu, manusia butuh diingatkan, diperintahkan, bahkan terkadang mesti disertai ancaman jika tidak melaksanakannya.

Wujud pemberian diri secara utuh itu dapat dilihat sangat nyata bagi suami isteri yang saling mengasihi dan menyerahkan diri sepenuh dan seutuhnya kepada pasangannya. Cakupan kasih itu tanpa batas seperti kasih Allah tertuju kepada semua orang.

Dari kenyataan itu menjadi jelas bahwa dorongan untuk mengasihi sesama itu bukan sesuatu yang asing, melainkan bersifat asali dan pada setiap orang dan terbuka untuk semua bahkan tertuju kepada semua ciptaan. Semakin menuruti dorongan itu, semakin merasa menemukan diri yang sejatinya.

Mengasihi bukan hanya menemukan makna hidup bagi sesama, tetapi menghayati diri yang sesungguhnya, sehingga merasa betah dengan diri sendiri dan menemukan kepenuhan hidup. Itulah kebahagiaan sejati yang merupakan berkat dan sudah diterima dan dirasakan ketika masih hidup di dunia.

Sayang sekali bahwa pada zaman ini orientasi hidup banyak diarahkan pada pemenuhan kebutuhan diri yang sering kali amat dangkal, berupa materi dan rasa nyaman. Jika arus ini tidak terbendung sikap egois tetap bahkan bertumbuh subur, sedangkan dorongan untuk mengasihi tidak berkesempatan berkembang.

Memenuhi kebutuhan dalam hal fisik, material dan kenyamanan memang perlu, tetapi pendidikan ke arah pengembangan kasih jauh lebih penting. Kalau egoisme semakin berkembang dalam masyarakat, hidup bersama tidak berlandaskan penghayatan akan gambar Allah dengan saling mengasihi, tetapi saling meminta dan menuntut. Jika demikian halnya, damai sejahtera tidak akan pernah terwujud, baik dalam diri sendiri maupun dalam hidup bersama.

 

Mgr Yustinus Harjosusanto MSF
Uskup Agung Samarinda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here