Ibu Maria

147
Ibu Maria
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com UDARA malam begitu dingin. Angin sepoi-sepoi berhembus memasuki lorong gereja. Seorang ibu sedang duduk di hadapan Patung Bunda Maria dengan tangan terbuka seolah-olah sedang menyambutnya. Maria, demikianlah namanya.

Dialah koster gereja kami sejak dua puluh tahun terakhir. Usianya sudah memasuki lima puluhan. Namun raganya masih tetap segar. Ia memiliki seorang anak perempuan. Ibu Maria dan Ina telah ditinggalkan sang suami tercinta sejak Ina baru berusia dua tahun.

Ayah Ina entah menderita sakit apa. Ibu Maria baru saja memberi susu untuk Ina. Kala itu, Rafael pulang dari kebun membawa serta satu tandang pisang. Keringat deras mengucur di sekujur tubuh. Ibu Maria tidak pernah berpikir lain, karena menurutnya mungkin Rafael sangat lelah sehingga dibiarkannya beristirahat.

Sejam berlalu begitu saja tanpa suara. Ketika Ibu Maria hendak memanggil Rafael untuk santap malam, nafas Rafael sudah tiada lagi. Tubuh itu terlanjur kaku. Ia pergi begitu saja tanpa pesan.

Di hadapan Bunda Maria, manik-manik Rosario didekapnya satu persatu. Entah mengapa, malam ini Ibu Maria begitu gelisah. Sesekali ia menatap wajah Bunda Maria. Wajah Bunda Maria pun tampak berseri menyambut pandangan mata seseorang di bawah kakinya.

Kedua mata saling memandang. Ibu Maria mengucapkan kata-kata yang kurang jelas. Dari jauh sana, Ina, anak semata wayangnya melangkah masuk ke gereja. Ia mendekati ibundanya. Sambil menatap wajah Bunda Maria, ia menunduk hormat ala kadarnya lalu duduk di samping ibunya.

Kakinya bersila seperti sang ibu. Di dalam hati, ia mengeja-eja maksud apa yang sedang dikisahkan bundanya kepada Bunda Maria. Lima belas menit usai. Ibu Maria terlihat mengakhiri doanya dengan melakukan tanda salib.

Ia mencium Rosario yang dipegangnya erat-erat, menunduk sejenak lalu berdiri. Seolah-olah tak peduli dengan Ina, ia mundur lalu duduk di bangku umat. Beberapa menit kemudian, Ina pun mengakhiri doanya. Keduanya duduk berdampingan di bangku umat paling depan.

“Bu, ada apa?” Sambil menatap bundanya, Ina membuka suara. Sorot matanya penuh harap.
“Tidak, sayang.” Kata-kata inilah yang selalu keluar dari mulut Ibu Maria tatkala anaknya terganggu perasaan iba sang bunda. “Kalau tidak, mengapa ibu datang berdoa seorang diri? Wajah Ibu pucat sekali. Apa yang sedang terjadi, Bu?”

Ina yakin ibunya sedang menyembunyikan sesuatu. Amat jarang bila ibunya selesai berdoa dan didapati wajahnya pucat pasi.
“Ayo, Bu. Tolong beritahu Ina! Tidak apa-apa. Ibu percaya sama Ina, ‘kan?” Ina melanjutkan.
“Tidak sayang. Tidak ada apa-apa sayang.”
“Tidak mungkin, Bu.”

Nada belas kasihan berubah memaksa. Ina yakin ibunya sedang bergejolak dengan sebuah masalah. Kemungkinan berat, Ina menduga-duga. Ibu Maria tidak ingin terjebak dengan permintaan anaknya. Sambil mengangkat lengan Ina, mereka meninggalkan gereja. Hawa di luar pertanda malam sudah larut. Mereka pun berangkat pergi ke rumah.

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here