Kolintang SMP Regina Pacis, Jakarta : Yang Muda yang Kolintang

156
Kolintang SMP Regina Pacis dalam Festival Budaya saat berlangsungnya Asian Games 2018.
[Dok.Pribadi
Kolintang SMP Regina Pacis, Jakarta : Yang Muda yang Kolintang
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Kolintang hanyalah satu dari beragam kekayaan budaya nusantara. Harmoni yang lahir dari alat musik ini menunjukkan, keberagaman itu indah.

Lagu “Berkibarlah Benderaku” berkumandang di antara ribuan orang yang lalu lalang di salah satu sudut Gelanggang Olah Raga Bung Karno, Jakarta Pusat. Namun, jangan membayangkan lagu itu dinyanyikan dengan iringan band atau orkestra. Sembilan siswa SMP Regina Pacis, Jakarta mengiringi lagu itu dengan seperangkat alat musik Kolintang.

Penampilan siswa-siswa SMP Regina Pacis ini adalah bagian dari Festival Budaya Asian Games 2018. Asian Games nyatanya tak hanya pesta olahraga. Momen ini menjadi panggung bagi keragaman Indonesia. Beragam kekayaan budaya Nusantara ditampilkan di sepanjang event empat tahunan ini.

Bagi siswa-siswa SMP Regina Pacis, penampilan di Senayan itu bukanlah sebuah pertunjukkan instan. Di sekolah yang dikelola Tarekat Suster Fransiskanes Misionaris Maria ini, beberapa siswa antusias sudah jauh sebelumnya berlatih dan mencintai alat musik asli Minahasa, Sulawesi Utara ini. Ketika banyak anak muda telah melupakan musik-musik tradisional, siswa-siswa di sekolah ini telah terbiasa dengan alunan merdu Kolintang.

Mengenal Nada
Kolintang adalah musik tradisional yang berasal berasal dari daerah Minahasa Sulawesi Utara. Di tempat asalnya, alat musik ini terbuat dari kayu telur (Alstonia sp), kayu Wenuang (Octomeles Sumatrana Miq), kayu cempaka (Elmerrillia Tsiampaca), kayu waru (Hibiscus Tiliaceus), dan beberapa jenis kayu lain yang memiliki serat paralel. Sedangkan nama kolintang kombinasi tiga nada; tong (nada rendah), ting (nada tinggi), dan tang (nada biasa). Seiring waktu, mereka masyarakat mengenal alat musik itu sebagai kolintang.

Dengan rangkaian nada diatonis pada setiap instrumen, memainkan kolintang dapat dilakukan hanya dengan memukul setiap bilah kayu sesuai notasi pada setiap lagu. Namun, ketika dimainkan bersama, gabungan setiap instrumen akhirnya menghasilkan kombinasi nada yang semakin beragam.

Di SMP Regina Pacis, kolintang diperkenalkan pertama kali oleh Nolaskus Parera Mandalangi tahun 1990. Ketika itu, kolintang langsung menjadi kegiatan ekstrakurikuler khususnya di SMP. Sejak awal, antusiasme siswa untuk mendalami kolintang sangatlah tinggi. Hal ini mengharuskan sekolah menyeleksi siswa-siswa menjadi anggota kelompok kolintang ini.

Setelah lebih dari 25 tahun, kolintang masih diminati sebagai satu ekstrakulikuler di SMP Regina Pacis. Yohanes Yansen menjelaskan, anak-anak yang belajar kolintang sebenarnya telah memiliki dasar-dasar musik. Bahkan Ada beberapa anak yang sudah khursus musik. Sebagai pengajar kolintang, Yansen dimudahkan dalam melatih siswa bermain. Meskipun demikian, anak-anak yang belum pernah belajar musik tetap dapat belajar kolintang. “Tidak ada kata terlambat untuk belajar,” ujarnya.

Yansen mengakui, belajar kolintang memang butuh kesabaran. Ada tahapan yang harus dilalui. Pertama-tama, siswa harus diperkenalkan dengan melodi, bas, dan ritem. Siswa dapat mulai dengan belajar ketukan. Ini menjadi tantangan pertama ketika siswa baru belajar kolintang. Yansen mengakui, siswa yang baru belajar akan kesulitan dalam memahami ketukan. Ketika, ketukan sudah mulai sama, Yansen baru bisa mulai melatih siswa untuk memainkan lagu.

Yansen selalu menekankan kekompakkan ketika memainkan kolintang. Menurutnya, ini adalah kunci untuk menghasilkan harmoni nada yang indah. Selain itu, ia selalu mendorong rong untuk latihan terus menerus. “Saya selalu menyemangati mereka untuk pantang menyerah dan selalu menyisihkan waktu untuk berlatih.”

Dalam seminggu, siswa yang tergabung dalam ekskul kolintang meluangkan waktu dua kali seminggu. Yovela Adora menuturkan, ia dan siswa lain yang tergabung dalam ekskul kolintang berusaha meluangkan waktu sekitar dua jam dalam setiap kali latihan. Menurutnya, latihan yang banyak menyita waktu terutama saat mempersiapkan penampilan pada event tertentu. “Sebua butuh pengorbanan, disiplin, dan selalu bekerja sama. Ini merupakan kerja tim sehingga kami harus menguburkan egoisme kami masing-masing,” kata Yovela.

Estafet Kolintang
Kepala sekolah SMP Regina Pacis, Antonius Ismunarto mengungkapkan, dari tahun ke tahun, bakat yang mereka miliki yang terus diwariskan ke setiap generasi. Ekskul ini seperti estafet, siswa yang lebih senior selalu terbuka untuk berbagi pengetahuan kepada siswa yang baru belajar. “Kelas atas biasanya lebih piawai karena mereka memiliki jam terbang yang tinggi. Mereka pula yang akan membantu untuk mengasah kemampuan anggota baru.”

Ismunarto menceritakan, saat ini siswa yang berlatih kolintang tidak hanya bisa tampil pada acara intern sekolah. Di beberapa kesempatan, siswanya terlibat dalam event di sekitar Jakarta. Seiring waktu, lanjutnya, siswanya bahkan aktif terlibat dalam beragam lomba dan festival.

Koordinator Ekstrakurikuler, Silvana Retna Hartanti mengisahkan, ekskul kolintang SMP Regina Pacis pernah ikut dalam Festival Nasional Ansambel Musik Kolintang Kayu (AMKK) memperebutkan Piala Bergilir Ibu Negara tahun 2014. Ia menuturkan, di ajang ini siswanya bersaing dengan kelompok lain dari seluruh Indonesia. Meski pendatang baru, SMP Regina Pacis mampu meraih juara tiga. “Saat itu, Regina Pacis tampil pertama kali dan harus bersaing dengan kelompok yang lain dengan sekala nasional,” bebernya.

Menjaga Tradisi
Kolintang memang harus terus dikembangkan, dijaga, dan dirawat. Kehadiran kelompok kolintang disekolah akan memiliki arti yang istimewa. Sebagai generasi penerus, siswa perlu diajarkan untuk memiliki kesadaran akan budaya.

Ketua Yayasan Adikara Niat Sekolah Regina Pacis Jakarta, Sr Linda Mulyati FMM menjelaskan, sebagai bagian dari Indonesia, siswa-siswa SMP Regina Pacis harus memiliki kesadaran cinta tanah air dan bangsa. Ia melihat, ekskul kolintang dapat menjadi satu sarana untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air ini.

Di tengah arus modernitas, lanjut Sr Linda, banyak anak bangsa menjadi amnesia pada karya-karya besar bangsanya. Ia melihat, semangat siswanya mengembangkan kolintang akhirnya menjadi satu cara untuk tetap merawat ingatan. “Kolintang bagi siwa SMP Regina Pacis dapat membuka ruang bagi perkembangan karakter anak. Tidak hanya melulu soal musik tapi nilai-nilai luhur di balik itu. Nilai-nilai inilah yang harus diestafetkan sebagai bentuk keprihatinan terhadap budaya bangsa,” pungkasnya.

Keira Edeline mengungkapkan, kolintang yang ia tampilkan bersama teman-temannya telah membuka mata dunia bahwa keberagaman itu indah. Dengan begitu, ia menunjukkan bahwa Indonesia adalah surga bagi beragam musik-musik indah yang tak henti akan lahir. “Lagu yang kami tampilkan itu baik lagu nasional mapun lagu perjuangan.” ujar siswa kelas IX SMP Regina Pacis Jakarta ini.

Willy Matrona

HIDUP NO.41 2018, 14 Oktober 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here