Yesus Kristus Raja Semesta Alam

160
Renungan Minggu edisi-47
Yesus Kristus Raja Semesta Alam
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comMinggu ke-34, 25 November 2018, Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam, Dan 7:13-14; Why 1:5-8; Yoh 18 :33 b – 37

“Kekristenan atau kemuridan tanpa sakit dan penderitaan tak mempunyai daya dan kekuatan untuk membebaskan.”

HARI ini Hari Minggu ke-34 atau minggu terakhir sebelum memasuki Masa Adven, Gereja Semesta merayakan Kristus sebagai Raja Semesta Alam. Gereja mengimani bahwa kepada-Nya “diserahkan kekuasaan, kehormatan dan kuasa sebagai Raja (Dan. 7:14 /bacaan pertama).

“Dia adalah Alfa dan Omega, yang kini ada, yang dulu sudah ada, dan yang tetap ada, yang Maha Kuasa” (Why. 1:8 / bacaan kedua). Di masa lalu raja selalu dikaitkan dengan kekuasaan, kekayaan dan kemewahan. Raja seperti apa Yesus Kristus?

Injil menampilkan seorang yang bermahkotakan anyaman duri, bermantol ungu yang dikenakan pada-Nya sebagai olokan karena Dia raja palsu. Ia berdiri sebagai seseorang terdakwa penjahat di hadapan Pilatus, wakil penguasa adidaya Romawi.

Di tangan Pilatus ada kuasa untuk membebaskan Yesus dari tuduhan palsu lawan-lawannya atau menjatuhkan hukuman mati atas kejahatan yang dituduhkan kepada-Nya. “Tidakkah Engkau tahu bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?” (Yoh. 19:10).

Sungguh menyedihkan, Yesus menyatakan diri raja pada saat secara kasat mata Diri-Nya tak mampu lagi berbuat apa-apa. Dia sudah bukan siapa-siapa. Tangan-Nya terbelenggu sesudah Dia ditangkap sebagai penjahat. Dia divonis untuk mati secara hina dan memilukan di kayu salib.

Dua penguasa berhadap-hadapan di atas panggung yang sama. Pilatus mewakili superpower kekaisaran Romawi yang dengan pongah sangat percaya diri duduk di atas singgasananya. Di hadapannya berdiri Yesus dengan tangan terbelenggu, sekujur tubuh-Nya babak belur sehabis dicambuki para prajurit, yang menangkap-Nya, kelelahan, dan pucat karena kurang istirahat, dan kehilangan banyak darah akibat luka-luka-Nya.

Dengan tak kurang tegasnya dan dengan penuh wibawa Ia menegaskan, “Aku adalah Raja, untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran” (Yoh. 18 :37). Pemandangan yang sangat kontras bertolak belakang. Siapa pemegang kekuasaan sejati raja sesungguhnya dari dua sosok itu?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here