Komunitas Mandarin Toasebio : Menghidupi Budaya dalam Terang Iman

90
Bakti Sosial: Komunitas Mandarin Muda berkunjung ke Panti Asuhan Vencentius Kramat, Jakarta.
[NN/Dok.Komsos Toasebio]
Komunitas Mandarin Toasebio : Menghidupi Budaya dalam Terang Iman
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Komunitas Mandarin St Maria de Fatima, Toasebio, dapat bertahan dan berkembang selama 51 tahun. Iman dan budaya berpadu dalam dinamika hidup komunitas ini.

Gereja Katolik St Maria de Fatima Toasebio merupakan salah satu gereja tertua di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), tepatnya berada di daerah Glodok. Orang sering menyebut daerah pecinan. Tujuan awal didirikanya gereja ini, selain sebagai tempat ibadah, juga sebagai sekolah dan asrama bagi orang Hokiau (Cina perantauan) yang berada di sekitar Glodok. Arsitektur gereja ini begitu kental dengan nuansa oriental, perpaduan warna emas dan merah.

Sejarah
Pastor Paroki Toasebio kala itu, Joannes Tsheng Chau Ming SJ memanfaatkan gedung kosong yang ada di belakang gereja. Ia kemudian mendirikan asrama bagi siswa-siswi dari luar daerah, yang bersekolah di berbagai SMP Tionghoa di Jakarta. Akhirnya, Pater Tsheng mendirikan sebuah perkumpulan yang dinamakan Ricci Youth Center. Berbagai kegiatan dilakukan, antara lain kursus bahasa Mandarin, Inggris, dan Jerman pada malam hari. Selain itu, mereka juga melakukan latihan rutin paduan suara untuk mengiringi perayaan Ekaristi setiap Minggu dengan lagu-lagu Mandarin.

Namun, pada 1959 pelbagai kegiatan mengalami kendala. Ketika itu banyak sekolah Tionghoa yang dilarang di Indonesia. Pemerintah khawatir dengan ada – nya indikasi merebaknya ideologi asing melalui pendidikan Tionghoa. Sehubungan dengan itu, beberapa pastor yang berkarya di Jakarta menganggap pewartaan Injil dalam bahasa Mandarin tidak perlu dipertahankan. Bahkan, mereka menghendaki Ekaristi Mandarin ditiadakan.

Kemudian, pada 1961 Pater Tsheng mendapat tugas perutusan ke Taiwan. Sementara, setelah lulus sekolah, siswa-siswi yang tinggal di asrama Pater Tsheng meninggalkan Jakarta. Karena semakin berkurangnya anggota asrama, umat dan beberapa siswa yang masih bertahan mengusulkan kepada Pastor Paroki Toasebio, Rudolfus Villavincencio SJ, untuk membentuk suatu wadah agar umat yang bisa berbahasa Mandarin dapat aktif lagi melayani di Gereja.

Akhirnya, pada 22 April 1962, bertepatan dengan Hari Raya Paskah didirikanlah Perkumpulan St Maria de Fatima Toasebio atau kini disebut Komunitas Mandarin. Berbagai kegiatan pelayanan mereka lakukan. Salah satu tugas pokoknya adalah membantu pastor paroki untuk melaksanakan tugas kerasulan. Akhirnya, pada 1983 Uskup Agung Jakarta Mgr Leo Soekoto SJ menyatakan bahwa perayaan Ekaristi berbahasa Mandarin di Paroki Toasebio harus tetap dipertahankan. Sampai kini perayaan dalam bahasa Mandarin itu tetap lestari.

Mimpi Kota Pecinan
Komunitas Mandarin kini berusia 51 tahun. Perayaan liturgi berbahasa Mandarin dan berbagai kegiatan masih dilakukan, antara lain Ekaristi berbahasa Mandarin, Ekaristi Imlek, kursus Bahasa Mandarin dan Lomba Baca Kitab Suci Bahasa Mandarin.

Ekaristi berbahasa Mandarin diadakan setiap Minggu, pukul 16.30 WIB. Ekaristi biasanya dipimpin oleh Hilarius Sutiono CDD. Romo Sutiono adalah Penanggung Jawab Pastoral Umat Berbahasa Mandarin di KAJ. Setiap perayaan Ekaristi Mandarin selalu dipenuhi umat. Stefanus, umat Paroki Toasebio, mengatakan senang bisa mengikuti Ekaristi dalam bahasa Mandarin. Ia menambahkan, Paroki Toasebio sangat membantu umat Katolik Tionghoa pendatang dari daerah. Mereka kurang fasih berbahasa Indonesia.

Komunitas Mandarin saat ini diketuai oleh Aloysius Li Jin Cheng. Aneka kegiatan dilakukan secara konsisten hingga sekarang. Alhasil, Komunitas Mandarin mendapat apresiasi positif dari umat dan pastor paroki. Salah satu buktinya, setiap perayaan Imlek, Komunitas Mandarin senantiasa dipercaya sebagai panitia inti. Semua persiapan dan teknis pelaksanaan dikerjakan oleh anggota Komunitas Mandarin.

Pastor Kepala Paroki Toasebio Germano Framarin SX mengatakan, umat Paroki Toasebio menyambut Imlek dengan penuh suka cita. Selain perayaan Ekaristi, Imlek juga disambut dengan lombalomba, seperti lomba membaca doa Bapa Kami dan Kitab Suci berbahasa Mandarin bagi anak-anak. Imam asal Italia ini memiliki mimpi, Gereja Toasebio bisa menjadi Kota Pecinan di Jakarta. “Saya punya mimpi, gereja dan Sekolah Ricci bisa direnovasi dan dibuat bangunan dengan arsitektur gaya Cina,” ungkapnya.

Regenerasi
Pada 2008 Komunitas Mandarin mengadakan kursus bahasa Mandarin. Kursus ini terbuka untuk umum. Kursus ini pun mendapat sambutan positif dari umat. Kegiatan ini sekaligus merupakan sarana untuk mengajak umat, khususnya orang muda Katolik agar terlibat aktif di Komunitas Mandarin. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sarana regenerasi bagi Komunitas Mandarin.

Melalui kursus ini, terbentuklah sebuah Komunitas Mandarin Muda. Komunitas ini sudah berusia lima tahun. Aneka kegiatan Komunitas Mandarin Muda ini didampingi oleh Komunitas Mandarin. Meski jumlahnya lebih sedikit, Komunitas Mandarin Muda tetap bersemangat melayani dalam tugas kerasulan. Berbagai kegiatan pernah mereka lakukan, seperti lomba doa Bapa Kami dalam bahasa Mandarin, membaca Kitab Suci dalam bahasa Mandarin, bakti sosial, retret, nonton bersama, dan latihan wushu.

Dengan demikian mereka semakin mencintai dan menjunjung tinggi budaya serta tradisi Tionghoa yang sudah diperjuangkan oleh para pastor pendahulu.

Monica Tjong Shully

HIDUP NO.08 2014, 23 Februari 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here