Berdiri di Atas Kaki Sendiri

58
Panen Semangka dari Kebun Sahang yang akan dibawa dan dijual ke pasar.
[NN/Dok.Pribadi]
Berdiri di Atas Kaki Sendiri
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Mengupayakan kesejahteraan, berinovasi dan kreatif demi menopang kehidupan sosial ekonomi yang mandiri.

Gerbang kayu coklat bertuliskan Eco17 menyambut kedatangan para umat Keuskupan Bogor. Sekelabat mata tidak ada yang terlihat istimewa. Namun, ketika melangkahkan kaki lebih jauh, bak oasis di tengah hiruk pikuk kota, terdapat sebuah kebun ekologis di dalamnya. Kebun Yasmin, begitulah nama lahan seluas 4100 meter itu dikenal. Uskup Bogor, Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM menyebut, kebun yang berlokasi di Jalan Dadap, Jasmin, Bogor ini sebagai “Taman Eden” Keuskupan Bogor.

Kebun Yasmin terbentuk berkat gagasan kelompok Eco17. Kelompok ini merupakan bentukan Seksi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Paroki Beatae Mariae Virginis Katedral Bogor sebagai salah satu wujud kasih kepada lingkungan. Ketua PSE Paroki Katedral Bogor, Joko Pitoyo menceritakan, setelah ditunjuk sebagai ketua PSE tahun 2016, ia bersama PSE mengadakan seminar ekologi dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada bulan Juni 2016. Seminar itu mengumpulkan 16 orang perwakilan tiap wilayah Paroki Katedral dan satu perwakilan PSE.

Karena jumlah perintisnya ada 17, maka kelompok ini diberi nama Eco17. Mereka rindu mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dalam seminar. Di atas sebuah lahan kosong di daerah Yasmin, Bogor, mereka mengawali “pastoral ekologis” ini.

Kebun Edukatif
Pada 11 Januari 2017 tanah yang sempat dikelola sebagian oleh penduduk setempat diambil alih. Pihak Gereja membayar ganti rugi atas tanaman yang ditanam di lahan tersebut. Sebulan kemudian, lahan itu diberkati oleh uskup Bogor bersama dengan Pastor Paroki Katedral Pastor Dominikus Savio Tukiyo, Ketua Komisi PSE Keuskupan Bogor Pastor Ridwan Amo, dan Fasilitator pelatihan Eco17 Pastor Yulianus Enggo CP. Dalam ibadat pemberkatan guna mewukudkan dimensi iman yang ekologis, uskup Bogor membentuk Biro Ekologi di bawah Komisi PSE. Tim Eco 17 menjadi pelopor gerakan ekologis.

Setelah kebun dibersihkan dan dikondisikan sedemikian rupa, PSE pun memperkerjakan empat orang awam tenaga bantuan; Soewondo sebagai kepala kebun, Andre staf teknik, Ambar bidang pemasaran, Nartim tenaga lapangan. Dengan tenaga yang ada, mereka menggarap lahan tersebut dengan menanam berbagai bibit buah dan sayur.

Kegigihan Eco17 pun dilirik banyak umat. Mereka berbondong-bondong menyumbangkan bibit, ayam, ikan, kelinci, dan besi ringan untuk membuat “greenhouse”. Perkembangan Kebun Yasmin pun cukup pesat. Ditargetkan, setelah dua tahun Kebun Yasmin bisa mandiri. Tim PSE ingin membawa Kebun Yasmin sebagai kebun berbasis wisata kuliner di mana umat yang berkunjung dapat menikmati hasil pangan. “Proyeksi kami tahun pertama meletakan dasar pengembangan, tahun kedua perbaikan sarana dan prasarana, lalu tahun ketiga dengan rahmat Allah tinggal lepas landas atau mandiri.”

Saat ini marjin keuntungan belum dapat dilihat. Jika pada musim hujan dapat meraup pendapatan sebesar Rp. 600 ribu hingga satu juta, namun di musim kering tidak dapat mencapai angka tersebut. Joko optimis, dengan kebersamaan umat, Kebun Yasmin dapat menjadi kebun mandiri dan edukatif.

Tanam, Rawat, Pelihara
Melihat lahan kosong di Paroki Kristus Raja Kristus Raja Keuskupan Sanggau Kalimantan Barat, Pastor Fidelis Siagian merasa gusar. Ia merasa sayang, apabila lahan tersebut tidak dapat dimaksimalkan dengan baik. Berbekal hobi dan minatnya di bidang cocok tanam, Pastor Fidelis mengajukan izin penggunaan lahan kosong tersebut.

Atas persetujuan kepala paroki dan umat, ia pun memulai menggarap lahan tersebut untuk menanam sayur-sayuran sederhana seperti terong, cabai, timun, jengkol, dan pohon buah seperti pisang, nangka, durian, buah naga, coco, dan juga kopi. Tidak hanya hobi, usaha ini memotivasi umat dan memberi contoh langsung, agar umat mau berusaha. “Sebenarnya lahan itu mereka ada, tapi tidak difungsikan untuk menunjang kebutuhan si empunya lahan,” jelas Pastor Fidelis.

Dalam mengelola kebun paroki, Pastor Fidelis langsung turun tangan. Selain itu ia juga mendapat bantuan dari tiga orang pekerja yang menggarap kebun. “Jika ada waktu senggang dan tidak ada pelayanan, pasti ke kebun untuk tanam, rawat dan pelihara.”

Apa yang dikerjakan oleh Pastor Fidelis pun akhirnya berbuah hasil. Selain untuk konsumsi pribadi, hasil panen tersebut dijual dengan harga yang lebih rendah daripada harga pasaran. Menurutnya, ada orang yang selalu menunggu panen hasil kebun paroki. Hasil panen dari kebun pun dipasok ke pasar tradisional dan pengecer. “Untungnya selain kita sehat karena konsumsi dari kebun sendiri, kita juga dapat keuntungan dari penjualan hasil kebun,” tuturnya.

Dengan adanya kebun ini, keuntungan yang didapat tidak jarang bisa menopang kegiatan-kegiatan paroki secara mandiri. Pastor Fidelis menuturkan, ketika hasil kebun dirasa cukup, maka tidak perlu membuat proposal dana untuk sebuah kegiatan. Hasil kebun ini saja sudah dapat untuk mendanai kegiatan itu. “Yah bisa bantu-bantu anak-anak remaja atau misdinar untuk kegiatan-kegiatan pembinaan mereka secara materi,” ucap Pastor Fidelis.

Pastor Fidelis berharap masyarakat bisa “makan mewah”. Dalam arti, mereka makan sayur dan buah dari hasil kebun sendiri. “Sebenarnya banyak yang bisa dibuat, jangan biarkan kebun nganggur karena kemalasan,” demikian Koordinator Kebun Paroki Kristus Raja Tayanhulu.

Mandiri dan Gotong Royong
Ketika Pastor Andreas Naraama Lemoro masih berkarya di Paroki St Fransiskus Xaverius Koba Keuskupan Pangkal Pinang pada 2002-2008, ia mengelola kebun milik paroki bersama dengan umat. Tujuan dari usaha ini untuk membina umat agar tidak saja menerima, namun turun langsung dan bekerja.

Ia menjelaskan, kebun itu berkembang dengan sistem gotong royong. Umat yang memiliki tenaga bisa terjun langsung menggarap kebun, sedangkan yang berhalangan langsung memberi bantuan menyediakan konsumsi bagi yang bekerja. “Hasil kebun dapat menjadi salah satu sumber pendanaan kegiatan pastoral lain,” tuturnya.

Pada 2008, Pastor Andre dipindahkan untuk bertugas di Kantor Keuskupan Pangkalpinang. Tiga tahun setelah dipindah, pada 2011, ia mulai mengelola Kebun Sahang, milik Keuskupan Pangkalpinang. Di kebun seluas 14 hektar ini, sebelumnya sudah ditanami berbagai jenis tanaman umur pendek yang cepat dapat dipanen. Ia mencontohkan, produk yang dihasilkan dari kebun ini misalnya semangka dan cabai. Tak hanya itu, di sebagian kebun juga ada tanaman berumur panjang misalnya karet dan coklat. “Kami mencoba menghidupkan tanaman umur pendek untuk menopang tanaman umur panjang yang membutuhkan dana yang lebih besar,” ungkap Pastor Andre.

Hasil keuntungan dari kebun ini sebagian digunakan membayar gaji karyawan yang membantu mengelola Kebun Sahang. Pastor Andre menjelaskan, sebagian lain dari keuntungan akan diserahkan ke dalam kas keuskupan. “Ini juga membuka lahan pekerjaan yang saling memberdayakan, bukan memperdaya. Selain itu ini juga sarana merasul, mengenalkan Gereja kepada masyarakat muslim di sekitar kebun, dan menjalin silahturahmi,” jelasnya.

Limbah Menjadi Berkah
Kisah usaha sosial ekonomi yang digeluti Pastor Andre belum selesai. Saat mengikuti Konvernas Hari Pangan Sedunia di Yogyakarta, ketua Komisi PSE Keuskupan Pangkalpinang ini terkesan dengan materi tentang “biogas”. Biogas ini dibuat dari limbah kotoran manusia yang kemudian diolah menjadi bahan bakar untuk memasak di dapur. Sekembalinya ke Pangkalpinang, ia menggagas proyek biogas di Seminari Menengah Mario John Boen. “Saya pikir kan kami juga ada seminari dan anak-anaknya juga banyak kan. Wah bisa nih dicoba jadi potensi sumber gas,” tuturnya.

Menurut Pastor Andre, awalnya ada rasa aneh atau heran, termasuk dari Uskup Pangkalpinang ketika itu, Mgr Hilarius Moa Nurak SVD. Setelah dijelaskan, akhirnya Mgr Hila menyetujui ide itu.

Maka dibuatlah digester atau reaktor untuk proses fermentasi. Digester ini sesuai dengan Standar Nasional Indonesia yang bisa bertahan hingga 25-30 tahun. Pastor Andre menjelaskan, seminari tidak memiliki septitenk, tetapi limbah dari kakus para seminaris ini langsung masuk ke digester dan terfermentasi secara alami. “Kandungan limbah itu terdiri dari metanol dan CO2, ketika terpisah akan menghasilkan gas. Sedangkan limbah cairnya untuk kompos cair pupuk tanaman.”

Gas yang dihasilkan ini digunakan untuk keperluan memasak. Sejak itu, seminari tidak membeli LPG lagi, karena sudah menggunakan biogas. Menurut Pastor Andre gas yang dihasilkan dari limbah ini sama sekali tidak berbau dan tidak menimbulkan efek yang buruk.

Dengan percontohan yang ada di seminari, akhirnya di Kebun Sahang pun dibuatlah digester untuk biogas. Selain limbah manusia, limbah hewan ternak pun dapat digunakan dengan cara yang sama. Pembuatan digester ini pun dilirik oleh beberapa desa di sekitar. Hingga kini, sudah ada sebanyak 12 unit. Dengan biogas, masyarakat atau umat bisa memanfaatkan limbah menjadi sumber daya.

Pastor Andre mengatakan, lembaga-lembaga Gereja tidak perlu merasa risih atau tabu bicara soal uang. Gereja harus mulai membuka mata melihat potensi yang dimiliki dan diberdayakan untuk mendapatkan uang demi kelancaran reksa pastoral. “Sudah pada saatnya kolekte bukan satu-satunya sumber keuangan paroki dan keuskupan. Maka aset-aset yang dimiliki Gereja, terutama lahan pertanian supaya dikelola dengan baik dan berdayaguna,” jelas Pastor Andre. Roh atau semangat yang coba diusulkan dalam usaha-usaha ini adalah membawa alam ke altar dan membawa altar ke pasar. “Mari kita lebih baik berbuat baik daripada menerima kebaikan orang. Artinya mari kita lebih dulu memberi, jangan terus menadah,” tandasnya.

Marchella A. Vieba
Laporan: Felicia P. Hanggu

HIDUP NO.43 2018, 28 Oktober 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here