Suami Meninggalkan Keluarga

180
Suami Meninggalkan Keluarga
2 (40%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Saya adalah ibu dengan dua anak. Kami menikah sejak tahun 2004. Sejak 2011 sampai sekarang, ternyata suami saya selingkuh dan telah kumpul kebo. Saya dapat informasi ini dari sahabatnya. Katanya, dia bilang ke sahabat itu: “Pet, ini selingkuhan saya”.

Hati saya hancur. Sahabat ini pernah menanyakan ke pihak perempuan: “Kamu tahu dia sudah punya istri dan dua anak di Jakarta. Kenapa masih mau?” Dia bilang: “Habis mau gimana lagi”. Si perempuan sendiri sudah punya suami dan satu anak. Dia anak orang kaya: anak direktur perusahaan besar, punya bengkel yang bisa muat 20 mobil. Intinya dia orang kaya.

Saat ini suami saya dan dia tinggal di Timor Leste. Mereka juga berencana untuk menikah secara Islam, tetapi di Atambua. Saya bingung Romo, apalagi di saat anak-anak rindu pada ayahnya. Karena sudah setahun dia tidak pulang ke Jakarta, dan sejak 2012 dia sudah tidak menafkahi kami. Bagaimana nasib perkawinan saya ini? Apakah seterusnya saya harus menunggu? Apa yang harus saya lakukan? Terima kasih.

Nila, Jakarta

Yang terkasih Ibu Nila, terima kasih atas sharing-nya; saya bersimpati dengan apa yang terjadi pada Anda dan anak-anak Anda. Dari kisah Anda saya mengasumsikan bahwa pernikahan Anda berdua adalah pernikahan Katolik. Kita semua sudah tahu bahwa perkawinan Katolik itu bersifat monogami dan tidak dapat diceraikan untuk seumur hidup. Ini adalah ajaran yang tetap dipegang teguh oleh Gereja, karena Gereja hendak setia pada ajaran Yesus sendiri, tidak menambah atau mengurangi, “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat 19:6). Perkawinan yang sebenarnya adalah hal yang biasa, namun “oleh Kristus Tuhan diangkat ke martabat sakramen” (Kan. 1055); artinya dengan perkawinan suci suami dan istri diberi rahmat dan ditugaskan untuk menampakkan pada dunia cinta Kristus pada umat-Nya (Ef 5:32).

Namun sayang, ajaran itu kerap diabaikan oleh umat-Nya sendiri. Sering sudah kita mendengar bahwa sebelum perkawinan pasangan begitu getol mencari pengesahan, tetapi setelah itu mereka berdua atau salah satu dari mereka tidak memeliharanya dengan baik. Salah satu buah buruknya adalah perselingkuhan. Hal ini terjadi dengan berbagai macam sebab. Kemungkinan pihak yang tampaknya tidak bersalah menjadi pemicu terjadinya perselingkuhan. Jadi dalam kesempatan ini, baik bila Anda juga dengan rendah hati dan jujur mawas diri untuk meneliti hidup Anda; mungkin ada hal-hal yang kurang atau tidak Anda sadari memicu terjadinya perselingkuhan ini.

Namun bisa juga pihak suami Anda yang memang lalai dan tidak mau memelihara perkawinan suci ini. Bisa jadi juga, godaan dari pihak lain menambah parah situasi. Janganlah menyerah dengan keadaan yang ada. Cobalah untuk terus mengontak suami Anda dan ingatkanlah dia akan keluhuran sakramen perkawinan yang telah saling kalian berikan di depan Allah dan umat-Nya. Dan sambil terus berusaha, jangan lupakan kekuatan doa. Berdoalah dengan tekun. Nah, jika suami Anda menyesal dan kembali pada Anda, ampunilah dia dan tetaplah teguh mempertahankan perkawinan Anda, meskipun sakit rasanya. Bunda Teresa Kalkuta pernah mengatakan: “Cintailah sampai terasa sakit.” Inilah kesempatan bagi Anda untuk membuktikan cinta itu. Cinta Kristus pada umat-Nya telah Ia buktikan dengan menderita dan menumpahkan darah-Nya di salib. Cinta itulah yang dapat Anda minta dari Yesus untuk menjadi sumber kekuatan Anda untuk tetap mempertahankan perkawinan ini. Ini jalan spiritual yang dianjurkan oleh Gereja dan jalan ini adalah jalan mulia.

Akan tetapi, jika keadaan bertambah parah dan Anda sudah tidak dapat menanggungnya lagi dan tetap tidak ada kabar apa-apa dari suami Anda, Anda dapat meminta petunjuk dari pastor paroki Anda untuk mencarikan solusi atas problem perkawinan Anda di Tribunal Keuskupan. Saya yakin, mereka yang juga adalah para gembala umat akan membimbing Anda dengan baik untuk akhirnya mencapai solusi yang terbaik. Demikian juga doa saya untuk Anda. Tuhan Yesus memberkati.

Dr Benny Phang OCarm

HIDUP NO.05 2014, 2 Februari 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here