Beato Giovanni Schiavo CSI (1903-1967) : Jejak Kekudusan Anak Tukang Sepatu

46
Beato Giovanni Schiavo.
[acidigital.com]
Beato Giovanni Schiavo CSI (1903-1967) : Jejak Kekudusan Anak Tukang Sepatu
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Selalu ada rencana untuk mencari panggilan Tuhan. Giovanni Schiavo menjadi pastor bonus dalam pikiran, perkataan, dan pelayanannya kepada orang miskin dan sederhana.

Pastor Giovanni Schiavo CSI tiba di Jagurão, Brazil pada 5 September 1931. Siapa yang menyangka, di negeri Amazon itu, ia akan mengabdikan hidupnya sampai akhir. Dalam kesetiaannya berkarya di tengah umat Katolik Brazil, ia menemukan kesuciannya. Teladan hidupnya mampu memberi inspirasi bagi sesama.

Beberapa karya pendidikan berhasil dirintis anak tukang sepatu ini. Dalam kesederhanaannya itu, Pastor Giovanni juga membagi waktunya sebagai pendamping formasi spiritual para calon biarawan dan biarawati. Ia berperan dalam terbentuknya Tarekat Suster-suster Murialdine San Giuseppe (Santo Joseph) di Brazil pada 9 Mei 1954.

Dalam ketekunan dan kesetiaan rohaninya, Pastor Giovannni mampu sampai pada kekudusan hidup. Saat ia sempat dirawat di rumah sakit karena penyakit komplikasi hati yang serius, ia tetap setia pada panggilannya. Bahkan saat akhirnya ajal menjemput, ia melewatinya dengan iman yang penuh. Beberapa jam sebelum kematiannya, ia terus mengulang: “Ya, Tuhan!” Hingga akhirnya ia mengakhiri hidupnya dengan berkata, “Ayah, aku anakmu; aku selalu ingin melakukan kehendakmu”.

Anak Lemah
Giovanni lahir di perbukitan Montecchio Maggiore, Padova, Vicenza, 8 Juli 1903. Desa kelahirannya dikenal dengan nama Sant’Urbano. Di awal tahun 1920, desa itu dikatakan “sempat hilang” akibat Perang Dunia I (1914-1918). Sebagian besar rumah penduduk hancur akibat perang besar itu. Seluruh rakyat terpaksa mengungsi ke desa-desa seputar Padua dan Veneto.

Usai perang, banyak warga jatuh miskin. Sebagai bagian dari Italia, desa ini terkena imbas perjanjian yang diperlakukan negara-negara Barat kepada pihak yang kalah perang. Alhasil, resesi ekonomi terjadi di banyak negara Eropa, termasuk di Italia. Tingginya korban jiwa mendorong warga meninggalkan kampung halamannya. Mereka yang bertahan tidak ada pilihan selain menjadi pandai besi, penggarap kebun anggur, dan petani. Baru setelah industrialisasi berkembang di Italia, banyak orang bekerja menjadi buruh pabrik.

Demi bertahan hidup Luigi menjadi buruh harian di pabrik sepatu milik keluarga Salvatore. Sementara sang ibu mengurus rumah dan anak-anak. Sebagai karyawan pabrik terkadang Luigi Schiavo ayah Giovanni bekerja lembur hingga tidak pulang. Karena itu, iman Giovanni justru subur lantaran Rosa Fittorelli, sang ibu. Dalam asuhan sang bunda, Giovanni menemukan arah hidup dan panggilannya untuk menjadi imam.

Anak pertama dari sembilan bersaudara ini menerima pendidikan Kristen yang sangat mendalam. Bahkan di saat menderita poliomyelitis dan meningitis kala usia 14 tahun, Giovanni tetap setia dan tekun berdoa. Keluarga besarnya berpikir menjadi imam mungkin satu-satunya jalan bagi Giovanni.

Setelah tamat dari Sekolah Dasar di Sant’Urbano, keluarga mengirim Giovanni ke sebuah sekolah lanjutan di Montecchio Maggiore. Ia harus berjalan sejauh 12 kilometer pergi-pulang demi mendapatkan pendidikan yang layak. Tetapi, Geovanni selalu saja menemukan suka cita dalam perjalanan ke sekolah. Setiap melewati Gereja St Maria, ia selalu menyempatkan diri mengikuti Misa pagi.

Selama periode sekolah menengah, Giovanni mulai berpikir serius tentang panggilan religius. Panggilannya semakin matang ketika sedang berdoa di depan patung Bunda Maria. Di depan Bunda Maria, Giovanni merasakan ada suara yang memintanya untuk segera masuk seminari. Giovanni yakin itulah suara Tuhan.

Formator Saleh
Giovanni kemudian masuk Seminari Kecil Maria Immaculata milik Kongregasi St Joseph (Congregatio Saint Ioseph/CSI) – sebuah kongregasi yang didirikan St Leonard Murialdo di Montecchio Maggiore. Ia memulai masa novisiat pada 4 September 1918. Tanggal 27 Agustus 1919, ia mengucapkan kaul pertama di hadapan Rektor Seminari Pastor Eugenio Reffo. Enam tahun kemudian, tepatnya 1925, Frater Giovanni mengucapkan kaul kekal.

Dalam masa studi itu, Giovanni terlihat sangat bersemangat. Ia menjalani hidup kemiskinan dan kemurnian dengan sungguh-sungguh. Ia tak peduli bila orang mengatakan fisiknya lemah. Ia selalu berusaha tidak manja saat orang lain memandang remeh pribadinya. Akhirnya, ia pun ditahbiskan imam pada 10 Juli 1927 di Katedral Vicenza.

Melihat kerendahan hati dan kesungguhan hidup rohani Pastor Giovanni, Pemimpin Umum CSI mengutusnya untuk melayani di Modena, Italia. Beberapa tahun kemudian, ia menjadi Kepala Paroki Oderzo. Ia lalu bertugas berturut-turut di Paroki Montecchio dan Paroki Maggiore, Italia. Ia menjadi pastor muda yang menjalankan pastoral berbagi kepada orang miskin. Pengalaman kesederhanaan dalam keluarga pun ditularkan dalam reksa pastoralnya. Kebijakan ekonomi berkeadilan dengan program subsidiaritas dan solidaritas umat kaya membantu orang miskin menjadi proyek pastoral
Giovanni.

Empat tahun berkarya di Italia, Pemimpin Umum CSI Pastor Luigi Casaril CSI memintanya untuk bermisi di Brazil. Tentu kesempatan ini tak disiasiakan pastor Giovanni. Kendati keluarga mengkhawatirkan kesehatannya, tetapi Giovanni terus menyatakan kesediannya untuk bermisi. Tahun 1931, Pastor Giovanni tiba di Brazil dan bekerja sebagai guru ia juga sempat menjad pastor paroki di beberapa paroki sebelum terpilih menjadi Provinsial CSI wilayah Amerika Latin tahun 1946.

Salah satu karyanya sebagai provinsial adalah membantu terbentuknya kelompok Suster-suster Murialdine San Giuseppe (Santo Joseph) di Brazil pada 9 Mei 1954. Suster-suster ini menjadi saudari yang membantu karya Kongregasi Santo Joseph di Brazil. Ia menjadi imam yang mencurahkan tenaganya untuk formasi spiritual para calon biarawan dan biarawati. Kehadirannya tidak saja disenangi oleh Suster-suster Murialdine tetapi juga banyak imam dan komunitas kategorial.

Orang Pertama
Pastor multitalenta ini terus berkarya sebagai sahabat bagi banyak orang. Ia terus melayani bahkan sampai daerah-daerah pedalaman yang asing bagi para pelayan. Di tempat-tempat sunyi itu, Pastor Giovanni menancapkan ajaran Kristus dengan saksama. Ia setia dalam karyanya hingga saudara maut menjemputnya pada 27 Januari 1967.

Pastor Giovanni meninggal diiringi doa para kolegianya dan pujian syukur para Suster Murialdine. Ia memberikan jiwanya kepada Allah sebagai tanda awal karyanya di surga. “Ia menjadi ayah sejati sekaligus malaikat pelindung banyak jiwa yang hilang,” ungkap Sr Mathildis CSI.

Kemesraannya dengan Tuhan lewat hidup rohaninya membuat Keuskupan Caxias do Sul pada 9 September 2001- 18 Oktober 2003 memulai proses beatifikasinya. Paus Fransiskus mengesahkan keputusan beatifikasi Pastor Giovanni pada 14 Desember 2015. Pada 28 Oktober 2017, Pastor Giovanni dan Sr Fazenda Souza CSI dibeatifikasi di Keuskupan Caxias do Sul oleh Prefek Penggelaran Kudus Vatikan Kardinal Angelo Amato SDB.

Proses beatifikasi ini berjalan cukup singkat setelah Kongregasi Penggelaran Kudus Vatikan dan para teolog menyetujui mukjizat kesembuhan yang dialami oleh Juvelino Cara. Penyakit peritonitis akut ini sembuh berkat doa kepada Pastor Giovanni. Juvelino pernah di rawat berbulan-bulan di rumah sakit, ia dinyatakan sembuh setelah istrinya berdoa kepada Pastor Giovanni. “Kekudusan Pastor Giovanni membuat kita orang beriman zaman ini harus meyakini bahwa berkarya untuk Tuhan tidak ada penyesalan. Kita akan rugi waktu, tenaga, dan materi tetapi Tuhan tidak menutup mata untuk itu. Karena Tuhan bersabda cari dahulu kerajaan Allah maka semuanya akan ditambahkan,” pesan Kardinal Amato dalam Misa beatifikasi.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP NO.48 2018, 2 Desember 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here