Beato Daniel Dajani SJ (1906-1946) : Kemartiran Seorang Rektor Seminari

70
Perarakan gambar para martir Albania saat Misa beatifikasi di Katedral Shën Shtjefnit, Shkodër, Albania.
[acrhivioradiovaticana.va.org]
Beato Daniel Dajani SJ (1906-1946) : Kemartiran Seorang Rektor Seminari
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Saya percaya sejak masa kecil bahwa saya sudah siap mati untuk Gereja. Demikian moto hidup Pastor Daniel Dajani SJ.

Sigurimi, Polisi rahasia Albania, menangkap Fran Gaçi pada Desember 1945. Fran adalah seminaris dari Albania setelah ditangkap, ia disiksa berkali-kali karena menolak melepaskan imannya. Fran mengalami pendarahan di kepala hingga meninggal dunia. Banyak orang Kristen mengutuk aksi keji oleh tentara bayaran ini. Mereka meminta pemerintah bertanggungjawab terhadap kematian Fran. Tetapi pemerintah seperti tinggal diam.

Kematian Fran mendatangkan duka yang mendalam bagi Pastor Daniel Dajani SJ, rektor seminari dimana Fran belajar. Bersama Wakil Provinsial Jesuit Albania Pastor Giovanni Faust SJ mereka merayakan Misa Requiem di tempat kelahiran Fran. Dalam khotbahnya, Pastor Daniel mengecam rezim komunis Albania yang didirikan oleh Enver Hoxha (1908-1948), pemimpin Partai Buruh Albania.

Pastor Daniel mengatakan secara terbuka, bahwa Agama Kristen bukan “racun” bagi Albania. Kristen adalah agama kasih tanpa peperangan. Ia mengingatkan Hoxha dan pengikutnya, bahwa membunuh orang apapun alasannya adalah kejahatan kemanusiaan.

Ketegasan Pastor Daniel ini mengundang simpati umat, meskipun karena kritik ini juga, ia akhirnya masuk dalam intaian Sigurimi. Sejak itu, nyawa Pastor Daniel berada dalam bahaya.

Rektor Seminari
Daniel lahir pada 2 Desember 1906 di Blinisht, di dataran Zadrine, tenggara Shkoder di Albania. Pada usia dua belas tahun, ia memasuki Seminari Kepausan Scutari, yang kelola para imam Serikat Yesus (Societas Iesu/SJ). Saat usianya 20 tahun, pada tanggal 8 Juli 1926, ia mulai masa Novisiat di Gorizia. Setelahnya, ia lalu melanjutkan studi filsafat dan teologi di Seminari Tinggi Jesuit di Chieri, Torino dari tahun 1931-1933.

Fr Daniel sempat mengajar di Seminari Shkoder antara tahun 1934-1935 sebelum ia kembali ke Chieri untuk melanjutkan belajar teologi antara tahun 1937-1939. Setahun sebelum studi teologinya berakhir, ia menerima tahbisan imamat pada 15 Juli 1938.

Sebagai imam muda, Pastor Daniel mendapat tugas sebagai rektor Seminari Albania. Ia menjadi imam di Albania saat negara ini baru lepas dari rezim Hitler.

Usai Perang Dunia II (1939-1945) Albania dicaplok Italia (1939-1942) dan kemudian Jerman (1943-1944). Setelah perang berakhir, Hoxha mengatur perlindungan integritas wilayah Albania tapi dengan mengorbankan rakyat. Hoxha juga yang mengubah bentuk negara dari republik menjadi komunis. Di kemudian hari bentuk ini berubah lagi menjadi Republik Rakyat Sosialis Albania tahun 1976-1991. Republik ini menganut paham hoxaisme dan komunisme.

Hoxha juga menolak praktik keagamaan. Setiap pastor ditangkap dan dipenjarakan. Albania pun setia pada Filsafat Stalinis (Josep Stalin), yaitu membangun sosialisme dalam masyarakat komunis (kemudian menjadi paham dasar Hoxaisme). Pembersihan besar-besaran terhadap para pelayan pastoral terjadi. Komunisme menghasilkan otoritarianisme dan industrialisasi yang begitu cepat.

Rakyat Albania hidup dalam lingkaran setan hoxaisme. Garda revolusi dari masyarakat akar rumput terus digeliatkan tetapi selalu berakhir dengan kematian. Hoxha menjadi singa yang lapar kekuasaan di Albania.

Pastor Daniel menyaksikan Hoxha tidak memandang martabat manusia sebagai suatu yang luhur. Ia menentang paham baru ini dengan cara yang halus. Sebaliknya, Hoxha terlalu takut kehilangan kekuasaan. Akibatnya, Hoxha memutuskan harapan hidup banyak orang. Tindakan yang dihadapi dengan sikap pasrah oleh rakyat, mereka hanya menunggu kapan dideportasi atau dibunuh.

Pastor Daniel melanjutkan kritiknya kepada Hoxha yang menindas rakyat kecil. Rakyat ditindas dan dirampas hak sipil dan politiknya. Kaum sipil dilarang taat pada agama tertentu. Tak ayal, hal ini berujung pada isolasi kepada mereka yang menolak taat. Banyak orang dipaksa menjadi ateis. Sementara itu, banyak tempat ibadah, seminari, dan biara dikuasai Hoxha.

Revolusi kaum kecil melawan komunisme pun bergulir dengan pendampingan dari Pastor Daniel. Ia pun berani berteriak dari altar ke altar untuk melawan kebijakan Hoxha. Ia berpandangan, bahwa Hoxha adalah virus bagi masyarakat Albania.

Puncak kemarahan Pastor Daniel adalah ketika Fran ditangkap dan disiksa secara keji. Ia bahkan berbicara secara lantang di atas mimbar. Ia seakan memberikan dirinya kepada Hoxha. Boleh jadi dengan cara ini, Albania dapat terbebas dari komunis. “Saya akan mengikuti Fran. Saya bersedia memberi diri agar Albania aman dan umat bebes beragama,” ungkap Daniel dalam kotbahnya.

Martir “Sampah”
Khotbah-khotbah Pastor Daniel yang berupa sindiran ini membuat Hoxha naik pitam. Bagi Hoxha, kejadian buruk di Albania akibat ulah Fransiskan dan Jesuit. Ia bahkan terang-terangan meminta dua tarekat ini untuk angkat kaki dari Albania. Tetapi, banyak imam menolak hal ini, termasuk Daniel.

Di jalan pulang usai merayakan Misa Requiem Fran, Pastor Daniel ditangkap bersama Pastor Giovanni Fausti pada 31 Desember 1945 lalu dijebloskan ke penjara selama beberapa bulan.

Pada 22 Februari 1946, delapan orang dijatuhi hukuman mati. Mereka adalah Pastor Daniel SJ, Pastor Fausti SJ, Pastor Gjon Shllaku OFM, Mark Cuni (Seminaris), Fr Gjergj Bici SJ, dan tiga awam yaitu Gjelosh Lulashi, Qerim Sadiku, serta Gjon Vata. Untuk Gjergj Bici, hukuman itu kemudian diubah menjadi kerja paksa bertahun-tahun. Sementara seorang awam lain bernama Fran Mirakaj dilaporkan meninggal pada September 1946 dalam penjara.

Pada tanggal 4 Maret 1946, tepat jam 6:00 pagi hari, delapan orang ini dihukum mati ditempat pembuangan sampah dekat sebuah pemakaman di luar Kota Shkodrë. Para pahlawan iman ini dibunuh dengan tuduhan menjadi “mata-mata” Vatikan di Albania. Saat ditemukan, jenazah delapan martir ini tampak terbaring dengan saling berpegangan tangan.

Jesuit Sejati
Pastor Daniel adalah seorang Jesuit sejati. Ia tidak takut mati ketika banyak umat memintanya untuk melarikan diri. Ia tidak keberatan dengan tuduhan yang memberatkan yaitu sebagai mata-mata Vatikan. Ia bahkan meminta dirinya dihukum, asalkan para seminaris bisa dibebaskan.

Ia berjuang bagi Gereja bukan saja pada saat dirinya menjadi imam. Ketika masuk seminari menengah milik Serikat Yesus pada 1918, dan melanjutkan ke novisiat Serikat Yesus di Gorizia, Italia tahun 1926, ia sudah menunjukkan kedisiplinan hidup rohani. “Saya percaya sejak masa kecil saya sudah siap mati untuk Gereja.”

Kekuatan iman Pastor Daniel juga ditunjukkan saat ditahbiskan. Di tengah berkecamuknya Perang Dunia II pada tahun 1940, ia menerima tugas di tanah kelahirannya Albania. Selama menjadi rektor seminari, ia sangat memperhatikan kedalaman hidup rohani para seminaris. Dialog dari hati ke hati menjadi model pastoral antara pembimbing dan subjek bina. Ia menerapkan konseling kasih sebagai awal membangun komunikasi dengan para seminaris.

Belakangan, metode pendidikan di Seminari Serikat Yesus di Shkodrë, diakui menjadi formasi pendidikan yang mengahancurkan paham komunis di negara itu. Para Jesuit muda berkontribusi pada terbentuknya budaya kelas penguasa negara, terutama di daerah Utara Albania. Kehadiran Jesuit di Albania melemahkan misi Hoxha untuk mendapatkan kedudukan dan perluasan wilayah.

Paus Fransiskus sendiri menilai, kematian para martir ini adalah tanda Allah bekerja. Kematian para martir Albania menjelaskan, bahwa kekejaman adalah buah dari sifat manusia yang haus akan kekuasaan. Kardinal Angelo Amato SDB memimpin Misa beatifikasi martir Albania di Katedral Shën Shtjefnit, Shkodër, Albania pada 5 November 2016. Pastor Daniel menjadi satu diantara beberapa orang kudus yang dibeatifikasi saat itu. Pastor Daniel dikenang bersama 35 Martir Albania lainnya setiap 5 November.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP NO.49 2018, 9 Desember 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here