Pastor Hadrianus Wardjito SCJ : Gereja Tidak Boleh Diskriminatif

518
Mami Yuli (tengah) bersama penari dan penyanyi transpuan saat diundang dalam acara Natal bersama orang muda Paroki St Stefanus Cilandak.
[NN/Dok.Pribadi]
Pastor Hadrianus Wardjito SCJ : Gereja Tidak Boleh Diskriminatif
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Sebagai umat Allah, kaum transpuan, punya hak seperti umat lain: mendapat perhatian dan perlindungan.

Namanya disebut beberapa kali saat bertemu dan mewawancarai Ketua Forum Komunikasi Waria se-Indonesia, Yulianus Rettoblaut. Mami Yuli, sapaannya, mengatakan, Romo Wardjito-lah yang menggerakan hatinya untuk kembali ke Gereja dan perlahan-lahan meninggalkan “aktivitas malam” di wilayah Taman Lawang, Menteng, Jakarta Pusat.

Sang imam itu pulalah, lanjut Mami Yuli, yang membantunya bangkit dari keterpurukan hingga mampu memperjuangkan kaumnya hingga kini. Berikut nukilan wawancara dengan Romo Wardjito, mantan Kepala Paroki St Stefanus Cilandak, Keuskupan Agung Jakarta, yang sedang berada di Wamena, Papua dalam misi tarekatnya. Wawancara dengan Romo Wardjito berlangsung lewat aplikasi WhatsApp, Selasa, 11/12.

Dalam wawancara dengan Mami Yuli, ia beberapa kali menyebut nama Romo berperan dalam pertobatannya. Apa yang Romo sampaikan? Boleh diceritakan peristiwa tersebut?

Pastoral konseling merupakan salah satu “pintu masuk” bagi setiap orang yang ingin berjumpa dengan gembalanya. Yah, seperti Nikodemus yang malam-malam ingin berjumpa dengan Yesus untuk mendialogkan kegelisahannya (Yoh. 3:1-21).

Tim Konseling Paroki St Stefanus Cilandak waktu itu (2004-2008) berfungsi secara baik. Pastor, frater, dan beberapa konselor awam, mempunyai jadwal untuk menerima siapa saja, tanpa kecuali, yang ingin berkonsultasi. Pada kesempatan seperti itulah Yulianus atau Mami Yuli datang ke gereja dan berkonsultasi.

Apa saja yang kami bicarakan? Terkait hal itu saya tak bisa memberitahu. Berdasarkan kode etik dalam berkonsultasi, persoalkan-persoalan klien tidak bisa dipublikasikan, persis seperti orang yang mengaku dosa.

Bagi saya, saat itu adalah “waktu Allah” untuk setiap pribadi di dalam mendaur ulang hidupnya, dalam proses pertobatan, dalam meneguhkan arah hidupnya, dan sebagainya. Hingga sekarang, tahun 2018, Mami Yulianus rupanya masih menyimpan memori konsultasi kala itu dalam pribadinya. Puji Tuhan.

Tak hanya memberi nasihat, paroki yang Romo gembalai waktu itu juga memberikan perhatian kepada Mami Yuli dan komunitasnya. Apa yang menggerakan Romo?

Antropologi Kristiani yang diusung Tuhan seperti tertulis dalam Kitab Ulangan (Ul. 6:5) dan dimantapkan di dalam Injil, memimpin klien untuk bertumbuh dan berkembang secara holistik. Apa itu? “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Mrk. 12:30).

Siapapun itu, entah klien itu laki-laki, perempuan, transpuan, anak-anak, istri, suami, janda, atau duda adalah pribadi (person) yang berhati, berjiwa, berakal budi, bertenaga, dan berotot. Sebagai bagian umat Allah, kita tidak bisa membeda-bedakan atau bahkan mereduksi seorang pribadi klien dari aspek fisik, jenis kelamin, dan sebagainya.

Gereja tidak boleh diskriminatif. Melalui teladan Yesus sebagai Nabi, Imam dan Gembala, Gereja mesti terbuka kepada siapapun. Melalui para gembala paroki, bersama tim, Dewan Paroki, kebaikan hati Allah mesti diwujudnyatakan.

Fasilitas material, finansial, jejaring sosial seorang klien seperti Mami Yuli bersama komunitasnya tidak mesti dihalang-halangi. Di Keuskupan Agung Jakarta, setiap pastor paroki mengetahui, 20 persen dari intensi Misa merupakan Dana untuk Orang Miskin (DOM). Dana tersebut tak tepat bila disimpan atau bahkan didepositokan di bank. Terkait hal itu, Mami Yuli dan komunitasnya berhak untuk mendapatkan bantuan material, finansial, serta tempat untuk karya positif mereka. Apakah itu semua perlu dipublikasikan? Saya rasa tak perlu.

Apakah terjadi pro-kontra di umat atau Dewan Paroki soal perhatian Gereja untuk Mami Yuli dan komunitasnya?

Kadang, yang bersifat rahasia, anggota dewan paroki tak perlu dimintai posisinya. Misal, suatu kali, Paroki Cilandak mengadakan pertandingan olahraga. Lalu, tiba-tiba kami mengajak komunitas transpuan untuk ikut pertandingan voli.

Kejutan seperti ini sungguh indah pada waktunya. Bukan ribut penuh dengan konflik yang dimunculkan sebelum peristiwa terjadi. Saat sudah siap untuk mempergunakan fasilitas yang dimiliki oleh paroki, tetapi tiba-tiba ditolak oleh lingkungan masyarakat, pintar-pintarlah memberikan perlindungan atau hiburan rohani kepada Mama Yuli dan komunitasnya.

Hal itu pernah terjadi ketika hendak memakai fasilitas umum milik masyarakat Kecamatan Cilandak Barat dan Paroki Cilandak lewat saya siap meminjamkan tikar, tetapi tiba-tiba terjadi penolakan oleh sekelompok oknum masyarakat. Kami dari paroki memberikan perlindungan secara bijak dan “rahasia” seperti Yahwe memberikan perlindungan kepada Umat-Nya. “Sebab, Engkaulah Allah tempat pengungsianku. Mengapa Engkau membuang aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh?” (Mzm 43:2).

Apa saja yang dibuat paroki untuk Mami Yuli bersama komunitasnya? Apakah ada pengalaman berkesan selama berinteraksi dan mendampingi mereka?

Selain yang sudah saya sebutkan, hal lain adalah konseling. Pada kesempatan tersebut, Mami Yuli membagikan pengalamannya sebagai “presiden” kaumnya, cita-citanya untuk menyelesaikan studi hukum, dan memperjuangkan HAM anggota komunitasnya di DPR.

Dari Mami Yuli, kami juga mengetahui berbagai masalah yang dihadapi komunitasnya. Dari situ paling tidak kami bisa memberi dukungan rohani, mendoakan, sehingga meringankan beban persoalan yang mereka hadapi. Ketika Mami Yuli ke gereja, kami menyapa dan melirik dengan bola mata nan sejuk.

Belum banyak komunitas atau paroki berpastoral kepada kaum transpuan. Pun, kalau ada gerakan mereka tertutup karena berbagai alasan, salah satunya keamanan. Mengapa Romo dan paroki justru amat terbuka terhadap mereka?

Saat ini saya tak lagi berkarya di Paroki Cilandak. Sehingga saya tak bisa menjamin praksis pastoral seperti ini diteruskan atau tidak. Ini bagian dari seni berpastoral yang bercorak individual, yaitu melalui perjumpaan interpersonal kehendak penyelamatan Allah kita wujudnyatakan.

Tuhan Yesus memakai berbagai macam jurus untuk mewujudnyatakan karya keselamatan Allah Bapa, termasuk membiarkan Diri-Nya disentuh oleh seorang wanita yang telah bertahun-tahun sakit. Di Gereja St Stefanus Cilandak orang bisa berdoa dengan menjamah tabernakel Kristus. Ini sungguh indah.

Terkait Natal, apa pesan Romo kepada kami berhadapan dengan komunitas transpuan?

Yesus datang untuk seluruh umat manusia dan menghendaki Injil-Nya diwartakan kepada segala makhluk. Jadi, kita tidak bisa jaim (jaga image) dan menjadi eksklusif terhadap yang ditolak oleh masyarakat. Dia adalah Emmanuel, termasuk kaum transpuan, yang berhati, berjiwa, berakal budi, dan bertenaga.

Yanuari Marwanto

HIDUP NO.51 2018, 23 Desember 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here