Harmoni Sosial di Purwokerto

44
WKRI Cabang Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto bersama masyarakat lintas agama dalam kegiatan Hari Amal Bakti. [Dok. Pribadi]
Harmoni Sosial di Purwokerto
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.COM –  Di Keuskupan Purwokerto semangat persatuan terus digaungkan. Saat Hari Amal Bakti, berbagai masyarakat lintas agama ikut merayakan.

BANYAK cara membangun persatuan dan kesatuan. Salah satu contohnya ditunjukkan Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto terlibat dalam Jalan Sehat Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama Indonesia ke-73, di Purwokerto, Sabtu, 19/1. 

Pada kesempatan ini, WKRI Purwokerto bergabung bersama ratusan umat beragama lain, organisasi kemasyarakatan, kepala daerah, dan tokoh-tokoh agama. Kegiatan ini dilaksanakan berdasarkan surat edaran Kementerian Agama Republik Indonesia nomor 8499/SJ/B.VIII/ HM.03/12/2018.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam surat edaran itu meminta kepada seluruh lapisan masyarakat untuk mencintai perbedaan. Lukman mengingatkan masyarakat, agar terus bersukacita tetapi harus bersukacita dalam kesederhanaan, keprihatinan, dan kepeduliaan terhadap saudara-saudari yang terkena musibah bencana alam di wilayah Lombok, Palu, Banten, dan Lampung.

Lukman pun berpesan agar perasaan antar umat beragama menjadi pola hidup masyarakat Indonesia. Salah satu poin dari enam sasaran strategis program Kementerian Agama yakni meningkatkan kualitas kehidupan umat beragama, dan harmoni sosial dan kerukunan.

Dari sasaran ini, Lukman meminta kepada setiap tokoh agama pun pemerintah untuk terus menyuarakan persatuan. “Rasa persatuan itu harus dijaga sampai mati. Kita berbeda bukan karena keinginan kita tetapi rahmat Tuhan. Perbedaan itu harus menjadi tolak ukur kemajuan sebuah bangsa,” pesannya.

Tak lupa Lukman meminta agar perbedaan-perbedaan politik hendaknya tidak membuat semangat melayani dari pemerintah berkurang. Ia meminta agar aparatur negara khususnya staf Kementerian Agama di daerah-daerah melayani dengan tulus tanpa melihat perbedaan suku, agama, dan ras.

Ia juga meminta agar melayani bukan karena digaji tetapi karena terpanggil sebagai pelayan yang rendah hati. Selain jalan sehat ada juga aneka kegiatan seperti bakti sosial, olahraga, kesenian, dan hiburan. Banyak dari tokoh agama, organisasi Katolik, serta Orang Muda Katolik (OMK) yang terlibat dalam kegiatan ini.

Ketua WKRI DPC Katedral Dyah Purbasari menjelaskan bahwa hubungan antar umat beragama itu harus terus digaungkan, mengingat begitu banyak prasangka buruk antar umat beragama terjadi akhir-akhir ini.

“Kita semua menyebut diri orang beragama tetapi kadang tidak mampu memposisikan diri ketika berhadapan dengan perbedaan agama, suku, dan bahasa. Maka WKRI terlibat karena harus menjadi corong persatuan bagi masyarakat sekaligus menjadi ikon perdamaian dan kasih sebagaimana ajaran Kristus di tengah masyarakat,” jelas Dyah.

Sementara itu, Agustinus Angga, Orang Muda Katolik dari Paroki Katedral Purwokerto mengatakan, saat ini Gereja Purwokerto selalu mendukung orang muda agar terlibat dalam dialog antar umat beragama. Orang muda, kata Angga, harus menjadi garda depan Gereja dalam banyak hal termasuk usaha untuk meredam aksi intoleransi.

Angga juga mengatakan, bahwa memasuki tahun politik 2019, di banyak daerah mulai terjadi pengkotak-kotakkan, sehingga politik yang sehat dan bermartabat tidak lagi menjadi simbol dalam kehidupan demokrasi. Sangat disayangkan bahwa terkadang demi kedudukan, orang berani melakukan apa saja termasuk hoax.

“Karena itu kegiatan jalan sehat antar umat beragama ini kiranya menjadi satu dari sekian kegiatan yang bisa dilakukan,” ujar Angga. Acara yang diawali pertunjukkan barongsai dari Klenteng Hok Tek Bio ini dibuka secara resmi oleh Bupati Banyumas H. Achmad Husein. Di akhir acara ada pengundian doorprize dengan hadiah utama satu unit sepeda motor.

“Indonesia itu tidak pernah bermasalah soal toleransi. Indonesia tidak pernah tercatat sejak kemerdekaan sebagai negara anarkis. Kita generasi sekarang setelah mengenal politik, terkontaminasi dengan isu SARA, dengan gampang melihat orang lain sebagai musuh. Mari kita jabat tangan saudara-saudara kita berbeda agama dan katakan kita orang Indonesia,” kata Achad di akhir sambutannya.

 

Rahman Dwi Saputra (Purwokerto)
HIDUP NO.4 2019, 27 Januari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here