Kemanusiaan Lebih Penting Dari Politik

363
Kepala Paroki Bunda Teresa Cikarang Pastor Antonius Suhardi Antara, Pr (ketiga dari kanan) berbincang dengan KH. Nurul Huda (pengasuh Pesantren Motivasi Indonesia) sekaligus silaturahim dengan para tokoh lintas agama dalam acara Haul Gus Dur ke-9. [HIDUP/Antonius Bilandoro]
Kemanusiaan Lebih Penting Dari Politik
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.COM – Nabi Muhammad SAW pernah ditanya oleh para sahabat, dimana kami bisa mendapati Allah? Lalu Nabi menjawab, engkau bisa mendapati / menemukan Allah di hati mereka yang terluka oleh kezaliman, kelaparan, kemiskinan, sehingga bila engkau mau berjumpa dengan Tuhan, jumpai dan layani kemanusiaan.

Kisah diatas dituturkan oleh KH. Nurul Huda dalam acara memperingati wafatnya K. H. Abdurrahman Wahid (Presiden Indonesia keempat, 1999-2001) atau lebih dikenal dengan nama Gus Dur di tahun ke-9 pada Senin, 7/1/2019, di Pesantren Motivasi Indonesia yang ia kelola di Desa Burangkeng, Kecamatan Setu, Bekasi, Jawa Barat.

Ayah Enha, sapaan akrabnya berharap, melalui acara haul Gus Dur ke-9 yang bertema “Yang Lebih Penting dari Politik adalah Kemanusiaan”, semakin meluas dan semakin kaya pemikiran umat, dengan merujuk kepada konsep pemikiran Gus Dur yang sangat baik.

Kepala Paroki Bunda Teresa Cikarang Pastor Antonius Suhardi Antara, Pr yang turut hadir menyampaikan, dengan bersama-sama kita saling berjumpa lintas agama, meskipun berbeda pandangan, pendapat tetapi tetap satu.

“Masalah perbedaan itu nomor sekian. Yang utama adalah kemanusiaan, bersaudara, sama-sama sebagai makhluk ciptaan Tuhan, mari kita saling menghargai, saling menghormati di atas kepentingan yang lain.”

Kepala Paroki Bunda Teresa Cikarang Pastor Antonius Suhardi Antara memberikan sambutan dalam acara Haul Gus Dur ke-9 di Pesantren Motivasi Indonesia, Desa Burangkeng, Jawa Barat. [HIDUP/Antonius Bilandoro]
Turut hadir dalam acara ini, Albertus Kukuh (Ketua Seksi Hubungan Antar Umat Beragama dan Kemasyarakatan-HAAK), bersama Bala Patria. Turut hadir, Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi Bin Ali Bin Yahya, KH. Mushtofa Aqil Siradj, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan LD PBNU, KH. Agus Salim, Jaringan Gusdurian, dan para tokoh lintas agama.

Michael Sebastian Prihartono, Penggerak GUSDURian dari PKCU (Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama) Bogor, turut berkisah tentang ketawa ala Gus Dur.

Suatu hari Gus Dur didatangi oleh seorang Kyai, lalu curhat. ‘Gus, piye, anak ku ini lo..masuk Kristen. Saya sudah sholat, masih belum juga.’ Gus Dur menjawab, ‘Jangankan sampeyan, Allah itu cuma punya anak satu, itu juga masuk Katolik’.”

Kerinduan masyarakat umum yang memiliki kecintaan dan pengaruh atas pemikiran Gus Dur pun semakin melebur dalam kebersamaan. Seiring lantunan syair Habul Waton Minal Iman (cinta tanah air itu sebagian dari iman) dishalawatkan bersama dalam bahasa Jawa dan irama kasidahan.

Antonius Bilandoro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here