Bangun Keluarga Cerdas Bergawai

73
Dosen Fakultas Psikologi,Yohana Ratrin Hertyanti, menyampaikan materi keluarga cerdas bergawai. [HIDUP/Lolita Sianipar]
Bangun Keluarga Cerdas Bergawai
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.COM – Perkembangan teknologi adalah sebuah keniscayaan. Orangtua zaman kini harus bijak menyingkapi.

TEKNOLOGI saat ini sudah berkembang pesat apalagi dengan maraknya kehadiran gadget atau gawai di masyarakat, terutama di tengah keluarga. Di dalam lingkaran sosial terkecil itu banyak dampak yang dihasilkan oleh penggunaan alat komunikasi tersebut.

Pengaruh gawai bagi keluarga itulah, seperti yang disampaikan oleh ketua panitia acara, Ferry Kasih, yang melatari SDK Sang Timur menggelar talkshow Keluarga Cerdas Gawai, di Aula SMAK Sang Timur, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu, 19/1.

Kegiatan tersebut, kata Ferry, hasil kerja sama dengan Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya Jakarta, Seksi Kerasulan Keluarga, dan Komunitas Marriage Encounter Paroki Maria Bunda Karmel Tomang, Keuskupan Agung Jakarta.

Keluarga, dalam hal ini orangtua sebagai pendidik pertama dan utama buah hati, saran Yohana Ratrin Hertyanti menambahkan, harus terlebih dulu mengenal karakter anak dan lingkungan, serta memahami kematangan dan kesiapan anak sebelum bergawai.

“Setiap karakter anak berbeda-beda. Maka selaku orang tua harus memahami karakter anak terlebih dulu, apakah anak sudah siap untuk menggunakan gadget atau belum,” tekan dosen Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, ini.

Sementara Oktavianus dan Margaretha dari Komunitas Marriage Encounter, menceritakan soal dampak negatif gawai. Mereka bilang, lantaran kerap bermain gawai, anak sulung tak naik kelas. “Anak pertama, kelas II SMA, tak naik kelas karena bermain gadget dan tak pernah belajar,” kenang mereka.

Pengalaman hampir serupa juga dialami Gunadi. Gawai pada dasarnya hanya sebuah alat atau sarana. Pengaruh positif atau negatif dari produk kemajuan teknologi ini bergantung pada cara orang menggunakannya. Karena itu, menurut konselor keluarga, Maria Theresia Widyastuti, buruk ­baik sepenuhnya bermuara kepada pemahaman dan kebijakan manusia dalam memanfaatkan benda tersebut.

“Orangtua harus mengantarkan anak dalam bergawai, bukan menjadi user melainkan menjadi kreator teknologi dan bidang lain,” ujarnya. Wiwid, demikian panggilannya, berpesan kepada orangtua. Pada zaman yang serba digital seperti sekarang, tak hanya menuntut anak untuk belajar.

Orangtua juga harus belajar dan berbenah diri. “Kita (orangtua) harus berubah dan kreatif. Jadi, bukan menolak teknologi, tapi bagaimana kita harus belajar sebagai orangtua (yang hidup pada era digital seperti sekarang),” pesannya.


Lolita Sianipar

HIDUP NO.05 2019, 3 Februari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here