Trauma Lantaran Pernah Dicabuli

109
Trauma Lantaran Pernah Dicabuli
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pengasuh yang baik, waktu berumur 12 tahun, saya dicabuli oleh tetangga saya. Orangtua saya terlalu sibuk sehingga pada usia itu saya sudah ditinggal sendiri di rumah. Saya merahasiakan hal itu sampai sekarang. Sejak kejadian tersebut, saya banyak berubah. Saya jadi anak pendiam, lekas emosi setiap berbicara kepada ayah saya. Saya juga takut ke kamar mandi umum (karena kejadian itu di kamar mandi).

Setiap kali mengingat peristiwa kelam itu, saya mulai menyakiti diri sendiri. Saya suka menyayati lengan, bibir, punggung, dan menonjok pipi sendiri hingga bengkak. Saya semakin putus asa. Saya kerap mengurung diri di kamar dan menangis. Saya sudah mencoba berbagai hal untuk berhenti menyakiti diri sendiri, tapi tak selalu berhasil. Kejadian masa lalu pun terus menghantui diri saya. Hidup saya hancur. Mohon doa dan saran Pengasuh.

YHW, Bogor

Saya ikut merasakan dan bersedih atas peristiwa yang menimpa Anda ketika berusia 12 tahun. Dalam usia semuda itu Anda telah mengalami kejadian “luar biasa”. Peristiwa semacam ini memang kadang terjadi di masyarakat dan menimpa berbagai kalangan. Si pelaku juga sering kali adalah orang yang dekat dengan korban.

Berdasarkan penuturan dan gejala yang Anda utarakan, dapat dipastikan bahwa Anda mengalami trauma psikologis. Trauma semacam ini akan membekas amat lama, bahkan seumur hidup bila tak ditangani secara baik. Karena itu, saya sarankan sebaiknya Anda menemui psikoterapis, terutama yang menguasai trauma healing untuk mendapatkan pendampingan psikososial.

Sebelum menemui psikoterapis, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk meringankan dampak trauma tersebut (semacam pertolongan pertama). Hentikan menyalahkan diri sendiri atau orangtua atas peristiwa tersebut. Peristiwa semacam ini terjadi bukan semata-mata kesalahan anda. Karena itu, bila ada perasaan bersalah atas kejadian tersebut, hilangkanlah perasaan bersalah tersebut, sehingga Anda tak merasa butuh untuk menghukum dengan menyakiti diri sendiri.

Hal lain yang juga penting, jangan merasa diri “kotor” atau “ternoda” karena kejadian tersebut. Peristiwa semacam itu terjadi bukan atas kehendak Anda, sehingga bukan menjadi dosa Anda.

Anda juga perlu mengusahakan untuk tak menyalahkan orangtua yang saat kejadian tak berada di rumah. Orangtua tak menyadari bahwa dengan meninggalkan Anda sendirian di rumah menyebabkan peristiwa tersebut. Mereka berpikir dengan berada di rumah, Anda berada di lingkungan aman. Berhenti menyalahkan orangtua, akan mengurangi “kemarahan” Anda dan bisa berdamai dengan mereka.

Sebaiknya Anda juga mencari waktu untuk menceritakan peristiwa tersebut kepada orangtua, supaya mereka tahu peristiwa yang Anda alami. Dengan menceritakan peristiwa tersebut kepada orangtua akan mengurangi beban rahasia yang harus Anda simpan dan melepas emosi negatif yang selama ini ditekan.

Meski ini sulit tapi berusahalah sebisa mungkin untuk memaafkan si pelaku. Hal ini perlu untuk mengurangi beban hati, supaya tak selalu merasa tersakiti bila teringat kepada pelaku atau melihat atau bertemu bertemu dengannya. Tetap beraktivitas dan bergaul dengan teman sebaya, supaya tak terlalu teringat pada peristiwa tak menyenangkan tersebut. Dengan beragam aktivitas dengan banyak orang ingatan akan peristiwa tersebut akan lebih jarang muncul.

Beberapa hal yang sudah saya sebutkan tadi bisa Anda coba, semoga berhasil mengurangi beban berat yang selama ini Anda tanggung sendiri. Meskipun Anda sudah mencoba untuk mengatasi dengan beberapa petunjuk tadi, saya tetap menyarankan untuk menjalani upaya terapi seperti yang saya utarakan pada awal tulisan ini agar penyembuhan bisa lebih baik.

Drs George Hardjanta MSi

HIDUP NO.01 2019, 6 Januari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here