Awam dengan Spiritualitas Religius

36
Kaul: Suasana penerimaan kaul Ordo Karmelit Sekuler.
[NN/Dok.OKS]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Meski berkeluarga, mereka berhimpun dalam tarekat religius. Mereka jadi lebih mengenal diri sendiri dan peka terhadap sesama.

Saat mulai kuliah pada 1986, Johanes Eka Priyatma jatuh hati pada Christian life Community (CLC). Bermula dari ajakan seorang teman, tanpa banyak pertimbangan Eka langsung sepakat bergabung dalam CLC. Dalam kelompok ini, ia menemukan banyak nilai kehidupan yang membuatnya kian berkembang.

“Di Komunitas CLC, saya mengenal diri saya secara lebih baik. Saya juga bela jar menjadi seorang pemimpin, karena saya sering mendapat kepercayaan untuk memimpin,” ungkap pria kelahiran Sukoharjo, 20 Oktober 1963, yang kini menjadi Rektor Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini.

Di CLC, Eka pernah menjabat sebagai Ketua Kelompok, Ketua Rayon, Ketua Regional Yogyakarta, bahkan Ketua Nasional. Ia sempat terlibat dalam Sidang Umum Dunia di Hong Kong, tahun 1994. Cukup lama Eka bergabung sebagai anggota aktif CLC, hingga tahun 2002, saat ia harus studi ke Malaysia.

Meski Eka tidak menjadi anggota aktif lagi, pengalaman dan pelajaran yang telah ia timba saat menjadi anggota aktif, menjadi bekal dan pedoman kesehariannya. Hingga kini, Eka masih mengikuti beberapa kegiatan CLC, di antaranya aktif dalam milis CLC. Dalam keseharian, ia masih menghidupi spiritualitas CLC. Bahkan saat di Filipina (1991-1993), Eka sempat menjadi anggota CLC setempat.

Lebih Dalam
Pengalaman serupa dialami oleh Ernest Maryanto. Ia terpikat pada Persaudaraan Fransiskan Awam atau Ordo Fransiskan Sekuler (OFS) karena mendengar “promosi” seorang pastor paroki.

Dalam perjalanan waktu, pria kelahiran Banyuwangi 14 Oktober 1948 ini tertarik pada OFS. “Karena OFS sungguh-sungguh menawarkan nilai-nilai konkret kepada para anggotanya. Misalnya, peduli terhadap orang miskin, mengikuti ibadat harian gereja, dll.” Hal lain yang membuat Ernest tak bisa berpaling dari Komunitas OFS adalah ajakan untuk mendalami dan menghayati Injil secara konsisten, seturut teladan Santo Fransiskus Assisi.

Yonata Maria Laksmi Budilestari (Maike) bergabung dengan Karmelit Awam atau yang disebut sebagai Ordo Awam dengan Spiritualitas Religius Karmel Sekular, karena relasinya dengan banyak frater Karmelit. ”Teman-teman frater Karmelit berbagi banyak cerita tentang Karmel,” kenang ibu tiga anak ini. Selain itu, ada dorongan yang kuat di dalam dirinya, ingin mengenal Karmel lebih jauh.

Kekuatan Spiritualitas
Maike mengakui, menjadi anggota Komunitas Karmelit Awam, menguatkan dirinya dan keluarga “Tahun 2004, usaha kami bangkrut sehingga kami berhutang ratusan juta rupiah,” ujarnya.

Namun, Maike dan keluarganya tidak menyerah. “Kami persembahkan persoalan ini kepada Tuhan Yesus.Kami terus berdoa sehingga kami kuat menghadapinya,” kenangnya.

Kekuatan itu terasa karena Maike selalu ingat akan pesan St Yohanes Salib, orang kudus Karmel, yang mengajarkan bahwa semakin kita menderita semakin kita merasakan cinta Allah. “Melalui penderitaan, kami sungguh mengalami cinta Allah.”

Dalam Regula Karmelit Awam § 48 dikatakan bahwa Karmelit Awam harus melalui padang gurun kehidupan supaya dapat menemukan Wajah Allah. “Inilah padang gurun kehidupan yang harus kami jalani bersama Yesus dan Maria Bunda Karmel,” tegasnya. Berkat keyakinan teguh pada Allah, akhirnya keluarga Maike merasakan kebaikan Tuhan.

”Syukur kepada Allah, perekonomian keluarga kami dipulihkan setahap demi setahap. Kami sungguh percaya, penderitaan ini diizinkan Tuhan untuk kebaikan iman kami. Inilah kekayaan spiritualitas Karmel yang sungguh membuat kami kuat dan semakin mengalami cinta Allah,” lanjut Maike.

Menurut Johanes Eka Priyatma, melalui semangat dan spiritualitas St Ignatius dalam latihan rohani, ia menimba nilai-nilai keutamaan. “Spiritualitas St Ignatius menjadi sumber keutamaan dalam hidup saya,” tambah Eka.

Ia menjelaskan, anggota CLC selalu di arahkan dan dibimbing supaya dalam doa, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari dapat menemukan Tuhan. Selain itu, anggota CLC diharapkan tidak kaku pada rutinitas hidupnya. Anggota CLC juga dilatih untuk berorientasi lebih memuliakan Tuhan. “Saat kita terbuka, tidak kaku pada hidup, rahmat Tuhan yang sebenarnya bisa kita terima,” kata nya.

Eka mengakui, secara personal, latihan rohani membantunya mengenal diri secara lebih baik. “Perjuangan kesana tidak ringan, mengenali diri sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangan bukanlah sesuatu yang mudah,” tandasnya.

Sebenarnya, lanjut Eka, anggota CLC ingin mempunyai waktu yang cukup seperti para Yesuit yang rutin melakukan latihan rohani. “Di situlah salah satu tantangannya, karena kami menjadi anggota CLC di tengah kesibukan sebagai awam,” imbuhnya.

Sebagai orang desa yang studi di kota, Eka pernah kurang percaya diri. Ia sempat minder, bahkan stres. Sejak bergabung dengan CLC, saat kuliah di semester dua, ia mulai berubah, karena di CLC ia belajar mengenali diri dan potensinya, dibantu teman-teman CLC yang sudah seperti saudara.

Ayah dua anak ini menambahkan bahwa yang diarah oleh CLC bukan menjadi bahagia atau dewasa secara personal, namun menjadi rasul awam. “Setelah mencapai kesadaran bahwa kita ini orang berdosa tapi dicintai Tuhan, lalu kita mau berbuat apa?” paparnya.

Ernes Maryanto mengungkapkan perjumpaannya dengan anak-anak pemulung di Kampung Lio, Depok Baru, menjadi pengalaman persaudaraan yang sangat istimewa dalam hidupnya. “Kami berbagi cerita dan juga kebutuhan-kebutuhan harian mereka, seperti tas sekolah, buku, dll,” kenang Ernest.

Ernest merasa tidak ada sekat agama atau status di antara mereka. “Anak-anak melihat kami seperti orangtuanya sendiri, demikian pula kami melihat mereka seperti anak-anak kami sendiri.”

Saat mulai bergabung dengan Ordo Fransiskan Sekuler (OFS), Ernest merasakan besarnya makna persaudaraan, yang merupakan salah satu kekhasan Fransiskan. “Kami dibimbing dan dituntun untuk melihat orang lain sebagai saudara,” ungkap Minister OFS Wilayah Bekasi ini. Keutamaan lainnya, lanjut Ernest, adalah semangat doa yang tinggi dan penghayatan kemiskinan.

Karya Nyata
Johanes Eka Prayatma berharap, ke depan, CLC bisa memiliki karya sosial nyata. Ia telah mencoba mewujudkannya dalam intern kelompok, seperti membuka counter informasi lapangan kerja dan job fair.

Melalui CLC, Eka juga mendampingi wirausahawan seperti peternak lele. Ia juga mendampingi rekoleksi dan retret siswa-siswa terutama dari sekolah negeri. Sementara Ernest Maryanto mengharapkan imannya semakin bertumbuh. “Hal ini tentu dilakukan dengan terus membangun relasi yang intim dengan Allah dalam doa,” lanjut Koordinator Seksi Musik Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Sebagai anggota OFS, Ernest mendapat dukungan penuh dari anak-anaknya. “Mereka selalu hadir dalam acara-acara penting OFS. Misalnya, pada saat saya beralih tahap dari aspiran ke postulan, postulan ke novis, dan novis ke profesi.”

Maike mengharapkan spiritualitas Karmel yang ia timba dapat ia kembangkan dalam kesehariannya; dalam keluarga, pekerjaan, dan paroki. “Setidaknya, saya ingin mengembangkan semangatnya. Karena Karmelit Awam tidak dituntut melakukan pelayanan secara khusus.”

Warga Paroki Maria Bunda Segala Bangsa, Cibubur, Jakarta Timur ini merasakan dukungan anak-anaknya. Mereka bisa memahami ketika dia dan suaminya mengikuti kegiatan Ordo Karmel Awam hampir setiap Minggu.

Norben Syukur
Laporan: Yosephine Ingrid K.D. (Yogyakarta)

HIDUP NO.05 2014, 2 Februari 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here