Krisis Selibat

131
Tahbisan Imam: Para calon imam menyatakan hidup selibat untuk cinta lebih luas melayani komunitas beriman.
[dioscg.org]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Riset yang dilakukan pastor-sosiolog menunjukkan selibat menjadi masalah di Amerika. Kasus-kasus seksual para pastor tidak “terungkap” di Indonesia.

Salah satu hasil dari sebuah riset oleh pastor-sosiolog Andrew Greeley menemukan bahwa hidup wadat menjadi masalah di Amerika Serikat hanya dalam diri para pastor tertahbis yang sudah tidak puas dengan karya pastoralnya.

Orang selibat harus memilih antara dua jalan: secara sadar melibatkan diri dalam proses integratif dan transformatif berkelanjutan, lantas makin lama makin matang dalam relasi dengan dirinya sendiri dan dengan umat lain. Atau ia memilih memasang status selibatnya bagai sebuah label palsu, sebuah kedok belaka, atau sebuah pelecehan religius.

Psikoseksual
Saya sendiri kurang tahu berapa persen dari kami para pastor tertahbis yang sedang menempuh jalan pematangan psikoseksual. Berdasarkan pengalaman lewat aneka acara pastoral/rohani di semua Regio Gerejani di Indonesia, saya menemukan hanya satu keuskupan yang bebas skandal di kalangan imam.

Beberapa tahun lalu, saya diminta oleh seorang Duta Vatikan untuk mengumpulkan kesaksian tertulis perihal pelecehan seksual di seminari-seminari menengah. Akan tetapi, walau sudah banyak kisah yang pernah saya dengar langsung dari sejumlah korban, tak ada satu pun yang siap menandatangani sebuah kesaksian tertulis. Walau trauma awal sudah mereda namun masih tertinggal aneka emosi, seperti rasa sedih, malu, terluka, bersalah, amarah bercampur rasa bingung dan kehilangan, tentu saja rasa amat kecewa.

Saya kurang mengikuti situasi akhir-akhir ini. Jelas, pembinaan di seminari pada segala tingkatnya mesti mendukung proses pematangan kepribadian dan bukan sebaliknya. Boleh jadi, sikap otoriter yang dimiliki sejumlah imam, antara lain, berlandaskan sikap kurang matang secara psikoseksual. Status selibat menjadi kedok, dan di balik topeng ini terselubung seorang manusia yang belum menerima diri sepenuhnya, apalagi menyerahkan seluruh dirinya, apa adanya, ke tangan Tuhan.

Belajar mengasihi
Kita semua – baik umat-awam maupun umat-imam – harus belajar mengasihi, baik hidup berkeluarga maupun hidup lajang. Hidup wadat adalah cara hidup yang amat berharga – sama seperti hidup berkeluarga juga – jika dihayati dengan setia, secara jujur lagi transparan. Kita tak bisa menyembunyikan diri di balik sebuah kedok hirarkis yang mau mengkontrol segalanya, atau di bawah hukum Gereja atau di belakang cita-cita tinggi yang mulia. Pada titik akhir kita bernilai dan bersaksi berbasis keberadaan kita, cara hidup yang tulus.

Setiap kita mesti menghadapi realitas cinta dengan keyakinan bahwa kita saling membutuhkan satu sama lain. Kita mesti tahu diri, sadar diri, dan membebaskan diri dari setiap klaim akan superioritas korps. Karena itu, kita mesti menolak struktur-struktur selibat/sakral yang berbasis kategori-kategori superioritas/inferioritas dan berupaya menghayati pesan dan panggilan Injil untuk saling mengasihi sama seperti Yesus mengasihi kita. “Kamu semua adalah saudara.” (Mat 23:8)

Hidup selibat
Agar hidup wadat menjadi otentik dalam sebuah pribadi yang semakin utuh-integral, cara hidup selibat harus melampaui batas institusional, menerobos pembatasan kelembagaan, dan melepaskan sokongan organisasi. Hidup selibat mesti benar-benar mempribadi dan membatin. Seorang selibat tidak menikah dan pantang relasi genital untuk sejenis cinta yang lebih luas, untuk melayani komunitas beriman, khususnya masyarakat pinggiran.

Saya pernah ditanya oleh orang yang sedang menyiapkan diri untuk kaul kekal dalam sebuah biara: “Apakah hidup wadat berarti tidak menikah, tapi kita boleh menikmati relasi seksual asalkan saling mencintai dan suka sama suka?” Ya, rasionalisasi seperti itu sudah ada di tengah-tengah kita. Kultur klerikal menuntut norma perilaku seksual bagi umat-awam (jika hidup bersama sebelum nikah tak boleh berkomuni) tapi bukan bagi dirinya sendiri (malam berselingkuh, paginya memimpin Misa). Seakan-akan perilaku tertentu menjadi dosa hanya jika diketahui pihak lain dan mengganggu keserasian sosial.

Dominasi
Krisis selibat yang kita hadapi masa sekarang lahir dari klaim akan hak istimewa dan ortoritas kaum klerus yang tak berbasis realitas dunia pasca modern atau pelayanan injili. Krisis ini berlindung di balik hukum Gereja, disembunyikan di belakang cita-cita tinggi dan menampilkan nafsu kontrol atas orang lain.

Di luar relasi cinta tulus, seks dan kuasa saling berjalinan. Akibatnya si pelaku, bersama kultur klerikal yang menyokongnya, mendominasi secara ekonomis, institusional dan seksual. Problem yang kita hadapi adalah penyalahgunaan kekuasaan atas nama agama. Kebenaran menantang kita agar membongkar struktur-struktur yang melatarbelakangi sistem kekuasaan yang memakai status imamat selibater untuk mendominasi dan mengendalikan anggota Gereja lain.

Menjernihkan Panggilan
Seyogyanya krisis terbesar sejak masa Reformasi abad ke-16 ini memaksa kita untuk menjernihkan panggilan hidup selibat, mendukung proses pendewasaan dan merumuskan kembali potensi spiritualnya untuk zaman ini sambil memisahkannya dari segala jenis chauvanisme, segenap rasa superior-arogan dan sekalian sikap macho yang meremehkan kaum perempuan. Saya kira, yang terakhir hanya bisa terjadi kalau nanti keputusan- keputusan dalam Gereja pada segala tingkatannya – dari Komunitas Basis Gerejawi hingga aparat-aparat kepausan – berada dalam tangan perempuan dan laki-laki, bersama kaum tertahbis dan juga kaum umat-awam.

Keadilan gender harus kita perjuangkan. Struktur hirarkis-patriarkal harus kita ganti dengan perangkat dan relasi internal Gereja yang bersifat sinodal-partisipatif sebagaimana pernah berlaku pada zaman Apostolik (lih. Mrk 10:35-45). Kiranya panggilan hidup wadat kembali menjadi pilihan bebas dan bukan salah satu elemen wajib dalam praktik imamat.

RP John Mansford Prior SVD
Dosen Program Pascasarjana STFK Ledalero

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here