RD Yustinus Hilman Pujiatmoko: Vikjen Bandung, Putra Cimahi

205
RD Yustinus Hilman Pujiatmoko.
[NN/Dok. Paroki Lembang]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Romo Hilman ditunjuk sebagai Vikaris Jenderal Keuskupan Bandung. Tasikmalaya menjadi tempat pertama yang menempa panggilan imamatnya. Ia pernah mendapat nilai E dan berpikir mundur dari jalan panggilan imamat.

Sejak 1 September 2014, RD Yustinus Hilman Pujiatmoko, akrab disapa Romo Hilman, resmi ditunjuk Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC sebagai Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Bandung. Mendengar kabar bahwa ia dipilih menjadi Vikaris Jenderal Keuskupan Bandung, Romo Hilman mengaku kaget. “Karena tidak pernah berpikir menjadi Vikjen. Saat itu saya terus bergulat. Bersyukur, Mgr Anton selalu memberikan peneguhan,” katanya. Dalam pergulatan, Mgr Anton selalu mengajak Romo Hilman berjuang bersama demi kemajuan Keuskupan Bandung. “Ajakan inilah yang menguatkan saya. Dan, saya berkata ‘ya saya bersedia’ menjalani tugas perutusan ini,” lanjut Romo Hilman.

Imam yang ditahbiskan pada 4 Desember 1996 ini, mengawali karya pastoral di Paroki Hati Kudus Yesus Tasikmalaya, Jawa Barat. Di Tasikmalaya, ia merasakan keindahan rencana Allah. Kala itu, Gereja Hati Kudus Yesus Tasikmalaya porak poranda dibakar massa. “Saya dibentuk Tuhan melalui peristiwa di Tasikmalaya itu,” ujar imam yang lahir di Cimahi, Jawa Barat, 46 tahun silam.

Orang Cimahi
Saat belajar di bangku kelas dua sekolah dasar, Hilman kecil telah bercita-cita menjadi imam. Waktu itu, ia sering membeli permen yang berbentuk serupa dengan hosti, tapi berwarna coklat dan berasa manis. “Setelah pulang sekolah, saya bagikan kepada teman-teman, dan mereka harus menerima sambil menjawab ‘amin’,” kisah anak keempat dari enam bersaudara ini sembari tersenyum mengenang.

Sejak itu pula, Hilman mulai melibat dalam kegiatan putra altar di parokinya. Biji-biji panggilan itu seperti tumbuh amat subur dalam benaknya. Maka, setelah menyelesaikan belajar di sekolah menengah pertama, berkat dukungan sang ayah, Hilman mendaftar ke Seminari Menengah Stella Maris Bogor, Jawa Barat. Bersama 20 orang, Hilman mulai meniti jalan panggilan imamat. “Dari 20 orang, kini tinggal tiga: satu imam Keuskupan Bogor, satu imam Fransiskan, dan saya,” ujarnya.

Pada tingkat akhir, Hilman harus menentukan arah panggilan imamatnya. Saat itu, pimpinan Seminari Menengah Stella Maris memberi tawaran agar Hilman masuk ordo tertentu atau menjadi imam diosesan. “Saya kan orang Cimahi. Maka saya lebih memilih menjadi imam diosesan Bandung. Saya pun langsung berangkat saja ke Bandung dan saya diterima,” lanjut imam yang kini tinggal di Wisma Keuskupan Bandung.

Nilai E
Perjalanan panggilan imamat Hilman tak selalu mulus. Ketika mengenyam pen didikan lanjut di seminari tinggi, ia bimbang. Bahkan, sempat terlintas dalam pikir nya untuk keluar dari jalan panggilan imamat. Pada semester kelima, ia mendapatkan satu nilai E. Padahal mata kuliah yang lain, Hilman selalu mendapat nilai yang bagus. “Saya sangat yakin, saat ujian, saya bisa mengerjakan soal, tapi kenapa mendapat nilai yang buruk, ya?” ujarnya mengenang kembali masa-masa pendidikan di seminari tinggi.

Lantaran nilai E itu, ia merasa tak percaya diri. Tapi, keluarganya terus memberi kan peneguhan serta mendukung pilihan hidup Hilman. Hingga kemudian, Hilman bisa menyelesaikan pendidikan calon imam, dan ditahbiskan sebagai imam Keuskupan Bandung. Perutusan pertamanya adalah ke Tasikmalaya. Lalu, ia mendapat tugas mengikuti Kursus Formatio di Southeast Asia Interdisciplinary Development Institute-Asian Religious Formation Institute (SAIDIARFI), Filipina.

Setelah kembali dari Filipina, ia diutus menjadi formator di Seminari Tinggi Fermentum Bandung. Selang satu tahun, Romo Hilman diangkat menjadi Direktur Tahun Orientasi Rohani (TOR) Seminari Tinggi Fermentum. Ia juga pernah melayani umat di beberapa paroki di Keuskupan Bandung.

Sumber daya
Romo Hilman mengatakan, dirinya mengalami masa-masa sulit ketika banyak rekan imam Keuskupan Bandung, satu per satu mundur dan meninggalkan panggilan imamat. Pengalaman ini, dan karya sebagai seorang formator di seminari, menjadi bekal bagi Romo Hilman untuk terus berupaya memberdayakan segala potensi para imam di Keuskupan Bandung. Ia mengajak seluruh imam menjadi seorang imam yang murah hati, “Tapi bukan murahan! Menjadi teladan dan senantiasa memberi semangat kepada umat.”

Menurut Romo Hilman, Keuskupan Bandung amat kaya dengan sumber daya: awam yang aktif, kekayaan alam dan materi, serta potensi imam. Saat ini, di Keuskupan Bandung tercatat 90 imam. Sementara, jumlah umat sekitar 90.000 jiwa. Artinya, satu imam bisa melayani seribu umat. Dengan penuh harapan, Romo Vikjen mengatakan, “Seharusnya sudah sangat memadai. Apalagi jika ketiga sumber daya ini dimaksimalkan. Keuskupan Bandung bisa memberi pengaruh bagi masyarakat Jawa Barat.”

RD Yustinus Hilman Pujiatmoko
TTL : Cimahi, Jawa Barat, 30 Mei 1968
Orang tua : Martinus Zainudin dan Catarina
Tahbisan : 4 Desember 1996

Pendidikan:
• SD Santa Maria Cimahi
• SMP Negeri Utama Cimahi
• Seminari Menengah Stella Maris Bogor
• Seminari Tinggi Fermentum Bandung

Tugas:
• Pastor Rekan Paroki Hati Kudus Yesus Tasikmalaya (1996-2000)
• Anggota Dewan Tribunal Keuskupan Bandung (1998-2000)
• Pendamping Frater Seminari Tinggi Fermentum (2002-2003)
• Direktur TOR Seminari Tinggi Fermentum (2003-2006)
• Pastor Paroki St Maria Fatima Lembang (2006-2010)
• Ketua UNIO (2006-2012)
• Ketua Forum Pimpinan Tarekat dan UNIO (2010-2012)
• Pastor Paroki Salib Suci Purwakarta (2010-2014)
• Pastor Paroki St Paulus Moh. Toha Bandung (21 Januari 2014-31 Agustus 2014)
• Moderator Badan Pelayanan Keuskupan Pembaruan Kharismatik Katolik Keuskupan Bandung (2004-2014)
• Vikaris Jenderal Keuskupan Bandung (1 September 2014 – sekarang)

Fr. Y. Mega Hendarto SJ
Laporan: Fr. S. Augusta Yudhiantoro (Bandung)

HIDUP No.39, 28 September 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here