Menerima Berkat untuk Dibagikan

268
Ester Kandau.
[HIDUP/Maria Pertiwi]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Esther merefleksikan, anugerah Tuhan melimpah dalam hidupnya. Ia pun tergerak berbuat, berbagi berkat, khususnya mereka yang membutuhkan.

“Semua yang dimiliki manusia, titipan dari Allah. Maka, mari kita berbagi dengan sesama, karena Allah telah memberi lebih banyak kepada kita.” Demikian Esther Kandou ketika memberi renungan dalam acara Malam Apresiasi Peduli Kasih di Balai Sarbini, Semanggi, Jakarta Selatan, Jumat, 5/12. Esther memberikan renungan dengan mengutip Kitab 2Raja-Raja pasal 4.

Acara Malam Apresiasi Peduli Kasih itu diprakarsai oleh Komunitas Peduli Kasih (KPK), sebagai ungkapan terima kasih kepada para donatur yang telah memberikan bantuan kemanusiaan bagi saudara-saudari di kawasan Indonesia bagian Timur. Selain itu, acara ini juga menjadi ajang penggalangan dana untuk Keuskupan Weetebula dan Keuskupan Atambua.

“Saya bangga dengan kelompok ini. Saya mengapresiasi apa yang mereka lakukan. Mereka menyisihkan apa yang dimiliki dan mengajak semua orang untuk berbagi, serta membantu proyek- proyek Tuhan, untuk seminari, gereja, stasi, dll,” ungkap Esther.

Esther berharap, semua orang mau peduli terhadap sesama. Ia mengajak semua orang untuk mau berbagi berkat Tuhan yang telah mereka terima. Esther sendiri yang merasa terberkati juga ingin terus berbagi berkat untuk orang lain, melalui aneka pelayanan.

Berubah

Kesediaan Esther untuk berbagi berkat kepada sesama melalui pelayanan yang ia lakukan tak begitu saja terjadi. Pada masa mudanya, perempuan kelahiran Tondano, Sulawesi Utara, 30 April 1944 ini pernah mengalami masa kekelaman dalam hidup. Pada 1977, dokter mendiagnosa bahwa dirinya terkena sakit jantung. Mengetahui kondisinya, Esther merasa takut dan khawatir. “Waktu itu, iman saya gak kuat. Hubungan saya dengan Tuhan renggang, gak klik …. Saya takut, anak-anak nanti bagaimana. Kalau saya meninggal dunia, saya ke mana,” kenangnya. Esther putus asa. Hidupnya kian jauh dari Tuhan. Seperti diakuinya, ia gemar bermain judi dan hidup berfoya-foya, egois, mau menang sendiri, tidak mau mendengarkan pendapat orang lain.

Keluarga dan saudaranya senantiasa mendoakannya. Hingga suatu hari, Esther merasa tersentuh oleh doa dari temannya. “Karena kekuatan doa itu, saya disembuhkan. Beban hidup saya seolah terangkat dan saya juga disembuhkan dari sakit saya. Ini merupakan anugerah Tuhan. Tuhan sungguh luar biasa,” tandasnya.

Sejak itu, Esther perlahan berubah. Ia mulai tekun membaca Kitab Suci. “Saya mengalami Kristus. Saya merasa Yesus hidup dalam saya,” ujar perempuan yang menikah dengan Alexander Kandou ini.

Suami dan ketiga buah hati Esther pun turut memberikan dukungan kepadanya. “Suami dan anak-anak yang mengetahui perubahan saya ke arah yang lebih baik memberi waktu kepada saya untuk mendalami Firman Tuhan … sedikit demi sedikit. Tuhan ubah saya dari egois, mau menang sendiri, tidak mau dengar pendapat orang lain. Saya mulai care,  perhatikan orang, …dari yang awalnya sering pingsan, perlahan-lahan kesehatan saya membaik juga. Suami, anak-anak, dan keluarga mendukung perubahan saya. Juga mendukung pelayanan saya. I enjoy my job. I enjoy being with Jesus,” ungkapnya.

Berangkat dari kesadaran itu, Esther ingin berbagi berkat yang sudah ia terima dari Tuhan untuk orang lain. Ia pun ingin memberikan diri untuk Yesus, turut ambil bagian dalam mewartakan kabar gembira melalui pelayanan yang bisa ia lakukan.

Esther kemudian terlibat dalam kegiatan pembaruan karismatik di Gereja Kristen Protestan. Perempuan yang dikaruniai tiga anak dan tujuh cucu ini, waktu itu juga aktif dalam Persekutuan Doa Women’s a Glow, International Fellowship, yang beranggotakan para ibu dari Gereja Kristen Protestan.

Hingga akhirnya, Esther bertemu dengan Fransiska Siregar, yang kemudian bersama beberapa perempuan lain membentuk Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) “Elisabeth” pada 21 Oktober 1981. Persekutuan doa ini diresmikan oleh Romo L. Sugiri van den Heuvel SJ, di aula Paroki Kristus Salvator Petamburan, Jakarta. Pada 2011, persekutuan doa ini berubah nama menjadi Elisabeth Ministry. Anggotanya ialah para ibu yang memberikan diri untuk menjadi pewarta Kabar Gembira.

Terus Melayani
Dari hari ke hari, Esther merasa hidupnya makin diberkati. “Ia ubah saya dari hari ke hari. Saya mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan mengalami Tuhan dalam hidup saya. Pastor Sugiri juga membimbing saya,” ungkap Koordinator Umum PDKK “Elisabeth” (1999-2006) ini.

Esther melayani dengan memberikan renungan dalam PDKK Elisabeth Ministry dan juga berbagai kegiatan lain. Ia juga kerap diminta memberikan renungan untuk para karyawan di perusahaan atau lembaga umum. Ketika memberikan renungan dan membacakan Firman Tuhan, Esther merasa bahwa Tuhan juga berbicara kepada dirinya.

“Saya bersyukur mendapat kesempatan untuk boleh membawakan firman Tuhan. Saya tidak menempuh pendidikan formal teologi atau filsafat. Saya hanya ikut seminar untuk menambah pengetahuan saya. Saya bersyukur karena saya boleh duduk diam di kaki Tuhan. Saya juga tidak mengerti semua, tapi saya percaya Tuhan memberikan hikmat kepada saya,” tutur Esther.

Selain melayani di PDKK Elisabeth Ministry dan Komunitas Peduli Kasih, Esther terlibat dalam Komunitas Sahabat Flores yang dibentuk sejak empat tahun lalu. Kegiatan komunitas itu berfokus pada bagaimana membangun pendidikan dan mengembangkan segi rohani, melakukan bakti sosial, dan bina iman untuk anak-anak.

Di celah aktivitas, Esther menyediakan waktu tiap Minggu untuk berkumpul bersama keluarganya. “Biasanya ada kumpul PD Segar, PD Sepupu Gerung, di rumah salah satu anak saya. Acara itu diisi dengan renungan, doa bersama, saling mendoakan, sharing, dan makan bersama. Ketika malam Natal, keluarga juga kumpul usai ke gereja bersama. Lalu, kami berdoa bersama. Ada renungan malam Natal. Berkumpul itu menjadi kesempatan bertemu, mengalami kebersamaan di tengah kesibukan.”

Hingga kini, Esther sudah 37 tahun berkecimpung dalam pelayanan pewartaan Kabar Gembira. Ia mengaku pernah kecewa, marah, tidak merasa diperhatikan. Namun, semua itu tidak membuatnya meninggalkan pelayanan yang ia hidupi. Bagi Esther, hal itu tidak sebanding dengan berkat dan kasih Tuhan. “Bosan atau tidak melayani seperti ini? Ketika ditanya seperti itu, saya katakan ‘tidak’ karena Jesus is my job and my life. Lewat Perayaan Ekaristi, membaca Kitab Suci, memberitakan firman, semangat saya di-charge. Saya jatuh cinta banget pada Yesus. Saya rindu semua orang Katolik jatuh cinta pada Yesus dan mengalami Tuhan serta mengalami kasih-Nya, sehingga ia mau ambil bagian dalam membagikan Kabar Baik,” kata Esther bersemangat.

Esther berharap bisa terus memberikan diri dalam pelayanan. Usianya sudah 70 tahun. Energi pelayanannya tidak padam, karena Tuhan.

Maria Pertiwi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here