Renungan Minggu, 9 Oktober 2016 : Penyembuhan Naaman dan Sepuluh Orang Kusta

248
[art-prints-on-demand.com]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – BACAAN Kitab Suci Minggu ke-28 ini menyampaikan dua cerita tentang penyembuhan orang kusta, yaitu penyembuhan Naaman (2Raj 5:14-17) dan penyembuhan 10 orang kusta oleh Yesus (Luk 17:11-19). Kedua mukjizat penyembuhan itu menyampaikan sejumlah pesan, baik penyembuhan secara fisik maupun rohani menghadapi aneka tantangan, penderitaan dalam hidup sehari-hari.

Kisah penyembuhan itu menyatakan kepada kita bahwa karya keselamatan Allah bersifat universal dan diperuntukkan bagi semua orang, lebih-lebih mereka yang menderita. Allah berbelas kasih kepada manusia tanpa memperhatikan asal-usul, kedudukan, prestasi, jenis kelamin, tapi karena sikap hati dan iman mereka. Iman dipahami sebagai hubungan pribadi seseorang dengan Tuhan-nya. Manusia mengandalkan kekuatan Allah dan meletakkan seluruh pengharapan hidupnya pada penyelenggaraan Ilahi. Manusia percaya dan bergantung sepenuh hati kepada Tuhan serta menjalankan kehendak-Nya.

Bacaan pertama Minggu ini bercerita tentang penyembuhan Naaman, Panglima Besar Raja Aram, dari sakit kusta. Seorang pelayan perempuan, tawanan dari Israel, yang menjadi pelayan istri Naaman menyarankan agar ia menemui Nabi di Siria, Nabi Elisa. Naaman pun pergi ke Samaria, tapi tidak bertemu Nabi Elisa. Ia bertemu seorang pengantara yang membawa pesan Nabi Elisa agar Naaman membenamkan diri atau mandi di Sungai Yordan sebanyak tujuh kali.

Awalnya Naaman gusar hati dan menolak saran itu. Karena dinasihati pegawainya, ia pun pergi membenamkan diri di Sungai Yordan. Hasilnya ia sembuh. Lalu ia dan seluruh pasukannya kembali kepada abdi Allah itu dan di depan Nabi ia berkata, “Sekarang aku tahu bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel”. Pengakuan iman ini sekaligus ungkapan syukur atas kesembuhannya. Peristiwa penyembuhan Naaman ini diangkat kembali oleh Lukas dalam Injilnya (Luk 4:27).

Dalam Injil diceritakan tentang 10 orang kusta yang datang menemui Yesus. Mereka berdiri agak jauh sambil berteriak minta belas kasihan, “Yesus, Rabi, kasihanilah kami”. Yesus “memandang” mereka dan berkata, “Pergilah, perlihatkan dirimu kepada imam-imam”. Ini perintah yang amat berat dan menantang karena dalam masyarakat Yahudi, orang kusta dianggap najis, tak boleh bergaul dan bersentuhan dengan orang lain sampai dinyatakan sembuh oleh imam-imam. Pastilah para imam akan menolak mereka. Namun karena taat pada perintah Yesus, mereka pergi juga.

Di tengah jalan, mereka menjadi sembuh total. Kuasa Tuhan telah menyembuhkan mereka, tak hanya secara fisik tapi juga psikis, dan sosial. Kini mereka dapat kembali ketengah masyarakat serta bergaul dan beribadat. Seorang di antara mereka bersukacita dan memuliakan Allah dengan suara nyaring serta kembali kepada Yesus dan tersungkur di depan kaki-Nya sambil mengucap syukur.

Dialah seorang Samaria. Yesus berkata kepadanya, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau”. Naaman dan orang Samaria disembuhkan berkat iman. Mereka menjadi pintu masuk bagi keselamatan mesianik yang bersifat universal bagi seluruh umat manusia.

Kita sedang berada di bulan-bulan terakhir Tahun Suci Kerahiman Allah. Yesus adalah wajah kerahiman Allah yang tampak nyata (Doa Tahun Kerahiman). Yesus berkuasa memulihkan dan mengutuhkan kembali kehidupan manusia betapapun berat permasalahannya.

Kita di panggil untuk bersatu erat dengan Kristus agar mampu bertekun dalam mewartakan kabar sukacita Injil seperti Yesus (Luk 4:18-19). Ini bisa dilakukan dengan hidup penuh syukur dan pujian kepada Allah yang senantiasa memandang manusia penuh belas kasihan dan menjamin kehidupan tiap orang. Orang kusta yang tersungkur di hadapan Yesus hendaknya mewakili kita semua yang menerima penyembuhan, kasih, dan kebaikan Allah dalam hidup kita. Selayaknya dalam mengalami peristiwa besar di dalam hidup kita atau bila menjumpai pergulatan, kita kembali kepada Tuhan, menjumpai-Nya dan bersyukur atas segala kerahiman-Nya.

Kerahiman dan cinta kasih Allah tak pernah berhenti. Demikian pula hendaknya pujian dan ucapan syukur kita kepada-Nya tak pernah berhenti.

Mgr Michael Cosmas Angkur OFM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here