Renungan Selasa, 18 Oktober 2016 : “Eirene”

36
[dimaslana.deviantart.com]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPW. St Lukas; 2Tim 4:10-17b; Mzm 145; Luk 10:1-9

HARI ini kita mendengar firman Tuhan Yesus saat Ia mengutus para murid-­Nya berdua-­dua mendahului Dia. Yang me­narik direnungkan adalah firman Tuhan, “Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-­te­ngah serigala” (ay.3). Sepintas, mungkin kita akan berpikir, “Wah…gawat nih!” Ma­sak kita mesti (di)jadi(in) mangsa serigala?

Tapi kalau kita mencoba melirik ke be­lakang, ke Perjanjian Lama, jangan heran kalau kita menemukan sebuah ungkapan yang mirip. Dalam Yes 11:6 kita mendapat­kan lukisan seperti ini, “Serigala akan ting­gal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing.” Ini adalah lukisan zaman Mesias, di mana tidak ada kekerasan; yang satu memangsa yang lain. Semua hidup berdampingan dengan syalom. Jika kita baca Firman Tuhan dengan kacamata ini, maka jelas perutusan Tuhan bukan perutusan bunuh diri. Perutusan Yesus adalah tanda kehadiran zaman Me­sias, di mana anak domba dan serigala bisa hidup berdampingan dengan damai. Ini cocok dengan teks sekitarnya yang me­ngatakan “Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera (syalom) bagi rumah ini” (ay.5).

Lalu? Perutusan orang Kristen adalah membawa damai atau syalom di manapun ia berada. Perutusan ini tetap bahkan jika mereka mesti berhadapan dengan orang yang tidak sehaluan.

V. Indra Sanjaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here