Renungan Minggu, 23 Oktober 2016 : Kehendak untuk Berdoa

213
[ministry-to-children.com]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com - YESUS menyampaikan ajakan untuk berdoa dengan tak jemu-jemu dalam bacaan hari ini (Luk 18:1-8). Kita semua menyadari ajakan berdoa terus-menerus dengan sikap mengandalkan diri pada kuat kuasa Tuhan, Sang Pemelihara Kehidupan. Dalam hidup sehari-hari para orangtua, guru, dan pendamping juga selalu mengajarkan agar tekun berdoa. Lihat dan amati pelbagai souvenir yang diberikan dalam peringatan arwah, peringatan momen khusus perkawinan, kaul kebiaraan, atau kenangan tahbisan imam, ditandai dengan pemberian kumpulan buku doa. Ini diharapkan menjadi sarana yang memudahkan orang untuk berdoa. Apakah buku-buku itu digunakan dengan baik atau menumpuk sebagai pajangan?

Aneka teori dan makna doa dengan segala praktiknya kita pahami dari ajaran yang diberikan orangtua dan guru agama. Katekismus Gereja Katolik pada artikel 2650 dan 2651 menulis: “Doa tidak terbatas pada pengungkapan spontan suatu dorongan batin; doa harus dikehendaki. Juga tidak cukup untuk mengetahui, apa yang Kitab Suci wahyukan tentang doa; doa harus dilatih. Roh Kudus mengajar anak-anak Allah berdoa dalam ‘Gereja yang beriman dan berdoa’ (DV 8) melalui tradisi hidup, tradisi kudus. Tradisi doa Kristen adalah satu dari bentuk-bentuk, dalamnya pentradisian iman berlangsung. Ini terjadi terutama dengan studi dan renungan kaum beriman, yang menyimpan kejadian-kejadian dan kata-kata keselamatan dalam hatinya dan semakin mendalami kenyataan-kenyataan rohani yang mereka imani.”

Dalam kesempatan doa di taman doa halaman gereja, seorang pastor paroki mengajak anak-anak berdoa setelah diadakan kerja bersama membersihkan sampah dan rumput di sekitar taman doa. Salah satu doa yang diungkapkan seorang anak, “Tuhan, mengapa udara panas sekali? Kata Bunda, lubang ozon makin lebar. Tolong Tuhan, lubang ozon ditutup dan jadikan udara lebih segar.” Apa yang diketahui anak tentang pemanasan global dan lubang ozon? Namun lihatlah dan rasakan, anak-anak ini tergerak untuk memohon sesuatu kepada Tuhan.

[nextpage title=”Renungan Minggu, 23 Oktober 2016 : Kehendak untuk Berdoa”]

[ministry-to-children.com]
[ministry-to-children.com]
Seorang anak lain yang rajin ikut Misa bersama orangtuanya berdoa untuk pastor paroki dengan suara yang lumayan keras, “Tuhan mohon berkat agar pastor paroki saya tidak menjadi tua, karena kalau tua nanti akan mati. Berkati kami, ya Tuhan.” Doa yang tulus seorang anak untuk pastor parokinya dengan konsep sederhana mengenai ketuaan dan kematian. Tentu dengan keterbatasan pemahaman kalau menjadi tua kemudian sakit dan meninggal dunia.

Benih iman, kepedulian, dan pemahaman yang sudah ada dalam diri anak-anak perlu terus dipupuk, didampingi, dan diarahkan dalam kedewasaan sesuai dengan usia anak-anak. Peran keluarga dan para pendamping dalam konteks formatio iman berjenjang dan berkelanjutan melalui aneka modul pendampingan iman sangat diperlukan. Sinergi dan kebersamaan dalam menumbuhkan nilai-nilai iman yang tidak tercabut dari pengalaman sehari- hari perlu terus dipupuk dan didalami. Hal ini menjadi daya tumbuh yang akan membawa kepada kedewasaan hidup sebagai anak-anak Allah.

Kita juga paham bahwa tidak selalu mudah meluangkan waktu untuk berdoa dengan tekun. Ada begitu banyak alasan yang dapat menyisihkan kebiasaan berdoa atau menggeser waktu yang sudah kita rencanakan untuk berdoa karena kesibukan tugas atau acara mendadak. Keluarga-keluarga harus ekstra menyediakan waktu untuk membangun kebersamaan dalam keluarga, seperti makan bersama, berdoa bersama, atau berbagi cerita. Buku-buku doa yang kita miliki atau melalui sarana gadget, perlu kita gunakan dengan cara membangun kehendak untuk menggunakan sebagai sarana doa. Tentu juga ada doa-doa favorit yang sudah biasa kita doakan, misal litani, doa kerahiman, doa Malaikat Tuhan, serta doa Yesus.

Berkehendak untuk berdoa dan terus melatih merupakan niat baik untuk membangun relasi dengan Tuhan serta mewujudkan dalam kasih terhadap sesama dan alam ciptaan. Dengan ketekunan latihan maupun waktu yang disediakan dalam kehendak yang kuat untuk berdoa, menjadi kekuatan rohani untuk menyikapi kehidupan sehari-hari dalam terang kekuatan Tuhan yang menyelenggarakan hidup ini.

Romo FX. Sukendar Wignyosumarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here