Renungan Minggu, 30 Oktober 2016 : Sapaan Kasih Allah, Menggerakkan dan Mengubah

158
[wikipedia.org]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com - Minggu Biasa XXXI: Keb 11:22-12:2; Mzm 145; 2Tes 1:11-2:2; Luk 19:1-10

DALAM bacaan Injil Minggu ini (Luk 19:1-10), diceritakan mengenai Yesus yang masuk ke Kota Yeriko dan berjalan melintasi kota itu. Di sana ada seorang bernama Zakheus, seorang kepala pemungut cukai yang ingin melihat orang apakah Yesus itu.

Zakheus ingin sekali melihat siapa Yesus yang menjadi buah bibir banyak orang. Ini merupakan sebuah awal yang kecil dan sederhana. Zakheus ingin mengetahui siapa itu Yesus, yang memikat banyak simpatisan dengan pengajaran dan mukjizat-mukjizat-Nya.

Perawakan Zakheus yang pendek menjadi kendala nyata ketika ia berada di tengah kerumunan orang. Namun lebih dari itu, mungkin rasa diri tidak pantas menyebabkan Zakheus memilih untuk mengintip saja Yesus dari atas pohon. Sebuah inisiatif sederhana yang telah meretas jalan kecil, tetapi pasti kepada keselamatan. Meskipun kecil, Yesus sendiri yang mengoptimalkan peluang kecil tersebut bagi Zakheus.

Apa yang terjadi selanjutnya? Yesus meminta Zakheus turun dari atas pohon ara. “‘Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.’ Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita” (Luk 19:5-6). Bagi Zakheus, tawaran Yesus untuk bertamu ke rumahnya tidak hanya menjadi sebuah kejutan emosional, melainkan sungguh dirasakannya sebagai sapaan kasih yang dahsyat. Zakheus sangat tersentuh dengan sapaan Yesus. Sapaan kasih Yesus itu memiliki daya dorong ke arah perubahan.

Perubahan yang paling spontan ialah bahwa keinginan Zakheus untuk melihat Yesus telah membangkitkan kesadaran akan adanya desakan kehausan batin untuk mencari sumber asal- usul hidupnya. Desakan batin tersebut selama ini ditenggelamkan oleh loyalitas tugas yang memperbudak dirinya dan bahkan menjebaknya ke dalam peluang-peluang dosa ketidakadilan.

Sapaan kasih Yesus yang begitu simpatik kepada Zakheus telah menggusur pergi rasa diri tidak pantas. Sapaan itu yang ternyata mengantar Zakheus untuk menemukan apa yang ia cari selama ini, yaitu Tuhan. Pertemuannya dengan Yesus telah mendorong Zakheus untuk menentukan pilihan sikap hidup yang baru, “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat” (Luk 19:8).

Kerahiman Tuhan sangat nyata kepada Zakheus. Itu berarti, sekalipun kita manusia bukan apa-apa di hadapan kuasa Allah, sekalipun berlumuran dosa pengkhianatan, ternyata Dia selalu menghargai setiap niat baik kita, sekecil dan sesederhana apapun, sebagai jalan pertobatan dan perubahan. Allah sungguh Allah Penguasa yang menyayangi kehidupan yang Dia ciptakan dengan penuh cinta. Kebencian dan balas dendam bukanlah cara Dia menghadapi kejahatan dosa kita manusia. “Sebab Engkau mengasihi segala yang ada, dan Engkau tidak membenci kepada barang apapun yang telah Kaubuat” (Keb 11:24). Belas kasih Allah dalam menghukum selalu bersifat mendidik dan menggerakkan perubahan yang kreatif- partisipatif.

Tidak heran kalau dalam doanya bagi jemaat di Tesalonika, Rasul Paulus begitu menyakini bahwa Allah melalui Tuhan kita Yesus Kristus, proaktif mengoptimalkan setiap inisiatif  kehendak baik dan perbuatan iman sekecil apapun. Karena kepekaan kasih Allah akan menghargainya sebagai tanda kemauan kita untuk dituntun oleh panggilan-Nya dan diarahkan oleh kekuatan Tuhan sendiri kepada perubahan yang menyelamatkan. “Karena itu, kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan segala pekerjaan imanmu, sehingga nama Yesus, Tuhan kita, dimuliakan di dalam kamu dan kamu di dalam Dia, menurut kasih karunia Allah kita dan Tuhan Yesus Kristus (2Tes 1:11-12). Sungguh, sapaan kasih Allah selalu menggerakkan dan mengubah.

Mgr Vincentius Sensi Potokota

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here