Harapan dari Benua Hitam

140
Mgr Telesphore George Mpundu, memberikan medali emas kepada para pastor yang lama berkarya di Zambia.
[lusakatimes.com]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Afrika, khususnya bagian tengah senantiasa dilanda perang. Di tengah situasi itu, Zambia dalam rentang 125 tahun usianya siap mengutus para misionaris ke seluruh dunia.

NEGARA-negara di Afrika tengah, selama beberapa dekade dilanda perang. Gereja Katolik dari masa ke masa berjuang menghadirkan perdamaian. Cerita tentang para uskup atau imam yang menjadi mediator antara pemerintah dan pemberontak kerap muncul di negara-negara kawasan itu. Kardinal Laurent Monsengwo Pasinya di Republik Demokratik (RD) Kongo misalnya; secara konsisten menyerukan untuk tidak tenggelam dalam lautan putus asa.

Upaya membangun perdamaian tak semudah membalikkan telapak tangan. Pada awal 2017, Mahkamah Konstitusi Republik Demokratik Kongo memperpanjang mandat Presiden Joseph Kabila. Hal ini memantik konflik antarpartai. Pelbagai upaya perdamaian tak ubahnya seperti aspirin. Saat efeknya hilang, kegelisahan kembali menghinggap. Tetapi Gereja, kata Kardinal Pasinya, tak pernah berhenti memperjuangkan perdamaian dan rekonsiliasi.

Upaya Gereja membangun jembatan perdamaian harus dibayar mahal. Pekan silam, kelompok bersenjata menyerang sebuah paroki di Provinsi Kivu Utara, RD Kongo. Pada awal Juni, Mgr Jean Marie Benoit Bala, Uskup Bafia, Kamerun, ditemukan tewas di sungai. Cerita pilu itu melengkapi penculikan terhadap pastor, biarawati, pembakaran gereja, hingga penyerangan terhadap sekolah-sekolah Katolik di kawasan itu.

Menyikapi itu, para uskup dari Regio Afrika Tengah: Republik Afrika Tengah, Chad, Gabon, Kamerun, Guinea Khatulistiwa dan RD Kongo dalam sidang tahunan, kembali menekankan sikap Gereja dalam memperjuangkan perdamaian, fokus pada ekumenisme dan dialog antaragama di Afrika tengah. Para uskup dalam seruannya meminta kepada semua yang menabur teror dan kematian untuk menghentikan pertumpahan darah dan bekerja untuk perdamaian, dialog, dan rekonsiliasi.

Harapan Baru Di tengah prahara yang melanda, di tepi lain Afrika, Gereja Katolik memunculkan cahaya harapan. Gereja Katolik Zambia merayakan pesta puncak 125 tahun, pada pekan lalu. Mgr Telesphore George Mpundu, Presiden Konferensi Waligereja Zambia (ZCCB) melihat Zambia sebagai harapan. Mgr Mpundu mendorong Gereja untuk dinamis, dewasa, dan berani mewartakan iman. “Bagikan iman Anda dengan orang lain, anggota keluarga besar Anda, dan dengan orang Zambia lainnya. Iman yang tidak dibagi tetap kecil, tetapi iman yang dibagikan berlipat ganda.”

Uskup Agung Lusaka ini memberi penghormatan penuh atas banyak peran wanita di Gereja Katolik Zambia. Wanita, kata Mgr Mpundu, adalah detak jantung paroki yang tanpanya, Gereja akan mati. Ia meminta terutama para profesional wanita Katolik, untuk mengambil peran lebih aktif dalam urusan Gereja. Mgr Mpundu juga menyebut, Gereja Zambia kini siap mengutus misionaris ke seluruh dunia. Senada dengan itu, Mgr Julio Murat, Nunsius Apostolik untuk Zambia dan Malawi mendorong Gereja Zambia untuk mengirim misionaris ke Barat. “Selama tahun Yobel, kita bersyukur kepada Tuhan, memohon pengampunan dan janji untuk berbuat lebih baik. Karena Gereja di Zambia telah berkembang, sekarang saatnya untuk mengirim misionaris ke dunia,” pungkas Mgr Julio Murat seperti dilansir Radio Vatikan, 19/7. Mgr Murat juga menyampaikan berkat Apostolik Bapa Suci kepada umat Zambia.

Edward Wirawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here