Cara Orang Muda Menanggapi Perutusan

161
Kebersamaan: Para peserta LKD keempat.
[Dok. Paguyuban Persaudaraan Paulus]
Cara Orang Muda Menanggapi Perutusan
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Orang muda Katolik Dekanat Bekasi menyiapkan diri menjadi pemimpin yang baik dan berkualitas. Melalui Latihan Kepemimpinan Dasar (LKD) mereka menempa diri untuk menjadi pelayan.

Tahun 2009, beberapa mantan aktivis Katolik yang tinggal di Dekanat Bekasi, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) gundah. Mereka, diikat oleh pengalaman yang sama dalam kegiatan kemasyarakatan, terus menjalin komunikasi. Mereka resah, lantaran melihat kegiatan Orang Muda Katolik (OMK) Bekasi, di seputar altar saja. Menurut mereka, orang muda adalah masa depan Gereja dan masyarakat yang mestinya siap diutus sebagai pelayan.

Atas keprihatinan itu, mereka membentuk wadah untuk mengembangkan peranan awam, khususnya orang muda, dalam karya di tengah masyarakat. Maka, pada 29 November 2009, mereka secara resmi mendirikan “Paguyuban Persaudaraan Paulus”, yang kemudian lazim disebut “Paguyuban Paulus”.

Ketua Paguyuban Paulus, Heru Handoko, menceritakan bahwa umat menyambut antusias paguyuban ini. Lebih-lebih, karena bisa menjadi wadah kegiatan kaum muda untuk mengembangkan diri. “Romo-romo paroki juga mendukung, dengan memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan,” kata Ketua Paguyuban Paulus sejak 2009, warga Paroki St Mikael Kranji, Bekasi, ini.

Misionaris Pionir
Paguyuban memilih St Paulus sebagai pelindung, bukan tanpa alasan. Mereka merefleksikan, Paulus merupakan pionir penyebar dan pengembang nilai Kristiani pada masa Gereja awal. Harapannya, anggota paguyuban dapat meneladan semangat Paulus, dan berani mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat.

Berlandaskan cita-cita itu, komunitas ini memilih bidang pengembangan kegiatan kemasyarakatan sebagai fokus perhatian, sekaligus ciri dasar yang membedakan dengan kelompok kategorial di paroki atau dekanat lain. Mereka kemudian mengadakan pertemuan rutin bulanan. Pertemuan itu diisi dengan pembekalan organisasi, diskusi, workshop, dan seminar dengan mengangkat topik kepemimpinan dan kemasyarakatan.

Dalam perjalanan, para anggota menyadari bahwa iman merupakan pegangan yang dapat menjiwai anggota dalam mewujudkan persaudaraan dan pelayanan. Iman adalah dasar yang dibutuhkan untuk menjalin persaudaraan antarsesama umat beriman lainnya. Oleh karena itu, mereka merencanakan membuat program Latihan Kepemimpinan Dasar (LKD). Melalui LKD, kaum muda belajar menjadi pemimpin, sekaligus merefleksikan pengalaman iman dan panggilan hidup di tengah masyarakat.

Rencana tersebut berbuah hasil. LKD pertama diadakan pada 26-28 November 2010 di Wisma Samadi, Klender, Jakarta Timur. Kegiatan ini dikuti oleh 48 peserta. Mereka didampingi dan dibimbing oleh Romo Joseph Jaga Dawan SVD, Romo Yakobus Rudiyanto SJ dan Romo A. Sadhyoko Rahardjo SJ. Berbekal pengalaman pertama ini, mereka mengadakan kegiatan yang sama setiap tahun. LKD terakhir diadakan pada 6-8 September 2014, di Wisma Bina Marga, Cipayung, diikuti oleh 54 orang muda Katolik. Mereka yang pernah mengikuti kegiatan ini, secara otomatis menjadi anggota paguyuban ini.

Kesempatan untuk Orang Muda
Selain LKD, Paguyuban Paulus juga mengadakan kegiatan, antara lain seminar, dengan tujuan menambah pengetahuan dan wawasan anggota. Tema yang dipilih, antara lain spiritualitas, kewirausahaan, politik, dan kepemimpinan. Pada 9 Maret 2014, misalnya, paguyuban menggelar seminar politik. Acara ini diikuti sekitar 160 orang. Pada kesempatan ini juga hadir 13 calon legislator (caleg) Katolik dari Daerah Pemilihan Bekasi.

Pada perayaan Natal dan Paskah, paguyuban juga mengadakan rekreasi bersama. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memupuk kebersamaan dan mempererat persaudaraan. Mereka berbagi pengalaman, informasi tentang pekerjaan dan pendidikan tinggi.

Anggota paguyuban, Ignatius Juan Davin, mengaku senang dapat bergabung dalam komunitas ini. Selain karena dapat bertukar informasi, mahasiswa semester tujuh di Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta ini juga semakin banyak teman setelah mengikuti LKD.

Saat ini, sekitar 150 orang menjadi anggota Paguyuban Paulus. Sudah lima tahun komunitas ini hidup. LKD sudah berjalan empat kali, tetapi pendamping selalu berganti, sehingga tidak ada kesinambungan. Menurut Heru, Paguyuban Paulus sungguh membutuhkan pastor pendamping spiritual untuk membimbing kehidupan rohani atau iman anggota.

Meski demikian, harus diakui, kegiatan komunitas ini kalah peminat, dibandingkan dengan kemping rohani dan ziarah. Karena, kegitatan-kegiatan Paguyuban Paulus dianggap serius dan berat. Bahkan, LKD pun menghadapi tantangan regenerasi. Selama ini, narasumber selalu dari kalangan tua. Untuk itu, pada LKD berikutnya, orang muda anggota Paguyuban Paulus akan diberi kesempatan untuk menjadi nara sumber. Bahkan, peserta LKD juga akan diperluas bagi siswa SMP dan SMA Katolik. Heru mengungkapkan, “Tentu harapannya, muncul generasi muda Katolik yang berkualitas serta berguna bagi Gereja dan bangsa.”

Yohanes Mega Hendarto SJ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here