Kidung Cinta Penepis Duka

158
Theresia Sulistyowati.
[NN/Dok.Pribadi]
Kidung Cinta Penepis Duka
3 (60%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Sang suami keluar masuk rumah sakit. Ibarat burung, dia hinggap bergantian di rumah, kantor, dan rumah sakit. Ibu dua anak itu menelusuri hari demi hari dengan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan.

Air mata mengiringi rasa takjub. Theresia Sulistyowati juga tak percaya kerinduannya terbayar lunas. “Tuhan, saya kok bisa sampai di sini?,” bisik Sulis, sapaannya, ketika pertama kali menjejakkan kaki di Bandara Ciampino, Roma, Italia. Dia pergi bersama rombongan. Sungguh berkat, perjalanan ziarahnya itu bertepatan dengan Tahun Kerahiman Ilahi (08 Desember 2015-20 November 2016). Menjamah Pintu Kerahiman Ilahi di Basilika St. Petrus pun menjadi harapannya.

Selepas Roma, Lourdes menjadi tujuan berikut. Kota kecil di kaki Pegunungan Pyrennes, di sebelah selatan Perancis itu selalu ramai oleh peziarah dari pelbagai bangsa. Mereka memadati setiap sudut sambil berdoa secara khusyuk. Tepat di depan gua Maria, Sulis terduduk. Sunyi. Hanya suara isak tangis yang terdengar sayup. Ia seolah turut tenggelam dalam genangan keharuan yang syahdu.

Hatinya terasa begitu lekat dengan Tuhan. Terlebih setelah merasakan sendiri jamahan kuasa Tuhan. “Nyeri di lutut saya akibat udara yang sangat dingin, lenyap seketika. Bagi saya, ini mukjizat,” ujar Sulis saat ditemui di kediamannya di bilangan Bumi Serpong Damai, Sabtu, 24/3.

Durian Pemicu
Pada Oktober 1989, Paus Yohanes Paulus II datang ke Indonesia. Kunjungan yang menjadi momen bersejarah ini seolah menjadi reminder bagi Sulis. Pada tahun itu, sang suami, Frans Soepriyanto, pertama kali didiagnosis menderita diabetes. Dokter memvonis setelah melihat luka di jari kaki Frans, yang tersenggol knalpot motor, tak kunjung membaik. Bahkan satu ruas jarinya ikut terlepas. Meski saat kejadian, ayah Bernadet M. Wulanjari dan Maria Rosari Dwi Putri itu mengenakan sepatu. Sejak itu, ia harus menjaga makanannya secara sungguh-sungguh.

Usai Misa Malam Paskah, Frans diajak teman-temannya makan durian. Karena tak enak menolak, lantas ia mengiyakan. Sadar akan penyakit yang dideritanya, ia hanya mencoba sedikit. Semua tampak baik-baik saja. Tidak ada keluhan yang muncul setelahnya.

Namun, malang tak bisa ditolak. Keesokan hari, kepala Frans terasa pusing dan lukanya nyeri.

Tiga hari kemudian, apa yang Frans khawatirkan terjadi. Kakinya mulai membengkak. Dalam kepungan cemas, Sulis segera membawa suaminya ke sebuah rumah sakit di kawasan Jakarta Selatan. “Sempat semalam, dia dirawat di UGD dan baru keesokan harinya masuk ruang rawat inap,” kenangnya.

Dari hari ke hari kondisi sang suami terus menurun. Dalam waktu enam minggu, lukanya semakin parah. Paha kanan Frans mulai membusuk. Sulis segera memindahkan suaminya ke RS St Carolus. Setelah melewati berbagai prosedur pengalihan, segera pria kelahiran Solo, 4 Juni 1947 itu diterima dan mendapatkan perawatan intensif di sana.

Tindakan bedah kecil pun dilakukan untuk mengeluarkan nanah dari luka. Setelah empat minggu dirawat, Frans diperbolehkan pulang dengan luka di paha yang masih menganga. Batin Sulis tersayat melihat realita itu. Dokter mengajarkan cara membersihkan luka tersebut. Diperkirakan butuh waktu sekitar enam bulan hingga luka itu mengering. Dengan mata berkaca-kaca Sulis menyimak. “Duh Gusti, apa yang harus saya lakukan,” ucapnya dalam hati.

Perawat Dadakan
Sulis memutuskan untuk mengurus sendiri suami tercinta. Pagi-pagi buta dia merawat luka suaminya. Untuk itu dibutuhkan waktu satu setengah jam. Dua kali dalam sehari ia melakukannya. Kondisi ini berlangsung hingga tujuh setengah tahun. Praktis Frans tidak berpenghasilan. Jangankan mencari nafkah, untuk memiringkan tubuhnya saja dia harus ditolong.

Inilah awal mula Sulis menjadi “perawat” dadakan. Meski kerap kelelahan karena harus membagi waktu antara mencari nafkah dan membesarkan anak-anaknya, ia tetap tabah dan sukacita menjalaninya.

Keadaan ini tidak mudah, juga bagi kedua putrinya. Secara psikologis, mereka terpengaruh. Prestasi mereka agak menurun. Namun, Sulis selalu memompa semangat Deta dan Sari untuk mengutamakan pendidikan dan kemandirian.

Akhirnya, Sulis membawa Frans ke Pastor Lambertus Somar MSC. Terapi prana yang diberikan oleh Romo Somar, begitu ia disapa, tampaknya bekerja di tubuh Frans. Setibanya di rumah, nanah menghambur dari luka tersebut. Dengan sabar, Sulis membersihkannya seraya merapal doa. Sejak itu, seminggu sekali, Sulis rutin datang ke Romo Somar dengan membawa foto Frans. Serangkaian terapi berikutnya membuat banyak nanah keluar dari luka pendamping hidupnya itu.

Menginjak tiga bulan sejak diterapi, luka di kaki Frans mulai mengering. Kemajuan ini menjadi kado ulang tahun ke-40 Sulis. “Tuhan itu sungguh Mahabaik. Ia memberi kekuatan untuk terus melangkah meneruskan kehidupan,” ujarnya.

Perlu waktu bertahun-tahun bagi Frans untuk bisa duduk, berdiri, dan berjalan. Deta dan Sari melatih ayahnya berjalan. Dengan bantuan tongkat besi berbentuk U, Frans melangkah tertatih. Semangatnya tak pernah padam. Dia selalu yakin kesembuhan akan tiba.

Namun, sekali lagi takdir bertutur lain. Meski luka di kakinya membaik, diabetes terlanjur merongrong fungsi organ tubuh lain. Satu per satu jantung, ginjal, paru-paru, kulit, saraf, pencernaan, dan mata mulai meradang. Tubuhnya bagaikan tulang dibalut kulit.

Frans keluar masuk rumah sakit. Selama itu pula Sulis ibarat burung yang hinggap bergantian di rumah, kantor, dan rumah sakit. Sulis menelusuri hari demi hari dengan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Beban di pundaknya kian berat. Terlebih pada tahun 1998 Indonesia tengah dilanda krisis moneter parah. Ia harus mengatur pengeluaran dengan cermat agar bisa bertahan hidup. Koperasi kerap menjadi “pelabuhan terakhir” untuk menyiasati kebutuhan rumah tangga.

Setelah sekian lama berjuang melawan penyakit, pada 8 November 2001, Frans dipanggil Sang Khalik. Menurut dokter, sakit ginjal yang telah merenggut hidupnya. Tak ada lagi erangan sakit yang mendera suaminya. Hanya kenangan manis saja yang berjejak di benaknya.

Lembaran Baru
Kini, kedua putri Frans-Sulis telah beranjak dewasa. Prestasi studi mereka cemerlang melampaui harapan Sulis. Mereka juga telah mendapatkan pekerjaan yang membanggakan.

Setelah tiada lagi rutinitas yang memburu, kesibukan Sulis pun berangsur-angsur berkurang. Sehari-hari tugasnya hanya menemani sang cucu bermain. Secara bergantian ia mengunjungi kedua anaknya setiap akhir pekan. Hidupnya berubah. Benih-benih kebajikan yang ia tanam berbuah melimpah.

Namun, dahaga Sulis akan perjumpaan rohani seakan tak pernah terpuaskan. Pada tahun 2017, dia berziarah ke Tanah Suci. Baginya, tanah kelahiran Yesus itulah yang pertama dia dambakan. Suatu hari pada 2005, seorang pastor memberinya selembar brosur ziarah. Lalu, ia menyelipkannya ke dalam Kitab Suci seraya berdoa agar kelak bisa pergi ke sana.

Wacana pemindahan ibukota Israel dari Tel-Aviv ke Yerusalem yang dikhawatirkan orang tak sedikit pun menciutkan nyalinya. Puji Tuhan, gayung pun bersambut. Deta dan Sari membantunya mempersiapkan ziarah ini. Mereka ingin melihat ibunya bahagia. Sungguh tidak terbayangkan, satu per satu kerinduan Sulis tercapai. Bagaikan menerima undangan pribadi dari Tuhan, dia pun menyambutnya dengan sukacita. “Bagi saya, ini mukjizat,” ujar Sulis memungkasi perbincangan.

Decky Adiarto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here