Konferensi Sawit di Vatikan

573
Konferensi Sawit kerjasama Pemerintah Indonesia, Malaysia, dan Vatikan.
[beta.bpdp.or.id]
Konferensi Sawit di Vatikan
2.5 (50%) 4 votes

HIDUPKATOLIK.com – Indonesia dan Malaysia bekerja sama dengan Vatikan menghadapi larangan produk kelapa sawit masuk Eropa.

Mobil-mobil plat diplomatik memenuhi halaman Aula Magna Benediktus XVI di Kampus Universitas Urbaniana, Roma, Selasa 15/5. Aula berkasitas 500 kursi itu dipenuhi selain ratusan diplomat, juga perwakilan Uni Eropa, wakil lembaga swadaya masyarakat internasional, perusahaan multi nasional pengguna minyak kepala sawit dari negara-negara Eropa.

Mereka datang untuk mengikuti konferensi internasional kelapa sawit yang bertajuk “Mengikis Kemiskinan lewat Industri Perkebunan dan Pertanian demi Memberdayakan Keadilan dan Kemanusiaan”. Konferensi ini adalah kerjasama antara Kedutaan Besar Indonesia dan Malaysia serta Takhta Suci Vatikan.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia Luhut Binsar Panjaitan, yang menjadi keynote speaker mengatakan, konferensi ini merupakan bagian dari kampanye pemerintah Indonesia dan Malaysia terhadap keputusan Uni Eropa yang akan menghentikan import kelapa sawit.

Sebelumnya, tanggal 26 April 2018, Luhut bertemu Perfek Komisi Keadilan dan Perdamaian Vatikan Kardinal Peter Turkson. Luhut mewakili pemerintah Indonesia meminta dukungan Vatikan untuk menghadapi ancaman Uni Eropa yang menghapus penggunaan biodiesel dari sawit. Luhut meyakini, suara Vatikan akan didengar di Uni Eropa.

Seperti diktahui, parlemen Eropa akan menghapus penggunaan biodiesel dari minyak nabati tahun 2030 dan dari minyak kelapa sawit, termasuk dari Indonesia tahun 2021. Indonesia berpandangan usulan Komite Lingkungan Hidup Parlemen Eropa bertentangan dengan prinsip perdagangan bebas dan adil. Ini adalah diskriminasi terhadap produk sawit. Indonesia dan Malaysia adalah penghasil 80 persen produk sawit dunia. Produksi ini menyerap sekitar 15-18 juta tenaga kerja.

Konferensi ini juga menghadirkan Duta Besar Malaysia untuk Vatikan Tan Sri Bernard Giluk. Konferensi juga menghadirkan beberapa akademisi dan perwakilan dari industri pengolahan kelapa sawit.

Konferensi dipimpin oleh tiga duta besar Indonesia yaitu untuk Jerman, Belanda, dan Polandia. Mereka sepakat dengan Kardinal Turkson bahwa perlu membangun dialog inklusif untuk melihat dan “menyembuhkan” akar-akar masalah. Dalam dialog perlu dijaga keseimbangan antara negara produsen kelapa sawit dan negara-negara konsumen khususnya Uni Eropa. Disepakati juga pentingnya perkembangan integral manusia dan lingkungan hidup serta isinya. Ensiklik Laudato Si menjadi inspirasi bahkan kompas yang mengembangkan dialog inklusif.

Salah satu yang mencuat dalam konferensi ini adalah isu lingkungan hidup yang tak dapat dilepas dari maraknya invasi perluasan kebun sawit di Indonesia dan Malaysia. Salah satu produsen biskuit varian minyak sawit asal Ceko mengungkapkan, anaknya tidak lagi mengkonsumsi biskuit disebabkan karena anak itu mengetahui bahwa perkebunan sawit menyebabkan banyak orang utan dibunuh.

Pastor John Mitakda MSC

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here