Beato Gratia Cattaro OSA: Pelindung Para Pelaut

307
Beato Gratia Cattaro OSA.
[agustinianfriends.com]
Beato Gratia Cattaro OSA: Pelindung Para Pelaut
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Gratia berhasil melalui pertandingan “hitam” sebagai Beato Gratia Cattaro OSA pelaut. Ia beruntung, jalan hidupnya berakhir dengan kisah manis. Ia mengangkat “piala kemuliaan Tuhan.”

Abad XII, Venesia telah menjadi kota pelabuhan terkenal di Eropa. Salah satu kota di Italia ini bahkan dijuluki “kota di atas air”. Hal ini yang membuat Venesia digadang-gadang sebagai “kota mimpi” bagi para pelaut. Pergi ke Venesia, orang dapat melihat perahu-perahu dayung nan romantis, juga lukisan, brokat, kain damas, dan beludru.

Karena keindahannya, banyak yang menjadikan Venesia sebagai pusat perniagaan. Di Venesia pedagang asing menjual senjata, kuda, damar, kulit binatang, kayu, wol, madu, lilin, dan budak. Sementara kaum Mu slim Levant mengimpor emas, perak, sutra, rempah, katun, bahan pewarna, gading, dan minyak wangi. Seniman termasyhur, Paladio mengatakan, Venesia adalah la serenissima, ‘kota paling tenang’. Kota ini mempertahankan kejayaannya selama beradab-abad dan mulai surut pada abad ke-XVI. Kondisi semacam ini menjadikan Venesia sebagai tempat bertemunya sejumlah budaya. Venesia menjadi tempat singgah para pelaut.

Salah satu yang mencatat kejayaan Venesia ini adalah Gratia Cattaro. Dalam catatannya, Gratia melukiskan kota ini bak “kota cinta”. Lalu lintas pejalan kaki di lorong-lorong penuh air membuat setiap orang merasa sejuk. Satu-satunya kendaraan adalah perahu. “Kota ini sangat indah karena dihiasi kilauan sang surya di atas laguna hijau. Semuanya menginspirasi hidup para pelaut,” tulis Gratia ketika pertama kali tiba di Venesia.

Penikmat Hidup
Gratia pertama kali menginjakkan kaki di Venesia saat umurnya 30 tahun. Dari sang ayah, Gratia bisa mengetahui keindahan Venesia. Namun tidak gampang mengubah pendirian pemuda kelahiran Mulla, Montenegro, 27 Oktober 1438 ini. Ketika sang ayah memuji-muji Venesia, Gratia merasa hanya satu kota terindah di dunia yaitu Kota Kotor atau dalam bahasa Italia disebut Cattaro. Kota kecil ini terletak di Teluk Kotorska, Montenegro. Kotor menjadi pusat pelabuhan kapal-kapal dari Mediterania dan Laut Adriatik.

Tetapi sang ayah terus membujuknya untuk mencari pengalaman baru. Bila Kotor dibentuk oleh tangan manusia, Venesia justru dilukis dengan tinta emas Tuhan. Kafe-kafe terbuka ramai di alun-alun utama. Dari sang ayah, Gratia mengetahui keindahan Venesia. “Di Venesia, kamu tidak bisa membedakan malaikat dan penggoda, karena semua wanita berparas cantik,” bujuk sang ayah suatu hari.

Bujukan sang ayah soal wanita meluluhkan hati Gratia. Ia memutuskan berlayar ke Venesia dengan harapan bisa bertemu jodohnya. Sebagai pelaut, Gratia sudah terbiasa dengan kehidupan bebas dan berfoya-foya. Ia kerap melakukan perjalanan bersama teman-temannya ke Albania. Ia juga pergi ke daerah-daerah di Italia Utara seperti Catania bahkan sampai ke Yunani. Di tempat itu, Gratia menghabiskan waktu dengan mabuk-mabukan, berjudi, dan bermain perempuan. Kekayaan hanya bertahan sebentar karena dihabiskan untuk kenikmatan sesaat. Ketika sang ayah meminta Gratia ke Venesia, ia merasa perjalanan ini biasa saja, seperti perjalanan sebelumnya ke kota lain.

Sanjungan sang ayah soal keindahan Kota Venesia dan kecantikan para bidadarinya membawa Gratia tiba di Venesia tahun 1468. Begitu menginjak Venesia, ia tertegun menyaksikan arsitektur yang menjiwai sudut-sudut kota Venesia. Para gondolo ‘pendayung’ menebarkan senyum ramah pada setiap orang yang dijumpai. Gratia merasakan bahwa di Venesia tidak ada orang asing juga budak, di sini tidak ada raja dan rakyat, semua menyatu, duduk semeja dan makan bersama. Mereka menyantap polenta ‘bubur jagung’ dan ikan kod asin. Gratia pun tak bisa melupakan kelezatan kacang polong, asparagus, dan kubis bunga.

Berpaling Hati
Beberapa hari di Venesia, Gratia memutuskan ingin menikmati keindahan alun-alun utama kota. Dengan berjalan kaki, Gratia menyusuri Chiesa d’Oro, ‘Gereja Emas”, tempat ini kini dikenal sebagai alun-alun Basilika St Markus. Sambil menikmati keindahan arsitektur Bizantium, Gratia terperangah dengan khotbah seorang biarawan Ordo St Agustinus (Ordo sancti Augustini/OSA) Pastor Simone de Camerino OSA.

Batinnya bergejolak ketika biarawan itu menjelaskan tentang masa muda yang sia-sia karena kenikmatan duniawi. Pastor Simone bahkan menawarkan “jalan lain” untuk keluar dari kesia-siaan hidup ini, yaitu bersatu dengan Tuhan. “Bila anda menyia-nyiakan hidup, anda telah mendustai rahmat kehidupan yang Tuhan berikan. Indahnya hidup abadi bersama Yesus dan para kudus,” ungkapnya.

Gratia merasa khotbah Pastor Simone seakan-akan ditujukan untuk dirinya. Saat itu, ia merasa sangat berdosa dan tak berdaya. Ia merasa gagal dalam hidup. Baginya semua yang diperolehnya hanya sementara dan tak membuatnya terkenal. Pada titik ini, Gratia merasa jenuh dengan kehidupannya sebagai pelaut. Ia lalu meminta bantuan Pastor Simone untuk menunjukkan “jalan lain” bertemu dengan Tuhan.

Pastor Simone lalu mengantar Gratia ke Biara Monte Ortone Padua, Italia. Ini adalah sebuah biara kontemplatif yang kuat menjalankan regula St Agustinus. Di biara itu, Gratia memutuskan menjadi Bruder Agustinian.

Awal kehidupannya di biara, pelaut dari negara Balkan (Eropa Tenggara) ini ditugaskan sebagai merawat taman dan menjadi koster. Tugas ini dijalani dengan suka cita. Ia tidak banyak mengeluh. Bruder Gratia yang dulu hidup penuh godaan nafsu duniawi kini telah berlalu. Ia menjalani laku silih yang berat sebagai penitensi atas dosa-dosa masa lalunya.

Gratia tinggal dalam kedamaian biara selama 15 tahun hingga dipindahkan ke Biara Santo Kristoforus di Murano, pantai Venesia tahun 1482. Di sini Bruder Gratia menikmati hidup dalam Ekaristi yang mendalam. Ia menjadi pendoa dan penyembuh ajaib bagi orang-orang sakit. Di balik bilik pertapaan yang langsung menganga ke laut, sebuah cahaya bersinar kala dirinya tenggelam dalam doa dan meditasi. Bruder pencinta lingkungan ini benar-benar menikmati kemesraan dengan Tuhan dalam doa-doanya.

Di biara ini, Bruder Gratia menghabiskan masa tuanya hingga tutup usia pada 8 November 1508. Sebelum meninggal, ia meminta agar ia dimakamkan di pinggir laut untuk melindungi para pelaut. Setelah meninggal, banyak orang datang dan berdoa di makamnya. Banyak mukjizat dialami oleh mereka yang berdoa. Salah satunya adalah mukjizat kehidupan yang dialami seorang anak yang dinyatakan hidup setelah beberapa jam tenggelam.

Di atas makamnya tertulis “Dalam hidup, Gratia telah mengarungi badai laut yang ganas. Ia telah berhasil melalui pertandingan “hitam” sebagai pelaut. Ia telah keluar sebagai pemenang duniawi. Gratia beruntung bahwa jalan hidupnya berakhir dengan kisah manis. Ia tidak saja berakhir sebagai pemenang, tetapi berhasil mengangkat piala kemuliaan Tuhan. Selamat jalan penikmat abadi, berlayarlah ke surga.”

Tahun 1810, makamnya dipindahkan ke tanah kelahirannya di Gereja Paroki Mulla, Montonegro. Proses beatifikasi dimulai di Paroki Mulla dengan bantuan Ordo Agustinian. Paus Leo XIII mengesahkan mukjizat kehidupan anak tersebut. Bruder Gratia dibeatifikasi oleh Paus yang sama pada 6 Juni 1889. Bruder Gratia dikenang sebagai pelindung para pelaut dan kaum muda yang mau bertobat dan kembali di jalan Tuhan.

Yusti H. Wuarmanuk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here