Bertemu Mengatasi Prasangka

124
Peserta Pertemuan Student Interfaith Peace Camp dalam salah satu sesi kegiatan. [Dok. Pribadi]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com Pertemuan Student Interfaith Peace Camp berusaha menjawab wacana kebangsaan tentang aksi intoleransi yang akhir-akhir ini berkembang di Indonesia

PENGALAMAN yang berbeda dialami oleh 30 orang muda dari berbagai latar belakang pendidikan. Pada Jumat-Minggu, 4-6/5, mereka mengikuti Student Interfaith Peace Camp (SIPC) di Pendawa Center, Parung, Bogor, Jawa Barat.

Mereka datang dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bekasi, Bogor, Depok, dan Tangerang. Beberapa juga datang dari luar Lampung, Purwokerto, Serang, Tasikmalaya, dan Jayapura. Penyelenggaraan Peace Camp ini merupakan yang kedua untuk regional Jakarta.

Pesertanya terdiri dari 15 orang muda Muslim dan 15 orang muda Kristiani. Mereka telah diseleksi dari sekitar 170 pendaftar. Head of Facilitator YIPC Regional Jakarta Yulinda R.C. Lumban Gaol berharap melalui Student Interfaith Peace Camp ini akan dihasilkan para agen perdamaian (peacemaker) baru. Mereka akan menjadi aktivis untuk menyuarakan perdamaian di lingkungan sekitar.

Merangkul Perbedaan
Selaras dengan tajuk kegiatan ini, fokus pembelajaran bertujuan membentuk calon agen peacemaker. Selama kegiatan, peserta mendalami 12 nilai perdamaian seperti berdamai dengan diri, dengan sesama, lingkungan, dan dengan Allah.

Peserta juga mendalami tema keberagaman agama, sosial ekonomi, gender, mengklarifikasi prasangka, memahami grup, transformasi konflik, menolak kekerasan, dan saling memaafkan.

Paparan 12 nilai perdamaian itu adalah fondasi yang diambil dari ayat-ayat Kitab Suci yang mendorong peserta untuk mencari dan menemukan nilai keberagaman. Juli Rosan Tabisu, mahasiswi Universitas Sains dan Teknologi Jayapura mengisahkan, SIPC ini penuh dengan kesan damai.

Ia bangga dapat terlibat dalam kegiatan ini. “Sangat senang dan bangga bisa ikut Peace Camp tahun ini. Saya banyak belajar, banyak mendapat pengetahuan baru yang belum pernah saya dapat di Papua,” kesannya.

Peserta dari Sumatera Barat Vika Afrigusti mengungkapkan, dalam kegiatan common word ia belajar menemukan titik temu dari perbedaan yang sering kali dijumpai dalam kehidupan bersama.

“Karena pada sesi itu kedua agama saling mendengarkan dan melihat titik temu bukan menyoroti perbedaan,” ujar mahasiswi Institut Pertanian Bogor ini. Selama kegiatan peserta diajak untuk masuk dalam situasi rekonsiliasi, situasi yang mengundang kesadaran bahwa mereka semua adalah satu.

Hal ini diakui oleh Patricia Natasha. Siswi SMA Tarakanita Gading Serpong, Banten ini mengungkapkan bahwa perjumpaan dengan teman dari beragam latar belakang agama memperkaya pemahamannya tentang toleransi.

“Mengesankan sekali karena saat itu saya bersama para peserta beragama Kristen dan Katolik meminta dan menerima maaf dari peserta agama lain.” Kegiatan ini berawal dari sosok Andreas Jonathan dan Ayi Yunus Rusyana, dua mahasiswa Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS).

Tahun 2012 keduanya berinisiatif menyelenggarakan Young Peacemaker Training di Gedung Pasca Sarjana UGM Yogyakarta. Para peserta ini kemudian menjadi cikal bakal Young Peacemaker Community (YPC) Yogyakarta.

YPC kemudian dilanjutkan dengan berbagai pertemuan reguler seperti interfaith dialogue, kajian-kajian Kitab Suci, dan kebangsaan. Tema-tema yang diusung selalu dalam konteks perdamaian antar umat beragama berdasarkan moto YPC “Building Peace Generation Through Young Peacemakers”.

 

Muhammad Luthfi / Willem Turpijn (Bogor)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here