Berbenah Diri

66
Fasilitas keamanan di pintu gerbang Gereja St. Anna Duren Sawit demi mempermudah penjagaan.
[HIDUP/Antonius Bilandoro]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Trauma yang ada membawa pembelajaran agar terus menempa diri. Gereja berupaya meningkatkan keamanan agar tak lagi “kecolongan”.

Bukan kali pertama Gereja merasakan duka yang mendalam karena mengalami peristiwa yang tak terduga. Kali ini Gereja St Maria Tak Bercela Ngagel, Surabaya menjadi korban sekaligus saksi mata tindak kekerasan peledakan bom. Masih ingatkah kita akan peristiwa ledakan bom serentak pada Malam Natal tahun 2000? Peristiwa itu menyisakan luka dan trauma pada hampir setiap insan. Salah satu yang menjadi sasaran ledakan bom tersebut adalah Gereja St Yoseph Matraman Keuskupan Agung Jakarta.

Pasca ledakan, Gereja St Yoseph Matraman mulai kembali bangkit dengan melakukan beberapa pemugaran dan perbaikan terutama pada bangunan fisik gereja. Menurut Ketua Seksi Keamanan, Yan Keraf, gereja berbenah salah satunya dengan meningkatkan sistem keamanan. Akses keluar masuk hanya boleh melalui satu pintu yang dijaga satpam. Selain itu juga dengan pemasangan CCTV.

Lebih lanjut Yan mengungkapkan, petugas keamanan sendiri terdiri dari piket pagi, siang dan malam. “Dalam satu kali piket itu satpam dua orang. Kalau Misa Mingguan ditambah lagi dengan petugas tata tertib yang ‘among tamu’. Selain itu juga memang berkoordinasi dengan polisi selalu menjaga di pos khusus depan pagar gereja,” jelas Yan.

Pasca peristiwa Surabaya, Yan melihat umat sedikit berkurang yang ke gereja. Ia beranggapan mungkin ada rasa takut dan trauma. Namun Yan mengaku penjagaan keamanan berjalan seperti biasa. Ia berharap umat pun jangan merasa takut berlebihan dalam beribadat kepada Tuhan. “Hidup mati kita di tangan Tuhan.” Ia menambahkan agar semua partisan gereja bekerja sama untuk menjaga keamanan.

Gereja St Anna Duren Sawit sempat terjadi ledakan bom 22 Juli 2001. Paroki pun meningkatkan keamanannya demi mencegah hal serupa. Satpam Paroki Duren Sawit, Martinus Dudi menjelaskan, ia berusaha maksimal untuk waspada dan memperhatikan setiap umat yang keluar masuk gereja.

Martinus menjelaskan sebelum ledakan Surabaya terjadi, pintu akses keluar masuk ada empat: di pos penjaga, depan pastoran, akses ke Sekolah Strada, dan di bagian belakang. Kini pintu yang dibuka untuk akses keluar masuk hanya satu di dekat pos jaga. Selain itu juga terdapat VVTC yang dipasang. Sejak peristiwa di Surabaya ditambahkan petugas keamanan dari personil angkatan darat untuk berjaga di Gereja St Anna. “Sekarang manajemen paroki menambah keamanan. Jadi ada tiga satpam paroki dan tiga dari Angkatan Darat untuk siaga,” jelas Martinus.

Kepala Paroki Duren Sawit, Pastor F.X.Widiyatmoko SJ dalam khotbah pada Misa Minggu, 27/5 menghimbau umat agar juga menjaga keamanan gereja dan lebih mawas diri. “Jangan membawa tas besar. Lihat ke kiri-kanan, ke belakang, orang-orang siapa di dekat anda, apakah anda kenal, terbiasa datang ke gereja kita ini, supaya akhirnya bisa langsung dideteksi sejak awal, tidak seperti 15 tahun yang lalu, bom meledak pada Misa,” tegasnya.

Marchella A. Vieba

HIDUP NO.23, 10 Juni 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here