Yustina Ries Sunarti: Garasi Tunas Bangsa

296
Yustina Ries Sunarti bersama suami.
[NN/Dok.Pribadi]
Yustina Ries Sunarti: Garasi Tunas Bangsa
3.3 (66.67%) 3 votes

HIDUPKATOLIK.com – Dari sebuah garasi rumah, ia mulai memupuk asa demi masa depan anak yang cerah.

Yustina Ries Sunarti mendatangi satu demi satu playgroup di Bekasi. Ia mencari sekolah untuk anaknya. Sebagai guru Bahasa Inggris di salah satu SMA di Bekasi, Yustina bertekad agar kedua anaknya mahir berbahasa Inggris. Menurutnya, sekolah dengan pengantar Bahasa Inggris adalah pilihan tepat untuk mengoptimalisasi kecerdasan dan kemampuan berbahasa anak di usia emas. “Sekolah yang bisa mengakomodasi kebutuhan seperti ini yang saya cari,” ujarnya.

Sayang, tak satu pun yang Yustina temukan. Ia melihat orang-orang yang bisa berbahasa Inggris cenderung memiliki kesempatan yang lebih luas, punya kesempatan belajar di luar negeri dan karier yang cemerlang. Salah seorang kakaknya yang berdomisili di Amerika “mengomporinya” untuk membuka sekolah sendiri. “Kakak saya dan suaminya memotivasi saya, ‘Kalau kamu menginginkan sesuatu yang berbeda, kamu yang harus membuat perubahan itu’.”

Sambil mengajar di sekolah, Yustina kerap diminta memberikan pelajaran tambahan Bahasa Inggris untuk anak-anak tetangga. Dengan jadwal yang tidak tentu, kegiatan belajar ini sering berbenturan dengan kegiatan Yustina yang lain. “Kadang ketika saya mau keluar, mereka tiba-tiba muncul di depan rumah.”

Meski demikian, jumlah anak yang mengikuti semakin bertambah. Yustina lalu berinisiatif membuka kursus. Garasi di rumahnya disulap menjadi tempat kursus. Awal Januari 1997, kelas kursus pertama pun dimulai dengan jumlah peserta sekitar 30 orang.

Sambil menjalankan kursusnya, Yustina mempelajari metode pendidikan yang berdasar pada teori perkembangan anak-anak, yaitu metode Montessori dan Glenn Doman. Melalui metode ini anak bebas memilih aktivitas sendiri dan didorong untuk menentukan sendiri target keterampilan yang ingin dicapai. Alih-alih dijejalkan daftar keterampilan yang harus dikuasai, anak dapat mengikuti ketertarikan dan passion-nya.

Setahun berselang Yustina membuka playgroup berbasis Montessori yang ia namakan Victory Montessori Playgroup. Playgroup ini bertempat di sebuah ruko di kawasan Kemang Pratama, Bekasi, Jawa Barat. Dengan finansial yang masih lemah, ia mempekerjakan tiga guru tambahan dan seorang resepsionis. “Pekerjaan lain seperti bersih-bersih, saya kerjakan sendiri,” ungkapnya.

Playgroup ini kemudian diikuti pembangunan Taman Kanak-kanak (TK). Kedua sekolah ini menjadi yang pertama di Bekasi yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Awalnya,Yustina hanya berpikir untuk membuka sampai TK saja. Namun, pada akhir tahun ajaran pertama,10 orang tua murid memin tanya membuka Sekolah Dasar (SD). Mereka ingin agar anak-anak mereka melanjutkan di sekolah dengan pengantar Bahasa Inggris. “Saya terus didesak, sementara saya tidak punya tempat. Hanya ada satu ruang kelas waktu itu,” kata Yustina.

Namun, tempat tidak menjadi masalah bagi mereka. Rasa percaya orangtua murid yang besar itu membuat Yustina tergerak untuk menuruti permintaan mereka. Orangtua setuju membayar seluruh kewajiban administrasi pada awal tahun ajaran untuk memenuhi kebutuhan operasional SD baru itu.

Menjadi Pemenang
Seiring berjalannya waktu, tidak hanya Bahasa Inggris yang menjadi keunggulan sekolah yang Yustina dirikan. Lebih dari itu, ia menginginkan agar murid-murid nya berkarakter. Sekolah seyogyanya menjadi komunitas pembelajar untuk mencetak siswa-siswa yang memiliki international mindedness. “Saya ingin anak-anak saya menjadi pembelajar,” ungkapnya.

Yustina pernah membawa beberapa siswanya mengikuti International Student Camp di Jepang. Ia melihat ada perbedaan yang perlu dicontoh dari anak-anak asal Tiongkok, Taiwan, Thailand dan Korea yang juga mengikuti camp. “Usia mereka lebih muda tetapi mereka sangat mandiri. Barang bawaan mereka banyak, tetapi semuanya mereka bawa sendiri.”

Setelah 25 tahun berkecimpung dalam dunia pendidikan, Yustina melihat anak-anak Indonesia, di kalangan menengah ke atas, pada umumnya terlalu dimanjakan oleh orang tua. Orangtua terlalu memanjakan anak karena mereka pernah mengalami masa sulit pada zamannya. Sehingga setelah berhasil, orangtua memperlakukan anak dengan lebih hati-hati, dimanja, dan dilayani. “Anak-anak menja overprovided. Orang tua memberikan sangat berlebih, sehingga semangat juang anak menjadi menipis,” imbuhnya.

Di dunia yang penuh dengan persaingan saat ini, wanita yang terpilih dalam 100 Next-Era CEOs in Asia oleh Japan Times ini ingin agar siswa-siswinya menjadi pemenang. “Courageous, honest, active, mindful, positive, innovative, open minded, dan nobel menjadikan mereka CHAMPION (pemenang),” katanya.

Investasi Guru
Nilai-nilai CHAMPION ini yang ia tonjolkan dalam sekolah yang kini berkembang menjadi Sekolah Victory Plus (SVP). Dalam kurun waktu kurang dari 15 tahun, SVP telah melebarkan sayapnya, membuka SMP dan SMA. Baby gym untuk anak usia 6-24 bulan juga telah disediakan. Tidak mudah bagi Yustina menemukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dapat mendukung perwujudan nilai-nilai yang ia sebutkan di atas. Ia menuturkan SVP tidak hanya mendidik anak, melainkan juga guru-gurunya. “Terutama untuk anak-anak dua tahun, kita latih agar guru-guru dapat menangani sehingga anak-anaknya mau mengikuti aturan main, menuruti rutinitas, duduk manis mendengarkan, tidak bosan di sekolah dan belajar mandiri.”

Menurut Yustina, kapasitas guru juga berpengaruh pada implementasi kurikulum. “Ada sekolah yang bisa beradaptasi dengan perubahan kurikulum, tetapi kebanyakan belum bisa karena keterbatasan professional development,” tuturnya.

Untuk itu, pelatihan guru menjadi komponen besar dalam sekolahnya karena guru adalah kunci. Pelatihan guru dilakukan selama satu minggu di awal masa mengajar. Setiap minggu selalu ada satu kali pelatihan. “Kalau gurunya maju, anak didiknya pasti akan lebih maju.”

Guru-guru di SVP juga dituntut untuk bisa mengajar dengan pendekatan transdisiplin. Sekat-sekat disiplin ilmu yang tipis membuat pendekatan ini diperlukan. Yustina mengatakan, pendekatan ini membantu siswa-siswinya dalam memandang segala persoalan dan memecahkannya secara komprehensif.

Yustina Ries Sunarti
TTL : Tegal, 12 April 1970
Pendidikan : S1 Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga

Hermina Wulohering

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here