Memahami Iman dalam Horison Agama-agama Lain

254
Narasumber (ki-ka) : Pastor Simon Petrus L. Tjahjadi, Pdt. Martin Lukito Sinaga, dan Akhmad Sahal hadir dalam seminar bertajuk "Kekerasan dalam Kitab Suci", Sabtu, 9/6/18 di Gedung Pusat Alkitab, Salemba, Jakarta Pusat. [Dok. Sylvia Marsidi]
Memahami Iman dalam Horison Agama-agama Lain
2 (40%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.COM – Kekerasan tidak hanya ada pada agama tertentu, tetapi dalam berbagai agama. Karena itu untuk mengatasinya hendaknya memahami iman dalam horison agama-agama lain.

Demikian benang merah seminar bertajuk “Kekerasan dalam Kitab Suci”, Sabtu, 9/6/18 di Gedung Pusat Alkitab (Bible Center), Salemba, Jakarta Pusat. Tiga nara sumber berbicara dari perspektif tiga Kitab Suci, RD Simon Petrus L. Tjahjadi Pr (Katolik), Akhmad Sahal (Islam), dan Pdt. Martin Lukito Sinaga (Protestan).

Pastor Simon mengajak peserta untuk memahami dulu beberapa pengertian jika membahas hal ini. Tiga kerangka pembicaraan adalah agama sebagai sistem kepercayaan, Kitab Suci sebagai sumber iman, dan manusia sebagai penafsir.

Di dalam agama terdapat gedung ibadah, ritual, simbol-simbol, jemaat – pemimpin, ajaran moral dan dosa, bahkan ideologi sebagai ajaran yang mau menentukan secara mutlak bagaimana manusia seharusnya hidup dan memperoleh keeelamatan. Kesemuanya saling terkait.

Kitab Suci sebagai sumber iman bisa menjadi sumber inspirasi, tetapi bisa sebagai cetak biru yang memuat tatanan hidup yang harus diwujud-nyatakan dengan segala cara. Kalau perlu menghancurkan tatanan sosial politik yang sudah ada dan diganti tatanan dalam cetak biru tadi.

Ciri “suci” dalam Kitab Suci bisa memiliki dua arti. Pertama, Sabda Allah yang langsung diucapkan-Nya kata per kata, sampai titik komanya. Maka, manusia harus memahaminya secara harafiah dan menaatinya secara penuh. Kedua, Kitab Suci adalah Sabda Allah yang mengungkapkan kehendak Allah demi keselamatan manusia. Tapi, mediumnya adalah bahasa si manusia yang merefleksikannya dalam terang bimbingan Roh-Nya. Ini sangat berhubungan dengan ekspresi manusia, seperti sastra contohnya.

Yang juga tidak bisa diabaikan adalah manusia sebagai penafsir. Manusia yang kondisi psikologisnya punya relasi dengan unsur-unsur sosial-politik-ekonomi-budaya.

Karena itu, penghayatan hidup beragama tidak pernah bisa murni 100 persen. Selalu ada bahaya, manusia lebih menekankan hal artifisial daripada substansial. Agama bisa disalah-gunakan untuk kepentingan dan pemuasan kebutuhan tersembunyi manusia.

Nah, bicara tentang kekerasan dalam Kitab Suci, menurut Pastor Simon, ada tiga hal yang menjadi bahan bakarnya. Kosmologi yang diandaikan, tokoh sentral dalam Kitab Suci, dan paham Tuhan yang diwartakan di situ.

Di dalam Kitab Suci, terdapat gambaran simbolik tentang perang kosmik antara baik (Allah, malaikat) dan jahat (iblis, setan). Gambaran ini dapat dipakai untuk menggolongkan pihak lain sebagai jahat (kafir, sesat, pengikut setan) dan menilai diri paling baik (benar, saleh).

“Dengan keyakinan bahwa dirinya berada di pihak yang benar, pemeluk agama tertentu bersedia melakukan apa saja, termasuk meledakkan bom bunuh diri, untuk menghancurkan pihak lain yang dianggap jahat,” tutur Rektor Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta.

Lebih lanjut, Pastor Simon mengungkapkan bahwa kecenderungan ini tampak kuat dalam agama-agama monoteistik (percaya hanya ada satu Allah). Tapi ternyata dalam agama politeistik (banyak dewa dengan sifat berbeda) juga terdapat persaingan. Hal tersebut berpotensi untuk menjurus ke arah kekerasan.

Namun, tradisi pemikiran Yahudi- Kristiani secara faktual historis telah menyebabkan bangsa Barat memiliki kesadaran tinggi akan manusia sebagai subyek, martabat manusia, kebebasan, hak-hak asasi.

Di Indonesia banyak orang menjadikan tokoh Kitab Suci sebagai model hidup beriman. Tapi justru, lanjut Pastor Simon, profil hidup dan perkataan tokoh panutan itu turut menentukan karakter dari agama-agama bersangkutan.

Jika pendiri agamanya lebih suka mengarahkan perhatian ke sikap meditatif, maka agama itu tidak begitu “agresif” bergerak ke luar. Jika pendiri agamanya panglima perang, karakter “perang” jadi teladan hidup pengikutnya. Jika pendiri agamanya mengajarkan cinta kasih tanpa kekerasan, unsur itulah yang menjadi ikhtiar utama dalam gerakan agama itu.

Gambaran tentang Allah ikut menentukan praksis hidup seorang penganut agama dalam relasinya dengan dunia dan sesamanya. Jika gambaran tentang Allah dipahami sebagai pemberi hukum dan pembenci orang kafir, seperti yang ditafsirkan ahli Taurat dan orang Farisi, maka penilaian baik buruk orang terlalu legalistik. Bangsa lain dianggap terkutuk.

Tindakan Preventif
Pastor Simon memberikan tips bagaimana agar tidak terjebak ke dalam paham radikalistik. Pertama, membedakan tiga arti dalam Kitab Suci. Arti sastra, arti dogmatis, dan arti spiritual.

Arti sastra maksudnya arti yang dimaksud oleh pengarang Kitab Suci, ketika kitab itu ditulis. Ditelusuri dengan studi bahasa, budaya, situasi zaman, dan problem yang dihadapi dan konteks penulisan pada zaman itu.

Arti dogmatis ialah arti yang diajarkan menurut wewenang Gereja, berdasarkan perkembangan sejarahnya. Arti spiritual, arti yang ditangkap pembaca Kitab Suci, saat ia membaca Kitab Suci.

Ketiga arti ini perlu saling dikomunikasikan. Jika arti sastra dimutlakkan, ada bahaya Kitab Suci hanya jadi bahan arkeologi, kehilangan relevansi spiritualnya pada zaman kini. Jika arti dogmatis terlalu ditekankan, ada bahaya pemaksaan melalui kekuasaan. Di lain sisi, apabila arti spiritual yang ditonjolkan, pembacaan Kitab Suci mendorong pembacanya kepada privatisme atau reduksionisme, yang memaksakan tafsir pribadi pada semua orang.

Suara Hati
Upaya preventif kedua adalah mendengarkan Suara Hati (SH). “SH adalah kesadaran saya akan kewajiban dan tanggung jawab sebagai manusia dalam situasi konkret. Secara moral, kita wajib menaati SH,” tegas Pastor Simon.

Tapi SH bisa salah. Misalnya karena kekurangan informasi mengenai perkara yang akan diputuskan dan tindakan yang harus segera diambil. “Karena itu SH perlu memperhatikan dua patokan: subyektif: perasaan lega? Gembira? Takut? Tenang? Gelisah? Dan patokan obyektif yaitu norma-norma yang berlaku dalam ruang-waktu konkret. Misalnya, norma obyektif ‘jangan membunuh.'”

Imam kelahiran Jakarta pada 13 Juni, 54 tahun lalu itu turut mengutip satu kajian dari pendiri ilmu sosiologi dan administrasi negara modern, Max Webber. “Norma ini merupakan tindak kekerasan yang tidak boleh dilakukan seorang warga, melainkan dimonopoli oleh kekuasaan dalam sebuah negara modern, dengan wewenang yang sah.”

Perspektif Agama Lain
Pastor Simon menggaris-bawahi pentingnya upaya memahami doktrin-doktrin di dalam Kitab Suci, yang secara “radikal-keras” dapat dicegah dengan pembiasaan dan disiplin, untuk merefleksikan ajaran itu dalam horizon agama-agama lain. Pada tingkat ilmiah disebut berteologi.

Konsep “jihad” atau “tiada keselamatan selain lewat Yesus” atau bahkan “di luar Gereja tidak ada keselamatan” (extra ecclesiam nulla salus) contohnya, hendaknya dipahami bukan saja secara hermeneutis (perihal filsafat yang mempelajari tentang interpretasi makna-red.) internal melainkan dipertanyakan apa artinya itu dilihat dari perspektif agama-agama lain.

Dalam pengalaman Gereja Katolik bisa ditemukan adanya perkembangan makna yang terjadi dari zaman ke zaman. Oleh karena itu, makna sebuah ajaran, baik dari Kitab Suci maupun teologi ternyata memiliki dimensi historis. Ini juga terjadi pada semua agama.

Poster “Seminar Kekerasan Dalam Kitab Suci”. [Dok.pribadi]
Penulis: Sylvia Marsidi
Pengunggah: AB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here