Bangun Pesan Benar dan Damai

96
Para peserta “Training of Video Journalism” Signis Indonesia di Denpasar. [HIDUP/Antonius Bilandoro]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com Budaya damai dalam kebenaran diharapkan menjadi karya perutusan Signis Indonesia. Dibutuhkan pastoral kolaboratif demi terciptanya pesan cinta melalui media.

CUACA cerah mengiringi langkah para peserta pelatihan video jurnalistik bertajuk Training of Video Journalism di Wisma Keuskupan Denpasar, Bali, Rabu-Jumat, 16-18/5. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Signis Indonesia dalam kerjasama dengan Studio Audio Visual (SAV) Puskat dan Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Agung Semarang (KAS).

Pelatihan video jurnalistik ini diikuti dengan antusias oleh 42 peserta yang berasal dari 16 keuskupan. Selain itu ada juga tiga lembaga penyiaran yaitu Radio Montini Manado, Radio Suaka Nias, dan Radio Persada Pekanbaru.

Pewarta Damai
Hari pertama kegiatan ini dibuka dengan orientasi pelatihan dan perkenalan badan pengurus Signis, dasar sinematografi, dan pengenalan kamera video. Dalam sambutannya, Presiden Badan Pengurus Signis Pastor Anthonius Steven Lalu memperkenalkan secara singkat tentang Signis.

Ia mengatakan, Signis Indonesia sebagai asosiasi kerja media Katolik yang diakui oleh Vatikan dan mendapatkan bantuan dari Propaganda Fide. “Kita sekarang pakai uang Gereja untuk melatih kita semua menjadi komunikator pembawa pesan nilai-nilai cinta kasih Kristiani. Ini yang menjadi tujuan utama, juga Signis dunia tentunya”.

Lebih lanjut, Pastor Steven mengungkapkan, untuk bisa menjadi komunikator Gereja yang ulung ada tiga hal yaitu spiritualitas, keterampilan, dan kerjasama. Oleh karena itu ia mengharapkan agar para peserta dapat berkomitmen mengikuti pelatihan dengan setia untuk belajar, menindak-lanjuti proses (follow up) untuk terus belajar, dan untuk berjejaring (saling berbagi).

Pastor Steven pun berharap agar pastoral di bidang komunikasi sosial harus membangun kerja sama dengan semua pihak khususnya media komunikasi Katolik sebagai sarana evangelisasi.

Menurutnya, tujuan media komunikasi adalah membangun pesan yang benar dan budaya damai. “Kegiatan ini sebagai karya evangelisasi untuk mendukung karya pastoral kolaboratif media komunikasi Katolik di Indonesia.”

Agenda di hari kedua, peserta mengikuti sesi latihan editing, jurnalistik, dan penugasan reportase. Praktik produksi liputan dilangsungkan di beberapa tempat seperti di Pantai Sanur, pembuatan batu paras di Braja Sandi, dan pembuatan batik tulis di Denpasar.

Peserta dari Palembang Rinawati mengungkapkan kegembiraannya atas kegiatan ini. Ia mengatakan, latihan-latihan seperti ini menjadi penting khususnya bagi penggiat komunikasi di paroki-paroki. Sementara peserta dari Manado Fransiska Loho yang bekerja di Radio Montini Manado mengatakan, menjadi penyiar radio juga harus mengetahui konten-konten damai yang bisa disampaikan.

Ketika umat mendengar berita-berita yang tidak benar, tentu kesalahan utama bukan pada radionya tetapi pelaku di industri radio. Ia menambahkan, pelatihan semacam ini sangat membantu penggiat radio untuk menjadi saksi kebenaran dan bijak dalam menyampaikan pesan Tuhan.

Pada hari terakhir, peserta melanjutkan proses editing dan mixing liputan untuk dipresentasikan. Setelah itu para peserta mendapatkan masukan dan evaluasi dari setiap kelompok, termasuk dari anggota Signis yang diwakili oleh Pastor Yustinus Slamet Wito dan pelatih dari SAV Puskat FX Tri Mulyono dan Slamet Budi.

Antonius Bilandoro (Bali)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here