Kembali ke Penciptaan

72
[Henricus Witdarmono M.A. Rel. Stud. Katholieke Universiteit te Leuven, Belgia]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com 1 Raj.21:17-29; Mzm.51 : 3-4,5-6a, 11,16; Mat. 5:43-48

Perintah “mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita” (ay 44), merupakan puncak dari kriteria baru hubungan antarmanusia. Kriteria itupun ditempatkan dalam konteks Ilahi: “menjadi putra-putra Bapamu (Yun. huioi tou Patros)” (ay 45a).

Identitas baru sebagai ‘putra Allah’ inilah yang menjadi dasar arah jalan hidup manusia baru, yaitu “menjadi sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna” (ay 48). Allah itu sendiri digambarkan sebagai Bapa yang bijaksana dan tidak pilih-kasih.

Dia “menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, serta menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (ay 45b). Dia adalah Allah yang mengasihi semua orang dan segala yang ada (lih Ayb 5:10-11; Mzm 145:9; Keb 11:23-24; Sir 18:11).

Pada Khotbah di Bukit, Yesus menekankan bahwa ‘keputraan dalam Bapa’ ini terkait dengan menjadi ‘pembawa damai’. “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut putra-putra Allah” (ay 9).

Melalui ‘keputraan manusia’, perdamaian, dan kesempurnaan Ilahi itu, dimanifestasikan sebuah penciptaan kembali keadaan yang sempurna (Yun. teleios), yaitu ‘Taman Firdaus baru’ dengan penghuninya, putra-putra Allah dalam Kristus!

Dalam pemahaman biblis, kesempurnaan itu merupakan pemenuhan kehendak Allah, yang harus diwujudkan dalam hidup nyata (lih Ul 18:13). Maka, ada perintah baru: “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna (teleios)” (ay 48).

Yesus pun menunjukkan wujud kesempurnaan itu secara lugas. “Jikalau engkau hendak sempurna (Yun. teleios), pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Mat 19:21).

Dalam konteks kemuridan Yesus, praktik pribadi penyatuan diri dengan kesempurnaan Ilahi itu berupa sebuah upaya melepaskan egoisme narsistik, agar bisa concern pada orang lain.

Untuk menjadi sempurna, kata Yakobus dalam suratnya, perlu ketekunan yang loyal (Yak.1:4.8), pengendalian diri (Yak.3:2), serta perbuatan nyata (Yak.1:25). ‘Sempurna’ memang tidak berakhir hanya sebatas judul lagu belaka!

 

Henricus Witdarmono M.A. Rel. Stud. Katholieke
Universiteit te Leuven, Belgia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here