No Selfie Please

203
[Henricus Witdarmono M.A. Rel. Stud. Katholieke Universiteit te Leuven, Belgia]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com 2 Raj. 2:1.6-14; Mzm. 31:20,21,24; Mat.6:1-6.16-18

Sejak tahun 2016, polisi India telah menetapkan 16 tempat berbahaya, di mana orang dilarang ber-selfie. Sebelumnya, beberapa remaja telah mati, jatuh dari tebing laut atau tempat-tempat wisata unik, gara-gara ber-selfie.

Selain di India, ber-selfie dengan berbagai gaya di Pakistan, Rusia, dan AS, juga telah memakan korban. Tujuan ber-selfie adalah agar tidak ketinggalan momentum dan sekaligus memperoleh likes dari ‘dunia’.

Itulah bukti kehidupan zaman now. Di zaman Yesus, ber-selfie juga dilakukan oleh ‘kaum munafik’, khususnya saat memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa: tiga perbuatan penentu dan dasar kesalehan religius Yahudi (lih Tob 12:8).

Maka, mereka pun ber-selfie saat bersedekah dan berdoa melalui ekspos publik (ay 1) di tikungan jalan raya (ay 5), dan melalui wajah memelas (ay 16) saat berpuasa. Momentum selfie kesalehan religius itu tidak boleh dilepaskan, begitu keyakinan mereka.

Yesus menyebut mereka yang suka meng-selfie-kan kesalehan religius mereka sebagai kaum munafik atau hipokrit (Yun. hupokrités = pemain sandiwara). Bak pemain tonil dan demi selfie, mereka selalu ‘berganti wajah’ sesuai keadaan.

Tidak ada lagi kejujuran, keaslian dan kesejatian. Kalau sudah begitu, mana mungkin mampu berada di hadapan Allah yang “melihat yang tersembunyi” dan “menjadi sempurna seperti Dia yang di surga adalah sempurna”?

Kekristenan memang menuntut para pengikutnya untuk selalu membuka diri apa adanya bagi rahmat dan kasih Allah yang telah tersedia. Menuruti kriteria likes dari ‘dunia’ melalui selfie kesalehan religius hanya menjauhkan diri dari “balasan berkat Allah” (ay 4. 6.18).

 

Henricus Witdarmono M.A. Rel. Stud. Katholieke
Universiteit te Leuven, Belgia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here