Yayasan Widya Cahaya Nusantara: Penjaga Warisan Budaya

180
Beberapa pengurus Yayasan Widya Cahaya Nusantara saat meresmikan Griya Inspirasi Jebrin.
[Dok.YWCN]
Yayasan Widya Cahaya Nusantara: Penjaga Warisan Budaya
2 (40%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Masyarakat Indonesia kurang memiliki minat terhadap kekayaan budaya. Meski begitu, di sinilah tersimpan nilai luhur bangsa Indonesia.

Seni ukir patung Asmat adalah potret kehidupan masyarakat yang hidup di pesisir pantai dan di daerah pegunungan. Di dua tempat itu, masyarakat Asmat hidup dari hasil-hasil alam. Sebuah kehidupan yang bersahaja dengan berlimpah berkat dari Yang Maha Kuasa.

Seni ukir Asmat menjadi tanda pewarisan tradisi sistem kepercayaan yang masih dipertahankan hingga kini. Seni ukir Asmat juga merupakan lambang kehadiran dan penghormatan terhadap leluhur ataupun Mbiu ‘roh nenek moyang’.

Warna-warna kehidupan suku asma itu, setidaknya jelas terekam dalam beberapa karya Wow-Lipits dan Wow Lwir yang memamerkan ukirannya di Han Awal and Partners Gallery, Bintaro, Banten, 5/5. Adalah Yayasan Widya Cahaya Nusantara (YWCAN) dan Yayasan Rumah Asuh yang menginisiasi pameran ini, mereka membawa Kesenian Ukir Asmat ke Jakarta, agar masyarakat pun dapat belajar dari kearifan mereka.

Estafet Warisan
Jenfillia S. Arifin mengungkapkan, saat ini ada sekitar 11.000 buah artefak tentang Suku Asmat namun hanya sekitar 1900 yang terpelihara dengan baik. Ini menjadi keprihatinan YWCAN. Kondisi ini memprihatinkan, mengingat inilah gambaran minimnya kepedulian masyarakat Indonesia. “Ironisnya masyarakat Indonesia cenderung tidak memiliki minat terhadap kekayaaan budayanya sendiri. Salah satunya misalnya minat terhadap Asmat,” jelas Penerus Yayasan YWCAN ini.

Jenfillia menjelaskan, artefak Asmat misalnya ada di beberapa museum dunia. Salah satunya berada di De Young Museum, di Golden Gate Park San Franciso dan Metropolitan Museum of Art New York keduanya di Amerika Serikat. Selain itu di Perancis, artefak ukir Asmat dapat ditemukan juga di Muse Du Quai Branly. Ini masih belum termasuk beberapa museum lain yang memiliki koleksi artefak Asmat.

Ada banyak kekayaan Budaya Indonesia yang harus diperhatikan. Jenfillia menuturkan, persebaran artefak menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia untuk memetakan satu per satu. “Ini merupakan warisan leluhur dan sebagai generasi muda kita adalah estafet warisan leluhur tersebut.”

YWCAN lahir dari keprihatinan tersebut. Yayasan ini menjadi tempat bertemu sekelompok profesional, pengusaha, akademisi, pemerhati budaya, serta bahkan rohaniwan dan rohaniwati. Jenfillia menuturkan, mereka yang merasa terpanggil dan ingin megajak sebanyak mungkin orang untuk ikut serta mendorong kemajuan Nusantara. “Yang terjadi selama ini sebagian dari kita tidak peka dengan karya anak bangsa sendiri. Kita malah menolak dan terasing dengan karya budaya kita sendiri,” katanya.

YWCAN menampung siapa saja dari beragam latarbelakang suku dan agama. Di sini, mereka sepenuhnya mandiri, tidak berafiliasi pada pemerintah, atau partai atau organisasi atau lembaga keagamaan manapun.

Jenfillia menuturkan berbagai kekayaan budaya Nusantara diangkat dan dimuliakan oleh YWCAN. Tak hanya Asmat, mereka juga peduli pada kelestarian budaya Sumba dan Dayak. YWCAN bekerjasama dengan Rumah Asuh dan Tirto Fundation untuk membangun kembali beberapa rumah Budaya Sumba yang sebelumnya telah mulai dilupakan. “Selain itu memperhatikan budaya tenun Sumba. Sedangkan di Kalimantan suku Dayak, membangun kembali beberapa rumah bentang khususnya di Sandel dan Sekitar.”

Kearifan Lokal
Gereja Katolik dan Kristen secara umum tak jarang mejadi mitra dalam usaha YWCAN untuk menjaga kearifan lokal. Pastor Medardus Eko Budi Setiawan OSC memaparkan perubahan zaman berjalan begitu cepat. Ini membuat kearifan lokal tergerus yang berakibat kurangnya kesadaran masyarakat akan budaya. YWCAN bekerjasama dengan beberapa paroki di Atjs, Keuskupan Agats sangat membantu untuk menghidupkan kembali kearifan lokal.

Pastor Budi melanjutkan, YWCAN berjalan seiring dengan misi Gereja untuk melestarikan keutuhan budaya dan tradisi. Ia menjelaskan, pastoral di Asmat berjalan berbasis adat dan budaya. Maka, mengembangkan kembali kehidupan lokal merupakan kebutuhan. “Kekayaan mereka yang tertinggi hanyalah kearifan lokal dan kearifan lokal merupakan harga diri mereka. Dengan menjaga kearifan lokal maka sekaligus mengurai simpul-simpul persoalan yang mereka hadapi,” jelas Pastor Budi.

YWCAN bersama Gereja hadir untuk melindungi Aset masyarakat lokal. Aset mereka berupa artefak,ukiran, tarian, tenunan, dan berbagai karya budaya yang diwariskan turun temurun. Yayasan ini juga turut membantu pendidikan dengan mendirikan sekolah perkayuan bekerjasama dengan Panitia Peduli Keuskupan Agats. “Yayasan ini memiliki akses kepada dunia luar untuk menggaungkan kearifan lokal terutama di pelosok tanah air. Merekalah yang membantu masyarakat lokal untuk memperkenalkan karya-karya mereka melalui pameran dan aktivitas lainnya,” ungkap Pastor Budi.

Budaya Pedalaman
Arsitek Yayasan Rumah Asuh Yori Antar menjelaskan proyek yang sedang dikerjakan saat ini adalah mengangkat budaya Asmat melalui pameran. Dalam pameran ini kedua yayasan ini berusaha mengembangkan museum modern. “Museum ini harus bersinergi dengan budaya Asmat dan menghasilkan sebuah kombinasi dari museum sebagai bagia dari budaya yang hidup (living Culture).”

Dengan konsep semacam ini, bangunan museum tidak menjadi sebuah bangunan mati tetapi museum yang menghidupkan nilai-nilai artefak yang dipamerkan. Ia berharap dengan dibangunnya museum ini menjadi inspirasi bagi museum-museum yang lainnya.

Jenfillia mengeluhkan kaum muda saat ini yang tergerus dengan budaya luar. Mereka tak lagi memiliki kebanggaan atas kekayaan budaya Nusantara. Budaya luar yang sering tidak selaras dengan nilai-nilai luhur leluhur malah dengan mudah mereka terima. “Arus dari luar tersebut harus dipertahankan dengan menggali kembali budaya-budaya atau kearifan lokal. Kaum mudah tidak boleh diasingkan dari budayanya sendiri.”

Untuk menstimulasi kepekaan kaum muda maka dibentuklah yayasan membentuk “YWCAN Youth”. Jenfillia menjelaskan, generasi muda sebagai masa depan bangsa diajak untuk membantu YWCAN berbicara dan menyajikan pelestarian seni dan budaya dalam bahasa yang sesuai dengan zaman modern. “Tentu saja menarik bila karya seni dan budaya ditampilkan dalam bahasa yang sesuai dengan tren masa kini. Dengan cara itu mungkin akan mendapat perhatian yang luas dari kaum muda.”

Salah satu yang sedang dijalankan adalah Pameran Asmat Melihat Dunia yang kini berlangsung. YWCAN Youth terlibat dalam beberapa program. “Pameran ini dikemas sedemikian rupa dengan konsep kekinian, sehingga dapat memunculkan seni dan budaya Asmat. Semoga ini dapat diterapkan juga untuk budaya Indonesia lainnya.”

Willy Matrona

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here