Iman di Luar Batas

104
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com Rat. 2:2.10-14.18-19; Mzm. 74:1-2,3-5a,5b-7,20-21; Mat. 8:5-17

Bagi komunitas penginjil Matius yang mayoritas Kristen Yahudi, kisah penyembuhan hamba perwira di Kapernaum menjadi undangan untuk keluar dari ghetto, yang tertutup dan ekslusif, menjadi komunitas yang terbuka pada universalitas.

Demikianlah kisah ini menjadi teguran bagi setiap komunitas gerejawi yang menghadapi tantangan untuk menjadi “puas diri,” tertutup pada kelompoknya sendiri dan tidak mempunyai kepedulian pada komunitas gerejawi di lain tempat yang jauh.

Ibu mertua Simon yang terbaring sakit di rumahnya di Kapernaum itu harus disentuh oleh Yesus sehingga hilanglah demamnya. Perwira di Kapernaum, yang menganggap hambanya (yang barangkali seorang Yahudi) seperti anaknya sendiri, hanya membutuhkan kata-kata Yesus yang penuh daya karena merasa diri tidak pantas menerima Yesus di rumahnya.

Mungkinkah perwira itu, yang bukan orang Yahudi, lebih beriman daripada semua orang Yahudi yang berada di sekitar Yesus waktu itu?

Gereja yang terbuka dan mampu keluar dari diri sendiri, selalu mempunyai kesempatan untuk belajar dari yang lain, bahkan dari yang tidak seiman, untuk menangkap semina verbi, benih-benih Sabda yang ditabur di mana-mana itu.

 

Pastor Vitus Rubianto Solichin SX
Dosen Kitab Suci STF Driyarkara Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here