Misbar

87
Misbar
3 (60%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com MISA Minggu sore di Gereja St Ignatius dimulai pukul 18.00. Hampir semua orang Katolik tahu. Mengapa? Mengapa orang-orang lebih memilih ke gereja ini? Itu pertanyaannya. Ada yang mengatakan misanya singkat kurang dari satu jam.

Rupanya Misa Kudus sudah diukur dengan durasi. Strategis, semua angkutan lewat di depan gereja. Parkirnya luas. Jemaatnya cuek, cukup salam damai dan “misbar”. Selesai Misa bubar.

Memang sebagian besar yang ikut misa adalah orang yang punya paroki tapi tak mau terlibat kegiatan di parokinya. Ini jurus melarikan diri. Karena sakit hati dengan romonya, sekretariat, ketua lingkungan, atau dengan tetangganya. Atau mereka yang tidak terdaftar ke mana-mana alias warga gereja ilegal. Masih tercatat di gereja lama di kampung halaman tetapi belum pindah meski sudah bertahun-tahun merantau di Jakarta.

Nico, Magnus, There, Ignas, Vero. Lima sekawan ini setahun belakangan selalu mengikuti Misa Minggu sore jam 18.00. Mereka berasal dari daerah yang berbeda. Nico dari Kulonprogo, Magnus dari Bajawa, There dari Samarinda, Ignas orang Pringsewu, dan Vero dari Lumajang.

Mereka para penyintas di ibukota dengan modal S1. Salah satu yang mengikat mereka adalah kontrakan yang sama, lebih tepatnya apa ya… sedikit di atas rumah petak, di kawasan Tanah Tinggi. Daerah merah menurut catatan kepolisian sebagai daerah rawan narkoba dan tawuran antargang.

Itulah yang terjangkau dengan kemampuan gaji plus lembur mereka. Setiap bulan harus membayar 1.000K. Pukul 17.30 baru There dan Vero yang sudah mandi. Nico dan Magnus masih main catur. Ignas masih ngorok. Kedua gadis bijaksana itulah yang mengingatkan untuk segera mandi dan bersiap ke gereja.

Mereka hanya mengiyakan tetapi tidak segera beranjak. Biasanya perjalanan ke gereja kurang lebih lima belas menit paling lama. Wajar kelau kedua calon GM ini masih berpikir keras dan tak begitu memedulikan peringatan There dan Vero.

Untuk kesepuluh kalinya Magnus kalah. Sesuai perjanjian, pecatur yang kalah membelikan mie ayam dan kopi. Magnus terpaksa memesankan mie ayam dan kopi untuk Nico. Nico bergegas ke kamar mandi, tapi ternyata masih harus menunggu giliran. Di depan kamar mandi duduk Kang Asep berkalung handuk lusuh.

Di sampingnya Bejo tak kalah lusuhnya. Baru Nico di urutan ketiga. Usai mandi Nico masuk kamar untuk ganti baju. Di meja kecil di samping lemari plastik sudah tersedia semangkuk mie ayam memerah dengan saus tomat dan sambal. Ditemani secangkir kopi hitam.

Memang nikmat menikmati mie ayam rasa(h) bayar alias gratis. Magnus sudah memanggil untuk berangkat ke gereja. Nico cepat-cepat mengenakan hem batik geble’g re’nte’ng warisan bapaknya. Keduanya berpandangan dan merasakan sepertinya ada yang kurang dari keduanya.

Oh ya… Ignas. Keduanya menggedor pintu kamar Ignas. “Cepat mandi… tinggal sepuluh menit…,” kata Nico. Ignas yang masih kebingungan, “Ngapain mandi?”
“Ke – ge – re – ja, jelas!!!!!”
Dua sekawan menunggu satu temannya yang menuju mandi. Tetapi Ignas ini tipe orang yang teliti. Rekor mandi paling cepatnya sepuluh menit. Itu terjadi setelah mendapat surat peringatan karena sudah lima belas kali terlambat masuk kantor dalam sebulan. Penyebabnya ya… kelamaan di kamar mandi. Sudah lima kali dua sekawan bergantian menggedor-gedor kamar mandi. Tak ada reaksi.
“Ignaaaaaas mandiii apa tiduuur, siiiiih?”
Ketiganya siap ke gereja setelah menunggui Ignas menyikat sepatunya, berganti baju yang sesuai, sisiran, dandan.

Semua perlu waktu sepuluh menit lagi. Ketiganya harus menunggu lagi. Siapa yang ditunggu? Dua gadis matang dan siap menikah ini perlu waktu lebih lama untuk dandan. Mereka sangat detail dari ujung sepatu sampai setiap helai rambut sungguh diperhatikan. Maka harap maklum kalau perlu waktu untuk dandan.

Pesona sebagai gadis milenial harus tampak. Tampak dari gaun yang dikenakan yang mengikuti perkembangan mode di Paris meski belinya di Tanah Abang. Sedang mode gaun dengan bahu terbuka. Itulah masalahnya. Kulit bahu yang cenderung kehitaman harus di samarkan agar mendekati putih.

Kalau memakai pemutih, memang bahu menjadi putih tetapi leher, tangan, kaki masih tetap kehitaman. Untuk itu mereka berdua berusaha agar mata orang hanya tertuju pada bahu yang terbuka, yang lain disamarkan.

Itulah yang membuat mereka lama dalam mematut diri. Lima sekawan lalu mencegat mikrolet 305 yang rutenya lewat di depan gereja. Lima orang itu saja penumpangnya tidak ada tambahan penumpang lain, seperti mikrolet sewaan. Lumayan ada sewa daripada kosong.

***

Vero dan There seperti artis yang melewati karpet merah dengan tiga bodyguard. Jelas semua mata memandang lima sekawan ini karena mereka masuk ke gereja, lewat bagian tengah pada saat yang “tepat” yaitu pada saat Bacaan Kedua.

Hanya bagian depan dan tengah yang masih kosong. Seksi tatib gereja dengan tergopoh-gopoh mengantar mereka. Tindakan atraktif ini tentu semakin menarik mata untuk menoleh ke mereka. Keadaan ini seperti yang diharapkan yaitu mendapat perhatian dari seluruh warga gereja. Siapa tahu ada yang tertarik dan usai nisa bertukar WA dan IG.

Sudah dandan mahal-mahal masa tidak ada yang memerhatikan. Terlambat itu memang disengaja agar oleh petugas tata tertib di antar ke bangku yang masih kosong dan pasti akan menarik perhatian orang.

Apalagi dengan dandanan dan pakaian yang modis dan norak. Kalau ada yang merasa terganggu dengan kehadiran lima sekawan yang disongsong oleh petugas ya… mohon maaf.

Jadi jangan salahkan mereka yang terlambat ke gereja karena terlambat itu memang disengaja. Jangan marah karena terganggu kekhusukan doanya, karena harus memberi tempat. Jangan marah karena ke gereja bukan untuk berdoa atau bahasa Biblisnya bertemu Tuhan. Ke gereja hanya salah satu cara menunjukkan eksistensi diri.

Maka setelah mendapat perhatian orang-orang tujuan ke gereja sudah tercapai. Berdoakah?
Tidak. Mereka segera mengeluarkan smartphone dan update status kalau sedang di gereja. Sembari berselancar di dunia maya, mengecek komen, dan main games.

Sebagai generasi milenial yang salah satunya ditandai dengan kemampuan melakukan beberapa kegiatan sekaligus dalam waktu yang sama. Mereka bisa mendengar pembacaan Injil sembari jempol tangannya sibuk, matanya berpindah dari romo ke layar balik lagi ke romo dan seterusnya.

Saat homili merupakan waktu yang paling seru. Sementara romo homili mereka bisa chatting dengan rekan dan teman yang berada di luar gereja. Gedung gereja tidak bisa membatasi mereka untuk berjejaring dengan teman-temannya.

Badannya ada di gereja tetapi hati dan pikirannya bisa ke mana-mana. Mereka janjian makan di Kafe Adi’Os. Semua ritus bisa dilakukan sembari jempol tangan terus bergerak, mata sesekali melihat ke altar dan layar smartphone. Pada saat komuni maju dan langsung keluar tidak kembali ke tempat duduk.

Langsung naik transjakarta ke Kafe Adi’Os. Berkumpul ditingkahi sendagurau dan tangan tak lepas dari smartphone dan sebatang rokok. Cerita seru sembari memperlihatkan lucu-lucuan dari Youtube.

Jangan ditanya apa yang mereka peroleh ketika mengikuti misa. Injilnya, homilinya, bacaan pertama dan keduanya, siapa romonya. Tak ada yang nyangkut sedikit pun. Kegiatan menggereja? Belum terpikir sama sekali.

Barangkali waktu sudah pensiun nanti bisa ikut kegiatan menggereja itu pun kalau masih kuat berjalan. Jangan tanya-tanya ah, gak penting. Bagi mereka, mau ke gereja saja itu sudah sangat baik. Jangan salahkan mereka karena mereka ini kelompok kategorial “misbar”, Misa belum selesai sudah langsung bubar.

 

Nicolas Widi Wahyono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here