Dialog Agama untuk Kehidupan

107
Pastor Dr Greg Soetomo SJ (duduk ketiga dari kiri) dan peserta studi bersama Ikatan Sarjana Katolik Indonesia di ISKA Center, Ruko Roxy Mas, Jakarta Barat, 27/7. [HIDUP/Antonius Bilandoro]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com PADA abad ke-18, kejayaan Eropa meraih kejayaan di bidang ekonomi, politik, dan militer, namun kejayaan ini tidak terjadi dalam bidang religius. Eropa tetap gagal mengkristenkan negara-negara Muslim. Hal ini diungkapkan Pastor Greg Soetomo, SJ dalam hari studi Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) di ISKA Center, Ruko Roxy Mas, Jakarta Barat, Jumat, 27/7.

Pastor Greg menuturkan, dialog menjadi langkah penting dalam kehidupan bersama. Namun ia memberi catatan, ketika dialog agama menjadi alat untuk tujuan politik, maka dialog itu mengalami kemunduran. “Dialog kita paling yang sederhana saja, misalnya buka puasa bersama,” ungkap Doktor lulusan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta itu.

Dosen di Ateneo de Manila University ini menyarankan, lebih baik dialog diarahkan pada sebuah percakapan tentang kehidupan. Ia mencontohkan, bila ada teman Muslim yang sakit maka mereka dapat dikunjungi. Dalam interaksi semacam ini dialog lahir dengan sendirinya.

Peserta dari beragam lintas agama terlihat menghadiri diskusi dengan tema “Agama-agama dalam Goncangan Politik Kepentingan” ini. Acara dipandu Ketua Bidang Perekonomonian DPP ISKA, Nugroho Agung Wijoyo.

 

Antonius Bilandoro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here