Budhy Munawar-Rachman : Menemukan “Keislamannya” di STF Driyakara

1595
Doktor fi lsafat: Budhy Munawar-Rachman (tengah) bersama promotor, ko-promotor disertasi, serta para penguji.
[HIDUP/Aprianita Ganadi]
Budhy Munawar-Rachman : Menemukan “Keislamannya” di STF Driyakara
3 (60%) 4 votes

HIDUPKATOLIK.com – Lebih dari 13 tahun, pria ini berkarya di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta. Kini, ia dinobatkan sebagai doktor filsafat kedelapan dari STF Driyarkara dan lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Sabtu, 26/4, hari penuh ketegangan, namun sekaligus penuh kebahagiaan, bagi pengajar Islamologi dan Filsafat Islam STF Driyarkara ini. Hari itu, Budhy Munawar- Rachman berhasil mempertahankan disertasi berjudul “Titik Temu Agama-agama Analisis atas Islam Inklusif Nurcholish Madjid” dalam sidang terbuka di Gedung Pascasarjana STF Driyarkara.

Sidang terbuka yang cukup menegangkan itu berlangsung selama satu jam. Hadir sebagai promotor Prof Dr M. Sastra pratedja SJ, Ko-Promotor I Prof Dr Kautsar Azhari Noer, dan Ko-Promotor II . Sementara para penguji terdiri atas Prof Dr Siti Musdah Mulia, Dr J.B. Heru Prakosa SJ, dan Prof Dr J. Sudarminta SJ. “Pilihan topik sangat tepat, semoga berguna dan dapat menjadi sumbangan ilmu, terutama mengenai masalah agama di Indonesia. Sekali lagi, saya ucapkan selamat dan terima kasih atas dedikasi Dr Munawar selama ini untuk STF Driyarkara,” tandas Romo Sastrapratedja.

Tak direstui
Munawar mengenal STF Driyarkara kala duduk di bangku sekolah menengah atas. Saat mengunjungi STF Driyarkara, matanya terkesima saat melihat hampir semua mahasiswa mengendarai sepeda. Dari sana, awal mula ketertarikan Munawar belajar filsafat di STF Driyarkara.

Setelah mendaftar sebagai mahasiswa STF Driyarkara, sang ayah terkejut dan tak merestui niat Munawar belajar filsafat di sekolah tinggi yang dikelola Gereja Katolik. “Ayah ingin saya kuliah di universitas Islam dan mengambil studi Islam, bukan filsafat. Keinginan ayah masuk akal, karena ia berasal dari keluarga kiai di Jawa Timur. Tapi saya bersikeras, hingga akhirnya ayah saya mengalah,” cerita Munawar.

Pria kelahiran Jakarta, 22 Juni 1963, ini berhasil menuntaskan pendidikan S-1. Ia melanjutkan jenjang pendidikan S-2. Lagi-lagi, ia belajar di STF Driyarkara. Bagi Munawar, merupakan satu pengalaman berharga bisa menempuh pendidikan di STF Driyakara. Selain memberikan bekal ilmu pengetahuan, para pengajar STF Driyarkara yang mayoritas terdiri atas para biarawan memberinya pendidikan karakter. “Para dosen di sini sangat ter buka, hangat, dan dapat memberi teladan. Ini penting, karena nanti para mahasiswa akan menjadi pemimpin masa depan,” tutur Munawar.

Perjumpaan
Selama belajar dan berkarya di STF Driyarkara, Munawar mengalami sebuah keluarbiasaan. “Tentu akan menjadi hal yang biasa saja, jika saya yang seorang Muslim, lalu belajar di universitas berbasis Islam. Tetapi akan menjadi berbeda, saya yang seorang Muslim, belajar di sekolah Katolik,” kata Munawar.

Selama kuliah di STF Driyarkara, Munawar juga menggeluti bidang hubung an antar agama. Ia bercita-cita dapat terlibat dalam advokasi persoalan-persoalan hubungan antaragama. Dari tahun ke tahun, ia melihat hubungan antar agama di Indonesia kian memburuk. Bagi dia, tantangan terbesar yang harus diperbarui adalah pendekatan lama yang harus segera diganti dengan pendekatan baru. Misal ada satu komplek perumahan yang dihuni oleh masyarakat beragama Islam atau Kristen saja. Pasti, mereka akan membentuk kelompok sendiri, tanpa ada komunikasi satu sama lain. “Mereka akan jarang bertemu, apalagi berkomunikasi. Pola ini harus segera diubah. Jika tidak, akan ada jurang pemisah di antara mereka,” tutur Munawar.

Menurut Munawar, perjumpaan antarumat beragama amat penting untuk menumbuh kembangkan pola pikir dan tingkah laku. ”Perjumpaan itu akan mem buat kita semakin tumbuh. Jika terus bergaul dengan kelompok sendiri, kita tidak akan tumbuh. Dulu, umat antaragama masih sering bertemu. Namun sekarang, sudah jarang tidak dilakukan lagi,” tandas Munawar.

Pemikiran Cak Nur
Pemikiran-pemikiran Nurcholish Madjid atau yang kerap disapa Cak Nur, menurut Munawar, bisa memecahkan per soalan intoleransi di Indonesia. “Memang dibutuhkan pendekatan baru. Saya yakin Cak Nur sungguh mem perhatikan masalah ini. Dari pemikiran Cak Nur itu, saya mengangkat titik temu agama-agama,” beber Munawar. Cak Nur, lanjut Munawar, kerap mengajak umat Islam keluar dari zona eksklusif.

“Pemikiran Cak Nur sudah menjadi hidup dan keislaman saya,” ujar Munawar yang pertama kali bertemu Cak Nur pada 1984. Selama 12 tahun, ia juga membantu dan menjadi asisten Cak Nur. Munawar pula yang memimpin penyuntingan dan penerbitan Ensiklopedi Nurcholish Madjid.

Meski amat dekat dengan Cak Nur, Munawar mengaku menemukan “keislamannya” di STF Driyarkara. “Di STF Driyarkara ini, saya bisa menemukan Islam saya sendiri. Perlu diingat, saya bukan copy paste pemikiran Cak Nur.Saya hanya mengembangkan pemikiran Cak Nur dan semoga ini dapat menjadi sumbangan berarti bagi bangsa Indonesia,” terang Munawar.

Setelah menuntaskan studi S-3, Munawar akan mendedikasikan hidup bagi STF Driyakara. Ia akan terus meniti karir sebagai pemikir Islam. “Saya selalu percaya bahwa jalan saya sudah dipersiapkan. Dari sudut pemikiran Islam saya sudah dipersiapkan lewat perjumpaan dan pemikiran Cak Nur. Saya juga sudah dipersiapkan dengan mendapat kesempatan belajar di STF Driyarkara,” ujar Munawar.

Budhy Munawar-Rachman

TTL : Jakarta, 22 Juni 1963

Pendidikan:
• S1- S3 STF Driyarkara Jakarta

Pekerjaan:
• Direktur Lembaga Studi Agama dan Filsafat (1993-1995)
• Direktur Pusat Studi Islam Yayasan Paramadina (2000-2004)
• Direktur Center For the Spirituality and Leadership-Project on Pluralism (2004-2006)
• Program Offi cer Islam and Civil Society, The Asia Foundation (2005-sekarang)
• Dosen Islamologi dan Filsafat Islam STF Driyakara (2000-sekarang)

Karya Buku:
• Islam Pluralis (2000)
• Fikih Lintas Agama (2003)
• Ensiklopedi Dunia Islam (2005)
• Ensiklopedi Islam untuk Anak (2006)
• Sekularisme, Liberalisme, dan Pluralisme (2010)
• Islam Liberal (2011)
• Membela Kebebasan Beragama (2014)

Aprianita Ganadi

HIDUP NO.19, 11 Mei 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here