Masyarakat Kawanua Katolik: Ingat Semangat “Si Tou Timou Tumou Tou”

145
Masyarakat Kawanua Katolik (MKK) di Jakarta mengikuti acara diskusi pada Minggu, 26/8. [Dok.Michelle Wondal]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com Masyarakat Kawanua hendaknya memegang semangat dan nilai luhur dalam mengembangkan semangat persatuan dan persaudaraan. Semangat dan nilai luhur yang dimaksud adalah, Si Tou Timou Tumou Tou yakni manusia hidup bertugas untuk menghidupkan sesamanya. Setiap manusia memiliki peran sebagai mahluk sosial dengan menjadikan dirinya berguna bagi orang lain.

Oleh karena itu, sebagai paguyuban masyarakat, Kawanua Katolik harus menjadi pelopor dalam mewujudkan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika. Setiap anggota masyarakat Kawanua Katolik harus berperan aktif membangun dan membentuk mozaik Indonesia yang pluralis dan toleran.

Demikian kesimpulan diskusi menyambut HUT Masyarakat Kawanua Katolik (MKK) di Jakarta, Minggu, 26/8. Diskusi yang dipandu oleh Staf Khusus Komisi HAK KWI, Maxi Paat menghadirkan Rektor IBM ASMI DR. Fredy Rumambi MM, Ketua MKK Stefi Rengkuan, Penasehat MKK Selo Soekirno.

Oleh Fredy Rumambi dikatakan bahwa tugas MKK adalah terlibat secara aktif mewujudkan Indonesia yang berBhinneka Tunggal Ika, ramah dan toleran. Karena tanpa tujuan ini, sebagai paguyuban masyarakat, MKK tidak memiliki jati dirinya. Alasannya adalah menghargai keanekaragama suku, agama dan budaya dalam wadah NKRI adalah cita-cita para pendiri bangsa dan negara ini.

Dalam konteks inilah, Selo Soekirno menyatakan kebanggaannya sebagai orang Jawa yang lahir dan dibesarkan di tanah Minahasa. Secara personal ia merasakan betapa kekerabatan dan nilai-nilai luhur nenek moyang Minahasa sungguh patut digali dan dikembangkan dalam kerangka memperkuat jatidiri dan persatuan bangsa Indonesia dalam bingkai NKRI. Hal yang seperti inilah hendaknya ditularkan di seluruh pelosok Indonesia.

Sementara Wasekjend Michelle Wondal mengingatkan nilai luhur lain perlu dipahami dan dipegang erat selain si Tou Timou Tumou Tou. Nilai luhur lain antara lain, maesa-esaan (saling bersatu dan menyatukan), matombol-tombolan (saling menopang), masigi-sigian (saling menghormati), masawang-sawangan (saling membantu), dan juga maupus-upusan (saling menyayangi). Sikap saling menghormati dan menghidupkan sesama dalam arti yang sangat sederhana harus menjadi perilaku masyarakat Kawanua di manapun berada.

“Di Indonesia, di suku manapun begitu banyak istilah, nilai luhur yang memiliki arti yang sama maksudnya dengan apa yang disebutkan. Oleh karena itu, yang menjadi persoalan sebenarnya bukan sukunya, tetapi yang terpenting adalah soal nilai luhurnya yang harus dipelihara dan tetap hidup. Saling menghormati, gotong royong, saling menyayangi dan menopang adalah nilai-nilai luhur yang harus menjiwai orang Indonesia,” tegasnya.

Dalam penjelasannya, Stefi Rengkuan, mengembangkan tradisi kebiasaan atau segala potensi kemampuan, memiliki dua tujuan yakni mewujudkan kesejahteraan dan kehendak yang baik. Kedua tujuan inilah yang seharusnya menjadi penopang gerak masyarakat yang berada di perantauan.

Indonesia akan tetap bersatu dan sejahtera jika semua suku, agama, ras atau golongan di Indonesia bertekad mewujudkan kesejahteraan dan kehendak yang baik. Tanpa kedua tekad itu, apa yang sudah digariskan para bapa pendiri negara dan bangsa, menjadi sia-sia.

 

AM Putut Prabantoro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here