St José de A. L. SJ : Pendiri São Paulo dan Rio de Janeiro

144
St José de Anchieta Llarena SJ.
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Tuberkulosis tulang menjangkitinya sejak usia belia. Penyakit ini membuatnya menderita sepanjang hidup, tetapi bukan hambatan dalam karya misionaris yang kemudian dijuluki Rasul Brazil dan Bapak Sastra Nasional Brazil ini.

Seorang Novis Jesuit menderita sakit pada tulang punggungnya, karena tuberkulosis. Lambat laun, tubuhnya terlihat sedikit bongkok. Sebagai calon Jesuit yang sedang digembleng dalam olah rohani, penyakit itu menjadi tamparan keras baginya. Galau hatinya pun segera terbaca oleh superiornya. Sang superior menasihati, “Jangan terlalu bersedih dengan kelemahan itu. Allah mengasihimu seperti apa adanya.”

Di tengah terpaan badai cobaan itu, merekah kuncup harapan dari tanah misi. Surat- surat dari tanah misi membuka peluang lebar bagi si Novis untuk merasul. Dikatakan, iklim daerah misi sungguh bersahabat untuk semua jenis penyakit. Bahkan, menjadi salah satu peluang untuk kesembuhannya.

Kabar itu seolah memberi siraman di ladang hati si Novis yang sedang dilanda kekeringan. Pada usia 19 tahun, jiwa rasulinya kian terbakar untuk segera merengkuh ladang karya. Usai mengikrarkan kaul pertamanya, ia berangkat sebagai misionaris gelombang ketiga yang diutus ke Brazil. Harapannya, perutusan ini juga akan memperbaiki kesehatannya karena iklim yang bersahabat. Namun, tuberkulosis tulang lekat menemani karya kerasulannya di tengah suku Indian.

Dalam keterbatasan, ia setia melakoni perutusannya hingga julukan Rasul Brazil disematkan padanya. Inilah sepenggal kisah St José de Anchieta Llarena SJ, yang dikanonisasi oleh Paus Fransiskus pada 3 April 2014.

Keluarga St Ignasius
José de Anchieta lahir di San Cristóbal de La Laguna, Tenerife, Kepulauan Canarias, Spanyol pada 19 Maret 1534 dari keluarga kaya. Ia merupakan anak ketiga dari 10 bersaudara pasangan Juan López de Anchieta dan Mencia Díaz de Clavijo y Llarena. Ibunya berasal dari bangsawan Guanche, suku penakluk kota Tenerife.

Dari garis sang ayah, José masih berkerabat dengan keluarga bangsawan Loyola. Ayahnya termasuk keturunan tuan tanah dari Urrestilla, daerah Basque suku asal pendiri Serikat Jesus, Íñigo López de Loyola (1491-1556). Sebenarnya hubungan keluarga dengan St Ignasius Loyola masih tergolong dekat. Kakek José merupakan sepupu pertama dari ayah St Ignasius, Don Beltrán Yáñez de Oñaz y Loyola. Orangtua ayahnya dari garis sang kakek itu pun konon masih berdarah Yahudi yang telah masuk menjadi Katolik.

Pada usia 14 tahun, José menjalani masa pendidikan di Royal College of Arts Coimbra, Portugal dalam asuhan para pater Jesuit. Ia terkesima dan terpikat dengan cara hidup Jesuit. Saat itu, surat-surat sang misionaris ulung St Fransiskus Xaverius SJ (1506-1552) seolah membakar semangat di kalangan kaum muda, terutama yang belajar di kolese-kolese Jesuit.

Dalam salah satu doanya di depan patung Bunda Maria, José bernadar untuk mempersembahkan diri secara total pada Putranya. Bahkan, konon ia sudah berkaul kemurnian secara pribadi sebelum bergabung dengan Jesuit.

Misi São Paulo
Pada 1 Mei 1551, José memutuskan masuk Novisiat Serikat Jesus (SJ) di Provinsi Portugal. Provinsi SJ Portugal kala itu dipimpin oleh Pater Simão Rodrigues SJ (1510-1579) – pendiri Provinsi SJ Portugal dan salah seorang sahabat pertama St Ignasius Loyola. Dinovisiat, José terus mengasah talentanya di bidang bahasa dengan mendalami Bahasa Latin dan Portugis. Konon karena laku tapa yang teramat keras, ia terserang tuberkulosis tulang yang cukup serius.

Saat itu, Jesuit Portugal sedang menjalankan misi di Brazil sejak 1549. Pater Ma nuel de Nóbrega SJ (15171570) rutin berkirim surat dari Brazil untuk melaporkan kondisi misi di tengah bangsa Indian. Usai berkaul pertama sebagai Jesuit, José dikirim ke Brazil pada 8 Maret 1553.

Pada Juli 1553, bersama enam Jesuit, José berlabuh di Bahia, Brazil. Ia segera berkenalan dengan suku Indian Tupi yang tinggal di sekitar daerah itu. Minat dan talenta belajar bahasa seakan mendapat wadah ketika terjun di tengah suku Indian. Dalam waktu singkat, ia fasih berbahasa Tupi Guarani. Menurutnya, ia harus mampu menguasai bahasa setempat untuk dapat memperkenalkan Yesus. Superior Misi Brazil, Pater Nóbrega pun menunjuk José menjadi tangan kanannya sebagai penerjemah.

Di bawah komando Pater Nóbrega, José diutus bersama 12 Jesuit untuk mendirikan pusat misi dan mempersiapkan sekolah di Piratininga, dataran tinggi berjarak 30 mil dari São Vincente. Pada Hari Raya St Paulus, 25 Januari 1554, mereka mengadakan Misa dan menamai misi di sana: São Paulo. Dari sinilah misi Jesuit dikendalikan. Markas komando misi inilah yang kemudian berkembang menjadi kota metropolitan São Paulo.

Pada 1555, José menyusun buku gramatika dan kamus Bahasa Tupi. Setahun ke mudian, ia mendirikan Sekolah São Paulo de Piratininga. José pun mengajar Bahasa Latin bagi kolega Jesuitnya, serta mendidik anak-anak yatim piatu Portugis dari São Vincente dan anak-anak Indian. Anak-anak ini diajari berdoa dalam Ba hasa Tupi dan Portugis. Harapannya, jika anak-anak bisa dirangkul, para misionaris ini akan lebih mudah mendekati orangtua mereka. José tinggal di São Paulo selama 20 tahun.

Misionaris Sejati
Saat menjalani misi São Vincente dan São Paulo pada 1563, nasib naas menimpa José. Ia sempat disandera suku Tamoyos di Iperoig selama lima bulan. Buah pe nangkapan itu lahir karena kaum Hugenot, kelompok Protestan Perancis yang ingin mengusir orang Portugis dari Brazil, meng hasut suku Tamoyos demi mendapat daerah koloni.

José tak gentar atas ancaman, dan terus mengupayakan resolusi damai. Di sela perundingan, ia meluangkan waktu untuk berdevosi pada Bunda Maria. Konon ia menghafal syair-syair buah karyanya yang ia tulis di atas pasir karena tak ada kertas. Pasca dibebaskan, ia menyalin hafalannya dan terciptalah 4.172 baris puisi berbahasa Latin. Bersama Pater Nóbrega, José mendirikan perkampungan Indian. Ia berjuang menyadarkan suku Indian untuk hidup menetap. Kampung kecil itulah cikal bakal kota Rio de Janeiro, yang ia rintis pasca tahbisan imamat pada 1566 di Katedral Bahia. Sebagai imam baru, José ditunjuk sebagai Superior Misi São Vincente dan São Paulo. Berkat pemahaman akan budaya dan bahasa lokal, ia berhasil membuat suku Maramomis menjadi Katolik. Selain mengajar, ia juga berkhotbah, mengurusi administrasi misi dan lebih sering berkeliling.

Tugas kian berat sejak ia diangkat sebagai provinsial, tahun 1577. Tugas ini ia ampu selama 10 tahun. Meski demikian, talenta dalam bahasa dan sastra tetap ia kembangkan. José banyak menulis naskah drama dalam Bahasa Latin, Spanyol, Portugis dan Tupi. Isinya berupa ajaran iman Katolik dan digunakan sebagai metode berkatekese. Inilah naskah drama pertama yang di tulis di Brazil. Tak heran, julukan Bapak Sastra Nasional Brazil diberikan padanya.

Atas permohonannya, José dibebastugaskan sebagai provinsial pada 1587. Lalu Misi Espirito Santo diserahkan dalam pemeliharaannya. Saat itu, tubuhnya sudah terlihat bongkok. Tuberkolusis tulang yang ia derita tetap bersarang di punggungnya. Namun, ia seolah tak peduli atas kesehatannya, tetap berkeliling ke pelosok, serta menulis puisi dan drama. Ia yakin, tak ada hal yang sulit jika tujuannya ialah kemuliaan Tuhan dan keselamatan jiwa-jiwa.

Setelah 44 tahun merasul, José wafat di Reritiba (kini: Anchieta) pada 9 Juni 1597. Namanya harum dikenang rakyat Brazil. Bersama Pater Nóbrega, ia mendirikan kota São Paulo dan Rio de Janeiro. Rasul Brazil ini digelari Venerabilis oleh Paus Pius VI pada 10 Agustus 1786. Paus Yohanes Paulus II membeatifikasinya pada 22 Juni 1980, dan Paus Fransiskus menggelarinya Santo pada 3 April 2014. Gereja memperingatinya tiap 9 Juni.

R.B.E. Agung Nugroho

HIDUP NO.18, 4 Mei 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here