Memetik Pelajaran dari Lokakarya Tata Kelola CU

218
Para peserta CU dalam workshop kelima di Wisma Samadi, 23-23/9. [dok.Agata Artarini ]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com Workshop Tata Kelola Credit Union telah digelar di Wisma Samadi, Klender oleh Forum CU (Credit Union atau Serikat Kredit) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), dengan pergumulan yang cukup panjang.

Pada pertemuan awal Oktober 2018, dari 28 CU KAJ yang tergabung dalam forum itu sepakat untuk mau terbuka “diobok-obok” oleh mata elang dan penciuman hiu sang fasilitator, yakni Pastor Fredy Rante Taruk Pr.

Beliau terpanggil dan dengan hati bersedia memfasilitasi CU-CU yang bermitra dengan Paroki KAJ. Bahkan dengan logat bicara Toraja yang kental, tak segan-segan bicara faktual, apa adanya bagaimana CU di banyak tempat masih dikelola secara “semau gue”.

Satu tantangan yang diungkapkan olehnya pada awal pertemuan tahun lalu, “jika CU anda tahun depan masih eksis, maka terapkanlah tata kelola CU. Karena renstra (rencana strategis-red.) akan menjadi kompas untuk mengelola diri sendiri, agar mampu melayani orang lain,” ujar Pastor Fredy.

Perjalanan yang dimulai tahun lalu, ketika Pastor Justinus Sigit Prasadja, SJ sebagai Ketua Komisi PSE (Pengembangan Sosial Ekonomi) mengingatkan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk menggalang dialog dan melatih kemampuan manajerial CU.

Oleh sebab itu rencana pertemuan 5 (lima) kali akan didukung sepenuhnya oleh Komisi PSE, dengan antara lain menyediakan salah satu ruangan besar di lantai tiga Gedung Lembaga Daya Dharma Keuskupan Agung Jakarta (LDD-KAJ).

Dalam pembukaan, Wakil Ketua Komisi PSE, Danny H. Budiharja menyampaikan bahwa terdapat 18 CU yang masih bertahan dan mau mengikuti proses tata kelola CU. Hal ini tentu membanggakan, karena secara terus terang diungkapkan, prediksinya hanya maksimal 10 CU yang akan ikut.

“Apalagi dari tiap pertemuan, tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh masing-masing CU kian banyak” ungkapnya. Kemudian diperkenalkan pula bahwa Pastor Sigit telah digantikan oleh Pastor Kristiono Puspo SJ selaku Ketua PSE KAJ. Dalam perkenalan, Pastor Kris turut “memamerkan” bahwa dirinya juga anggota salah satu CU, dimana terdapat kartu anggota di dalam dompetnya.

Dalam kesempatan itu pula, secara khusus Pastor Fredy membagikan pengalamannya mengikuti pertemuan regional ACCU di Singapura dan sekaligus membagikan impresinya atas peringatan 200 tahun Reifeisen di Manila.

Semangat yang ditanamkan oleh Reifeisen menjadi spirit CU, sehingga di Filipina banyak ditemukan, CU yang sudah tidak seiring dengan prinsip dan nilai CU yang dikembangkan Reifeisen.

Ketua Komisi PSE Keuskupan Agung Makasar ini menyampaikan beberapa hal penting bahwa apa yang sudah disusun dalam tata kelola ini bukan tujuan, melainkan tata kelola hanya membantu CU mencapai visi. Oleh karena itu ia menyampaikan bahwa Forum CU KAJ telah berhasil mengajak anggotanya untuk mempersiapkan dan membuat kelengkapan dokumen bagi CU-nya masing-masing.

“Hal ini hanya awal bagi CU untuk mengikuti proses organisasi, pelayanan, operasional, dan pembelajaran menyeluruh untuk mencapai tujuan lembaga,” katanya sekaligus menekankan pentingnya mengikuti proses edukasi yang memberi manfaat skills (keterampilan) dan knowledge (ilmu pengetahuan).

Untuk pendidikan yang mutlak diikuti oleh tiap CU, sesuai urutannya adalah berupa edukasi dasar, financial literacy, MYFO (managing your self for others), penerapan 3 pilar CU (leader, member, volunteer) serta transformative leadership.

Kesan-kesan yang disampaikan pada akhir acara, banyak sekali kejutan yang terjadi, dimana justru dalam mengikuti proses selama tiga hari, ada kegembiraan, tidak seperti yang ditakuti selama ini. Bahkan peserta dari Paroki Maria Bunda Karmel, Heru mengungkapkan akan waktu pelatihan yang dirasa masih kurang.

Namun pada intinya, awal yang baik ini harus ditindaklanjuti dalam komitmen dan konsistensi untuk melayani anggota dengan lebih baik, lebih fokus dan demi meningkatnya kesejahteraan anggota.

Hadir pula pada acara itu, dari Puskopdit Jakarta yang diwakili oleh Antonius Sugiyanto (Ketua) dan Benedictus Edy (Wakil Ketua bidang Pendidikan). Pada acara akhir, banyak usulan-usulan yang disampaikan untuk forum CU KAJ maupun pada Puskopdit.

Selanjutnya pada penutupan acara, terdapat pemberian penghargaan yang diberikan dalam tiga kategori; CU skala kecil, menengah dan besar. Dan bersyukur, CU Bina Seroja (CUBS) memperoleh penghargaan terbaik dalam pembelajaran dan penyusunan dokumen.

Adapun rekomendasi yang disetujui untuk dijadikan program tahun berikutnya oleh Forum CU KAJ adalah berupa pelatihan bagi Pengawas (SCCU-Superivision Competency for CU), Pelatihan bagi pengelola/manajemen, dan terdapatnya biro supervisi di tingkat forum CU KAJ, supaya dapat berfungsi mengumpulkan laporan LKSB dari tiap CU dan menganalisanya.

 

Bonaventura Hermawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here