Johanes Sukidjan Setyodarsono : Bukan Koster Biasa

686
Johanes Sukidjan Setyodarsono bersama istri.
[HIDUP/Yanuari Marwanto]
Johanes Sukidjan Setyodarsono : Bukan Koster Biasa
5 (100%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Dia menjadi koster lebih dari seperempat abad. Uskup Agung Jakarta mengapresiasi loyalitas dan dedikasinya. Buah hatinya ada yang bekerja di Bank Indonesia, menjadi pilot, dan konsultan.

Isi bingkai berkelir kuning keemasan itu berbeda dengan puluhan pigura lain yang terpajang di ruang tamu kediaman Johanes Sukidjan Setyodarsono. Tak ada selembar foto pun dalam pigura berukuran 28 cm x 22 cm itu; hanya ada tulisan tangan dengan spidol berwarna perak, cap logo, dan tanda tangan. Justru ketiga unsur itu yang membuat pigura tersebut spesial dan amat nostalgik.

Setyo, panggilannya, nyaris tak berkedip memandang pigura tersebut. Tulisan tangandi atas permukaan kaca menjelaskan, benda ini merupakan tanda penghargaan Uskup Agung Jakarta waktu itu, Mgr Leo Soekoto SJ kepada Setyo atas pelayanannya selama 25 tahun sebagai koster Gereja St Perawan Maria Ratu Blok Q, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Penghargaan yang diterima Setyo tahun 1988 berbarengan dengan peringatan usia perak (25 tahun) pernikahannya dengan Anastasia Sumirah. Namun, selang dua tahun setelah peristiwa gembira itu, Setyo tak lagi menjadi koster. Dia keluar dari pagar gereja sembari berlinang air mata. “Kehidupan tak selalu berjalan mulus; ada kebaikan tapi ada juga kejahatan; ada penerimaan tapi juga ada penolakan,” ujarnya, menahan haru, saat bertemu di Jakarta Selatan, Sabtu, 11/8.

Bukan Impian
Setyo sama sekali tak bermimpi menjadi koster. Dia bercita-cita menjadi bruder. Memang, pria kelahiran Yogyakarta, 8 Agustus 1940 ini sempat mencicipi masa pembinaan. Rupanya, itu bukan jalan panggilan Setyo. Dia kecantol gadis berdarah Solo saat di Jakarta. Mereka memutuskan untuk menikah.

Begitu sang istri mengandung, Setyo menitipkan Anas kepada orangtuanya di “kota gudeg”, sementara dirinya masih menetap di Wisma Yesuit di Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Dia membantu Pastor C. Looymans SJ di Gereja Katedral St Perawan Maria Diangkat ke Surga, Keuskupan Agung Jakarta. Setyo mengurus bagian kerumahtanggaan.

Di Komunitas Gunung Sahari tinggal juga Pastor R. P. Broos SJ. Imam asal “negeri kincir angin” itu merupakan pastor rekan Paroki Blok Q. Pastor Broos memberitahu Setyo bahwa parokinya membutuhkan koster. Jika berminat, dia bisa bekerja di sana. Namun, rencana itu menunggu restu Pastor Ch. De Muelder SJ. Pastor Kepala Paroki Blok Q itu tengah berlibur di Belanda.

Kembali dari “negeri tulip”, Pastor Muelder “membuka pintu” untuk Setyo bekerja di parokinya. Beragam pekerjaan dia lakoni, mulai dari mengurus altar, mempersiapkan perlengkapan Misa, membersihkan dan menghias gereja, sampai urusan domestik paroki seperti: membersihkan pastoran dan lingkungan sekitar, mencuci pakaian dan menyiapkan makanan pastor. “Jangan dibayangkan keadaan dulu seperti sekarang. Bahan makanan masa itu amat sulit, jalanan masih berbatu, dan pergi ke mana-mana dengan sepeda,” ujar Setyo, mengenang.

Dia bisa menjadi misdinar atau pembawa lagu seandainya tak ada umat yang berkenan. Maklum, jumlah umat belum banyak saat itu. Petugas liturgi juga belum ideal seperti sekarang.

Natal dan Paskah menjadi waktu tersibuk Setyo. Tak hanya mengurus liturgi, dia bahkan sampai menyiapkan lilin dan pohon Natal sendirian. “Dulu di daerah Kebayoran Baru masih banyak pohon. Saya cari sendiri, tebang sendiri, membawa sendiri, sampai merias pohon Natal pun sendirian. Begitu juga lilin, saya kumpulkan semua yang sudah terpakai dan memasaknya sendirian,” ungkap pria bertubuh mungil itu sembari tertawa.

Ada Rahmat
Waktu terus berjalan. Para imam di Paroki Blok Q datang dan pergi silih berganti. Selama di Blok Q ada satu kesempatan di mana dia amat berharap ada imam yang bakal membantunya mengurus administrasi gereja dan Warta Sepekan, media cetak mingguan milik paroki. Dia ingin membagi pekerjaan itu kepada Pastor W. Kuyt SJ.

Sayang, Pastor Kuyt bukan imam “pastoran”. Dia suka mengunjungi umat di ratamarga (ramah-tamah antar keluarga). Istilah yang dipopulerkan oleh Pastor H. Bastiaanse SJ merupakan cikal bakal lingkungan. Kelak, umat menjuluki Pastor Kuyt sebagai imam kampung lantaran suka keluar-masuk kampung.

Saban kali berkunjung, Pastor Kuyt menggelar Misa bersama umat ratamarga. Dia mengajak Setyo untuk membawakan kopernya yang mahaberat. Isi koper itu bukan pakaian atau peralatan Misa melainkan meja lipat dari kayu jati.

Begitu Pastor Kuyt kembali ke pastoran, Setyo selalu mendapat “oleh-oleh” darinya berubah jubah kotornya yang penuh dengan tanah merah. “Setengah mati saya mencucinya,” kata Setyo, terkekeh.

Saat Pastor R. Kurris SJ mengepalai paroki, dia mendapuk Setyo sebagai Dewan Paroki Bagian Umum. Lantaran ada kata “umum” itu maka hampir seluruh pekerjaan ditangani oleh Setyo. Terkait ini, ada rekan seangkatannya yang menjadi imam, menggoda Setyo dengan panggilan “pastor kedua”.

Kendati banyak kerjaan, Setyo masih sempat menimba ilmu kateketik. Dia mengantongi ijazah diploma. Kertas berharga itulah yang memampukannya untuk mengajar Pendidikan Agama Katolik bagi para siswa Katolik di beberapa sekolah negeri.

Setyo juga nyaris diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Namun, Pastor Bastiaanse menyarankan dia tak mengambil peluang itu. “Saya akan jauh dari keluarga karena bakal ditempatkan ke daerah lain,” kata Setyo, meniru alasan pemimpinnya itu.

Sang istri senantiasa membantu Setyo. Kehadiran dan peran Anas juga sangat menguatkan sang suami ketika keluar dari paroki. “Pa ini pengabdian kita di gereja. Anak-anak akan mendapatkan rahmat dari-Nya nanti,” kata Setyo mengulang pesan sang istri kepadanya.

Kata-kata istrinya terbukti. Saat ini anak mereka ada yang menjadi pilot, bekerja di Bank Indonesia, dan menjadi konsultan. Setyo masih ingat ketika dia dan istri kesulitan uang untuk membiayai pendidikan anaknya di sekolah penerbangan. Mereka datang ke rumah seorang umat sambil membawa sertifikat rumah.

Umat tersebut tak mau menerima surat berharga milik mereka. Dia tulus membiayai pendidikan putra Setyo-Anas hingga tuntas. Begitu juga saat cucunya sakit dan harus dioperasi di Singapura, keluarga tersebut juga membantu biaya pengobatan dan perawatan. Kebaikan lain yang Setyo rasakan saat seorang umat mengajak dia untuk bekerja di perusahaannya, ketika tak lagi menjadi koster. Dari sana, Setyo mampu menyambung hidup keluarganya.

Penyelenggaraan Ilahi
Setyo menyakini, semua yang dialami tak lepas dari karya Allah. “Ini penyelenggaraan Ilahi yang harus kami lakoni. Begitu saya terpuruk, Tuhan seakan menggandeng tangan saya. Kalau bukan karena penyelenggaraan Ilahi, mungkin keadaan (saya dan keluarga) tak seperti sekarang,” jelas Setyo.

Mengenang kembali pengalamannya selama 27 tahun sebagai koster, hingga kini dia masih tak menyangka sanggup mengerjakan aneka tugas yang dipercayakan kepadanya. Jika Setyo bukan koster biasa, maka Dia yang menciptakan dan mengutusnya sungguh luar biasa. “Itu semua karena kekuatan Tuhan. Saya merasa Tuhan berkarya di dalam diri saya. Saya tak pernah mengeluh, memberontak, dan menjalani semua pekerjaan secara gembira,” pungkasnya.

Kekuatan Tuhan juga tetap dia rasakan hingga kini. Meski usianya hampir menginjak 80 tahun, Setyo masih bekerja dari Senin hingga Jumat. Dia juga masih sanggup mengendarai motor dan sepeda. Tak semata-mata demi uang, mantan koster luar biasa itu bekerja untuk terus mengasah otaknya agar tak pikun, serta menebar energi positif dan inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya.

Yanuari Marwanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here