Korupsi Hancurkan Harapan

92
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – “The man who has no imaginations, has no wings to fly, begitu adagium terkenal dari petinju legendaris Muhammad Ali. Bagi Ali, dengan imajinasi siapa pun bisa terbang bebas. Pada gilirannya, dari imajinasi positif, akan lahir sesuatu yang luar biasa. Terbukti, aneka produk daya imajinasi positif telah menggoncang dunia. Tanpa imajinasi Thomas Alva Edison, dunia yang kita diami hari ini masih gelap gulita. Imajinasinya akan hal-hal yang bisa terjadi kemudian membuat dia tidak berputus asa melakukan 999 eksperimen sampai akhirnya ia berhasil menemukan lampu pijar yang menerangi dunia. Ya, imajinasi Thomas Alva Edison telah menerangi seantero dunia ini. Atau tanpa imajinasi Leonard Kleinrock, sang penemu internet, kita masih terkungkung dalam batas-batas dunia yang mustahil kita retas. Atau satu lagi, tanpa komputer hasil cipta dan imajinasi Charles Babbage, kita masih berkutat dalam kerja-kerja manualistik.

Hari ini, banyak orang yang abai pada kekuatan imajinasi, karenanya perlu diingatkan kembali. Dengan kekuatan imajinasi, siapa pun bisa membayangkan akibat dari setiap tindakan yang ia lakukan. Andai seorang koruptor atau calon koruptor menghidupkan imajinasinya, niscaya di pelupuk matanya akan terbayang wajah mereka yang layu karena kurang gizi atau malah gizi buruk. Akan terlihat dengan jelas pula anak-anak dengan tulang rebis menonjol ke luar tertidur tanpa alas di atas jalanan berdebu atau mereka yang stres karena tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya, dan masih banyak lagi.

Anehnya, koruptor di negeri ini sudah tanpa imajinasi, masih mendapat kesempatan untuk menjadi makhluk istimewa, bahkan seakan-akan malaikat. Lihat saja berbagai pihak masih memerjuangkan agar mereka tetap ikut serta dalam pencalegan, lalu pada gilirannya menjadi “manusia terhormat” yang bercokol di kursi “yang terhormat” pula untuk mewakili rakyat (populi). Padahal, membawa suara rakyat pemilihnya adalah membawa suara Tuhan. Ingat, vox populi vox Dei.

Menjadi caleg atau anggota legislatif merupakan kesempatan untuk memberikan perhatian atau membela nasib orang-orang yang diwakilinya. Pertanyaannya, bagaimana mungkin orang semacam ini bisa dipercaya mewakili sedemikian banyak orang sementara dia sendiri tidak bisa mengurus dirinya agar terbebas dari kejahatan luar biasa itu?

Korupsi, seperti halnya tindakan memperkosa anak di bawah umur, dan tindak pidana penyalahgunaan narkotika dan psikotropika tergolong extraordinary crime. Karenanya, para pelaku harus dieliminasi dari aktivitas melayani publik, apalagi yang bersifat legislasi. Mengapa? Nanti, oleh karena statusnya sebagai wakil rakyat, dari tangan dan moralnya yang telah bangkrut itu akan lahir UU yang mengatur kehidupan publik. Di mana atau seperti apa wibawa UU yang dihasilkannya?

Tentang korupsi, dalam Misericordiae Vultus (MV 19.2), Paus Fransiskus dengan tegas mengatakan, “…Korupsi membuat kita tidak mampu melihat masa depan dengan penuh harapan karena kerakusannya yang lalim, menghancurkan harapan-harapan kaum lemah dan menginjak-injak orang yang paling miskin di antara kaum miskin.”

“Sialnya”, sejumlah Parpol ngotot agar para koruptor tetap diperbolehkan ikut serta dalam pencalegan. Sikap semacam ini betul-betul menunjukkan dengan benderang bahwa Parpol tidak pro pada pemberantasan korupsi. Menjadi jelas juga bahwa “kutak-kutuk” terhadap korupsi selama ini hanya basa-basi yang sungguh-sungguh basi.

Wahai parpol zaman now, bersetujulah bahwa korupsi adalah kejahatan luar biasa. Lalu berkomitmenlah pula menerima konsekuensinya walau sangat pahit, sebab mungkin menyangkut orang-orang terdekat Anda.

Korupsi di negeri ini sungguh telah merusak dan melemahkan semangat bersama sebagai bangsa. Negara semacam Yunani bangkrut, terutama karena korupsi di kalangan pejabat negara telah menjadi wabah yang mematikan.

Menurut saya, memberi kesempatan kepada para koruptor untuk nyaleg adalah tindakan kejahatan luar biasa tersendiri. Harus dilawan!

Emanuel Dapa Loka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here