Sisi Lain Perjanjian Sino-Vatikan

358
Sisi Lain Perjanjian Sino-Vatikan
5 (100%) 1 vote

Uskup Yeung juga terus mendesak Tiongkok untuk memberikan informasi mengenai para imam dan uskup yang ditahan disana, beberapa di antaranya sudah lanjut usia dan ditahan selama beberapa dekade.

Beberapa sumber laporan yang dikumpulkan pihak Reuters mengutip bahwa masalah penderitaan kaum rohaniwan yang ditahan, masih belum terselesaikan dan Beijing telah memberikan sedikit informasi yang jelas tentang nasib mereka.

Uskup Hong Kong ini mengatakan banyak umat Katolik Hong Kong telah berdoa untuk salah satu uskup terlama yang ditahan, Uskup James Su Zhimin-ditangkap pada tahun 1997 di Provinsi Hebei dan sekarang telah berusia 86 tahun. “Apakah dia dipenjara atau dirahasiakan di tempat lain, atau sudah meninggal, tidak ada yang benar-benar tahu,” ujarnya prihatin.

Uskup Su adalah pemimpin dari gereja bawah tanah yang telah setia kepada Paus selama beberapa dekade. Gerakan gereja bawah tanah dikhawatirkan akan dihancurkan oleh gereja resmi yang didukung negara dimana sebelumnya telah memilih uskupnya sendiri, tanpa persetujuan dari Tahkta Suci.

Kesepakatan itu memungkinkan Paus untuk menyetujui para uskup yang pertama kali dipilih oleh komunitas gereja dan pihak berwenang Tiongkok, yang berarti 12 juta umat Katolik Tiongkok yang terbelah antara kedua kubu, sekarang harus secara efektif berintegrasi.

Meskipun dilanda kekhawatiran, Uskup Yeung menyatakan mendukung kesepakatan itu,”setelah bertahun-tahun kesulitan berbicara maka penting untuk menyetujui sesuatu dan bergerak maju,” ucapnya.

Uskup kelahiran Shanghai dengan perawakan lembut ini, dengan iman bersama umat Gereja Katolik Hong Kong menaruh kepercayaan mereka pada Tuhan dan Paus.

Ia juga menyarankan Paus Fransiskus untuk membuat kesepakatan selama audiensi di Vatikan pada bulan Agustus, namun memperhitungkan kehati-hatian akan manuver diplomasi yang akan dilancarkan Tahta Suci.

“Aku berkata … Bapa Suci, maju, jangan takut tapi hati-hati,” tutur Yeung. Ia mengibaratkan langkah diplomasi Vatikan ini bak menyeberangi sungai yang belum pernah dilewati sebelumnya. “Kamu harus menguji kedalaman air, kamu harus menyentuh batu-batu itu,” tandasnya.

 

Penterjemah: Felicia Permata Hanggu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here