Ziarah ke Kuburan

310
Ziarah ke Kuburan
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Banyak umat Katolik yang berdoa di kuburan dan berziarah di sana, apakah ini tergolong takhayul?

Hendro, Cimahi

Pelayanan Gereja akan kematian menyatakan masih adanya persekutuan dengan mereka yang telah meninggal. Kematian bukanlah akhir, bukan kehancuran, melainkan, berkat kebangkitan Kristus, merupakan jalan menuju kepada kehidupan abadi. Hidup, dengan kematian, bukannya dilenyapkan, namun diubah. Kematian bukan akhir dari keberadaan manusia, hanya akhir dari hidup duniawinya saja. Tidak mengherankanlah kalau Gereja kemudian memandang kematian umat beriman yang ditebus oleh Kristus. sebagai hari kelahiran surgawi, sebab dengan ambil bagian dalam kematian-Nya, kita ambil bagian pula dalam kebangkitan-Nya.

Disini bisa kita lihat pula bagaimana Yoseph Ratzinger memberikan kaitan antara kelahiran baru lewat pembaptisan dengan kematian, sebagaimana dikatakan oleh Paulus, “Kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus telah dibaptis dalam kematian-Nya” (Rom 6,3). Pembaptisan menghubungkan antara kematian manusia dengan kematian Kristus, sebab dengan kematian-Nya Allah menerima kematian manusia dan memberikan kehidupan baru berkat kebangkitan-Nya. Ada sebuah ungkapan kehidupan adalah kematian, demikian dalam kematian kehidupan tetap ada, bukannya berakhir, dan pula karenanya, kehidupan pun berjalan sebagai processus mortis in vitam, berjalannya proses kematian di tengah kehidupan. Dalam Kristus kematian menjadi sarana rahmat dan kehidupan. Kematian dengan demikian tidak bisa dipahami sebagai suatu fatalitas, akhir dari segala. Tuhan tidak menghancurkan, melainkan membentuk kehidupan baru dalam kematian. Kematian bukanlah ketiadaan atau kekosongan. Pertanyaan tentang kematian terkait erat dengan pertanyaan tentang kehidupan, yang kehidupan tersebut tidak terbatas pada apa yang ada dan terjadi di dunia kini. Kematian karenanya memuat harapan. Dengan demikian iman Kristiani senantiasa mengatakan, bahwa kita beriman pada Tuhan yang hidup, Kristus yang bangkit dari mati.

Dalam konteks gagasan seperti itu kita bisa menempatkan doa dan penghormatan kepada mereka yang telah meninggal, entah dengan ziarah kubur ataupun dengan doa arwah, yang sudah lama menjadi bagian dari tradisi Gereja. Pertama-tama doa tersebut adalah doa permohonan akan keselamatan, agar Allah berkenan menyelamatkannya dan melimpahkan kemurahan hati serta belaskasihan-Nya kepada mereka yang telah dipanggil-Nya. Kitab Makabe menuliskannya dengan mengatakan, “…disuruhnyalah mengadakan korban penebusan dosa untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka” (2 Mak 12:45). Doa bagi mereka yang telah meninggal adalah permohonan bagi pengampunan dosa bagi jiwa mereka.

Selain itu, doa arwah atau ziarah kubur juga merupakan suatu cara atau bentuk pengenangan dan penghayatan akan persekutuan dengan mereka yang telah meninggal. Kesatuan Gereja pun secara resmi memperingati arwah, dalam peringatan khusus di tanggal 2 November. Konsili Vatikan II dalam dokumennya tentang Gereja, Lumen Gentium, menyatakan bahwa kesatuan dengan mereka yang telah beristirahat dalam Kristus tidaklah terputus, namun diteguhkan dengan berbagi harta rohani (lih LG 49). Bahkan dokumen tersebut mengingatkan bahwa bahwa tradisi tersebut telah dinyatakan Gereja sejak awal, sejak konsili Nicea II (787), karenanya doa di hadapan mereka yang telah meninggal bisa memperkaya iman.

Kongregasi Ibadat Suci dalam direktorium tentang kesalehan umat yang dikeluarkan pada tahun 2001 meminta agar dicari penyesuaian doa atau ibadat penghormatan kepada orang yang telah meninggal ini dengan budaya atau adat kebiasaan setempat, agar tidak bertentangan dengan Injil. Hal ini menjadi penting agar doa-doa tersebut tidak terkesan atau menggambarkan sesuatu yang malahan mengarah pada penyimpangan.

Dari sini kita bisa melihat bahwa doa kepada mereka yang telah meninggal dan ziarah kubur bukanlah suatu takhayul, sebab doa-doa tersebut bukanlah penghormatan akan arwah atau pengsakralan kuburan. Bukan jenasah itu yang dihormati dan bukan kubur didatangi untuk mendapatkan kekuatan, melainkan Gereja dengannya menghargai kehidupan dan terlebih mengakui pemilik kehidupan, yakni Allah sendiri. Kehidupan dari Allah tidak dibatasi, apalagi dihancurkan oleh kematian. Oleh karenanya kita mendoakan mereka yang telah meninggal dalam permohonan akan kehidupan kekal, seraya mengenang akan hidup mereka yang telah menjadi bagian dari persekutuan hidup dengan kita yang masih berziarah di bumi ini. Takhayul berbicara tentang kekuatan-kekuatan di luar yang Ilahi, padahak kehidupan adalah milik yang Ilahi dan berada di dalam-Nya. Takhayul hanya membuat kita berhenti pada yang ada, seakan dalam dirinya ada kekuatan tertentu, padahal doa tersebut mengajak kita mengarahkan pandangan kepada Allah, bukan pada makam.

T. Krispurwana Cahyadi SJ

HIDUP NO.44 2018, 4 November 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here