Dr Benediktus Handojo R. : Anak Panti Jadi Dokter yang Peduli

242
Dukungan: Dokter Benny bersama keluarga.
[NN/Dok.Pribadi]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Tinggal di panti asuhan tak memudarkan mimpinya. Ia berjuang untuk mencapai cita-citanya sebagai dokter agar bisa melayani dan membantu orang lain dengan apa yang ia miliki.

Tahun 1972, Benediktus Handojo Rahardjo memutuskan untuk tinggal di Panti Asuhan Vincentius Putra (Vitra) Jakarta Pusat. Saat itu ia duduk di bangku kelas 6 SD. Keputusannya bukan tanpa alasan.

Sebelumnya, Benny begitu sapaannya tinggal di daerah Pademangan, Jakarta Utara bersama orangtuanya. Kala usianya menginjak sembilan tahun, sang ayah meninggal karena kanker. Sejak itu, rumah mereka dijual. Benny pun tinggal di rumah saudaranya. Seiring waktu, ia memilih untuk tinggal di asrama Vitra.

Awalnya, saudara dan keluarganya “menentang” pilihan tersebut. Mereka menganggap asrama merupakan tempat untuk anak- anak “nakal”. Namun Benny tak ambil pusing. Ia bulatkan tekad untuk tinggal di asrama Vitra.

“Saya ingin membuktikan bahwa meski saya tinggal di asrama, di panti, saya bisa berhasil. Mulanya ada rasa takut, namun lama-kelamaan biasa juga dengan suasana panti,” ungkap sulung dari dua bersaudara ini.

Di asrama, Benny belajar kedisiplinan dan berempati dengan sesama penghuni asrama maupun para pengasuhnya. Ia berusaha giat belajar agar bisa mencapai mimpinya dan hidup lebih baik.

Raih Mimpi
Benny termasuk anak asrama Vitra yang dikenal pandai dan ulet. Prestasinya di sekolah cukup membanggakan. Menjelang lulus SMP, Pimpinan Panti Asuhan Vitra kala itu, Bruder B.C.M. Winand Divendal OFM (1970-1982), menawarkan agar Benny meneruskan SMA. “Saya berpikir, saya ingin hidup mandiri dan berguna. Jadi, ketika saya ditawari untuk meneruskan SMA, ya saya senang sekali. Saya bercita- cita menjadi seorang dokter,” ujarnya. Keinginan itu tak lepas dari pengalaman kehilangan sang ayah, ibu maupun omanya, karena sakit.

Setamat SMA, Benny mendaftar dan mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Ia diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Jakarta pada 1979. “Saya senang sekali. Saya bersyukur mendapat kesempatan untuk meneruskan studi,” katanya.

Benny terus berjuang untuk mencapai mimpinya menjadi dokter. “Hidup kita ada di tangan kita. Kalau ada kemauan, pasti bisa. Jangan merasa rendah diri. Jangan menyesali saya terlahir sebagai etnis Tionghoa, tinggal di panti atau apa. Banyak tantangan yang saya hadapi, tapi saya berusaha sekuat tenaga menjadi lebih baik dan memperoleh penghidupan yang lebih baik,” tandas pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah, 2 Juli 1959 ini.

Lulus FKUI tahun 1985, Benny mendapat tugas di Kalimantan Barat (Kalbar). Pada 1986, ia memulai pelayanannya sebagai Kepala Puskesmas Kecamatan“Di sana belum ada listrik. Kita pakai disel, itu pun dari jam enam sore hingga malam saja. Untuk air, kita pakai air sungai atau juga dengan menampung air hujan,” kenangnya. Kondisi itu tak memudarkan semangatnya untuk melayani masyarakat.

Dokter Benny terus berjuang untuk memberikan diri bagi masyarakat di sana. Biasanya ia melayani pasien dari pagi hingga malam. “Jika ada masyarakat yang datang malam-malam, ya tetap dilayani. Pasien ada yang bayar, ada yang tidak. Kadang ada yang bayar dengan beras, gula, dll,” kisahnya. Ia juga bekerja sama dengan para suster Fransiskanes Sambas yang memiliki sebuah klinik kesehatan. Kerja sama itu berbuah dengan merintis berdirinya Puskesmas dengan fasilitas rawat inap.

Dua tahun berselang, Dokter Benny mendapat tugas baru sebagai Kepala Puskesmas Kecamatan Sekayam, Sanggau. Daerah ini terletak di dekat perbatasan dengan Malaysia. Selama empat tahun ia melayani di sana. Ia juga merangkap sebagai Kepala Puskesmas Kecamatan Noyan.

Dengan mengendarai sepeda motor, Dokter Benny membelah daerah di Kalbar. Ia melakukan turne dari satu daerah ke daerah lain untuk membagi-bagikan obat pada masyarakat. Kadang ia menggunakan perahu untuk melakukan pengobatan bagi masyarakat di daerah terpencil. “Medan cukup berat, tapi saya merasa senang bisa melayani masyarakat. Ada rasa bahagia ketika saya bisa menolong orang lain,” ujarnya.

Dokter Benny mengungkapkan, ketika itu ia seperti menjadi “manusia super”, harus serba bisa. Ia bukan hanya melayani bidang kesehatan, tapi juga sering diminta sebagai rujukan dalam bidang lain dan penasihat dalam menyelesaikan permasalahan yang muncul di masyarakat. “Saya diminta melayani married counseling juga. Ya, saya senang mendapat kepercayaan itu, tapi di satu sisi saya merasa saya kurang berkompeten dalam bidang itu.”

Dokter Benny sempat diminta untuk menjadi kepala sekolah di sebuah SMA, meneruskan dokter yang sebelumnya bertugas di sana. Sekolah itu merupakan sekolah swadaya masyarakat. Bangunan dan perlengkapan sekolah seperti meja dan kursi dibuat sendiri oleh masyarakat sekitar. Di samping sebagai kepala sekolah, ia juga mengajar Biologi (1986-1988).

Selain itu, Dokter Benny memberikan pelatihan-pelatihan bagi para bidan desa, dan membantu Posyandu. Ia mendorong masyarakat untuk mengumpulkan iuran dana sehat. Iuran itu bisa digunakan masyarakat jika membutuhkan biaya berobat.

Masyarakat di sana bukan hanya mengumpulkan iuran dalam bentuk uang, tapi ada juga yang mengumpulkan beras sebagai ganti uang. Pengelolaan iuran itu diserahkan pada Dokter Benny, karena masyarakat begitu mempercayainya.

Memberikan Diri
Selama bertugas di Kalbar, Dokter Benny merasa terpanggil untuk memberikan diri bagi masyarakat sesuai dengan kemampuannya. “Saya merasa bertanggung jawab. Saya berusaha membantu masyarakat semaksimal mungkin,” tandasnya.

Dokter Benny berusaha melakukan yang terbaik sesuai kemampuannya. Kerja keras dan pengabdiannya mendapat apresiasi dari pihak pemerintah daerah. Tahun 1990, ia mendapat predikat dokter teladan tingkat Provinsi Kalbar karena pengabdian dan dedikasinya bagi masyarakat. “Semua berjalan sendiri sesuai kehendak Tuhan,” tuturnya.

Setiap menjalankan tugas sebagai dokter, ia pun tak alpha mendaraskan doa dalam hati. “Meski iman saya tidak karuan, tapi saya berdoa dan serahkan semua pada Tuhan. Tuhan tolong bantu, jika Engkau memang menghendaki pasien ini sembuh,” ujarnya sambil tersenyum.

Dalam menapaki peziarahan hidupnya, Dokter Benny membiarkan semua mengalir sesuai kehendak Tuhan. Dukungan sang istri, Santy Setiawan dan anak-anaknya juga menyertai tiap langkahnya.

“Saya merasa perjalanan hidup saya ada arahnya dan mendapat bimbingan-Nya, sehingga saya menapakkan kaki sesuai arahan-Nya. Do the best, itu prinsip saya! Syukurilah apa yang kamu dapat,” papar Manajer Penunjang Medis dan Non Medis di RS Mitra Keluarga Jatinegara, Jakarta Timur (1993-1996) ini. Ia pun berusaha menjunjung kejujuran dan integritas di manapun ia ditugaskan.

CEO RS Premier Jatinegara (2008-sekarang) ini berharap agar tak henti mendedikasikan diri bagi orang lain. Menurutnya, hal itu seiring dengan apa yang ia dapat di Panti Asuhan Vitra dan pesan Br Winand yang mendampinginya di asrama: “Bantulah orang lain, termasuk orang-orang miskin dengan apa yang kita miliki”.

Maria Pertiwi

HIDUP NO.04 2014, 26 Januari 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here