Punya Adik, Sikap Anak Sulung Berubah

98
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pengasuh Konsultasi Keluarga yang baik, saya lagi hamil anak kedua. Anak sulung saya baru berusia tiga tahun. Sepertinya anak pertama saya cemburu, lantaran saya mulai membagi kasih sayang dan perhatian kepada calon adiknya. Bagaimana ya Bu saya menghadapi anak pertama saya itu? Apa yang harus saya dan suami lakukan kepadanya? Mohon saran Ibu. Terima kasih.

Marchella Leonarda, Samarinda

Setiap anak memiliki reaksi berbeda ketika orangtua memberitahu bahwa dia akan mempunyai adik. Ini tergantung pada usia dan temperamen anak. Pada usia tiga tahun, sangat mungkin anak belum sepenuhnya mengerti sampai akhirnya dia melihat perut Ibunya membesar atau sang adik lahir.

Bila anak pertama Ibu tiba-tiba saja menjadi lebih rewel, manja, mudah marah, lebih banyak mencari perhatian, terkesan cemburu, atau menjadi lebih bertingkah itu wajar, normal, dan kerap terjadi kepada anak-anak lain.

Perubahan tersebut biasa terjadi ketika si kecil merasakan perubahan emosi, sikap, dan perilaku Ibu atau bahkan ayahnya sejak kehamilan kedua. Anak pada dasarnya bisa merasakan perubahan struktur, pola, maupun rutinitas yang terjadi pada orang terdekatnya. Dia sendiri barangkali belum sepenuhnya memahami tentang kehadiran atau memiliki adik, karena pada usia tiga tahun anak masih belajar konsep berbagi dengan orang lain.

Perubahan orangtua saat kehamilan akan dirasakan anak. Misal, biasanya dialah yang menjadi pusat perhatian, namun kali ini sang ibu lebih banyak fokus kepada diri sendiri, entah karena tidak nyaman karena morning sickness sehingga mudah tak sabar dan lekas marah terhadap anak.

Sementara, ayah yang biasanya memberikan atensi penuh kepada anak, kali ini dia bisa merasakan bahwa perhatian ayahnya lebih banyak tertuju kepada ibunya, yang sedang hamil. Dengan demikian, sedikit perubahan saja bisa membuat anak tak aman dan nyaman.

Kendati kondisi tersebut wajar, orangtua tetap perlu memahami dan membantu agar anak mendapatkan kembali rasa aman dan nyaman seperti dirasakan sebelumnya. Ada beberapa langkah. Pertama, pahami dan terimalah kerewelan serta berbagai perilaku yang dirasakan menjengkelkan. Pelukan adalah obat mujarab.

Bila anak Ibu menangis atau rewel, biarkanlah hingga dia lega. Menangis adalah bentuk komunikasi anak untuk menunjukkan dirinya marah, protes, sedih, atau tak nyaman. Hukuman maupun bentakan untuk membuatnya tenang justru sangat tak efektif, bahkan membuat dia tak merasa aman. Sebaliknya, berikan pesan bahwa dia diberikan “ruang” untuk melampiaskan kekecewaan maupun kemarahannya.

Begitu dia lebih tenang, dekatilah, peluklah, dan ajaklah bermain atau melakukan kegiatan yang disukai anak. Pelukan adalah bentuk komunikasi yang ampuh untuk menunjukkan kepada anak bahwa kita memahaminya. Saat bermain atau berkegiatan dan ketika dia sedang menunjukkan rasa gembira, katakan kepadanya bahwa Anda dan suami mencintainya. Penting pula untuk menyampaikan bahwa Anda memahami kemarahan dan ketaknyamanannya. Ini akan membuat anak merasa diterima, dipahami, dan tetap disayang oleh orangtuanya.

Kedua, dengan bahasa sederhana memberitahu anak bahwa dirinya akan memiliki adik. Libatkan dia juga dalam persiapan kehadiran adiknya. Buku cerita anak atau gambar-gambar tentang bayi di dalam perut merupakan salah satu alat untuk mengkomunikasikan maksud tersebut.

Proses terpenting dari semua itu adalah memberikan pesan kepada anak bahwa orangtua tetap mencintainya, dan secara tak langsung menanamkan perhatian dan kasih sayang kepada anak akan kekahdiran calon adiknya. Melibatkan anak sejak awal kehamilan membuatnya merasa penting dan dibutuhkan dalam proses tersebut.

Ketiga, ayah perlu meluangkan waktu bersama anak. Saat ibu lebih mudah lelah karena kehamilan, tentu akan memengaruhi emosi dan perilakunya. Perlu dipahami juga bila ibu menjadi sulit bersabar. Karena itu, suami harus lebih peka saat kondisi tersebut. Suami harus mengambil alih untuk mengisi kegiatan bersama anak. Secara tak langsung, anak juga akan mendapatkan pesan bahwa ayahnya asyik dan dapat diandalkan.

Keempat, mempertahankan rutinitas akan membantu anak tetap merasa aman. Kehamilan ibu akan membuat perubahan dalam kehidupan keluarga. Namun, upayakan agar rutinitas maupun kegiatan terstruktur anak tak terganggu. Misal, sarapan pagi bersama atau menemani anak sebelum tidur. Selamat mencoba.

Evi Sukmaningrum

HIDUP NO.45 2018, 11 November 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here