Pilihanmu Suster

264
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com SABTU sore tepatnya pukul 16:30 WIB. Tertanda waktunya untuk jalan-jalan. Kulayangkan pandangan ke langit, awan nan cerah. Tak seperti sore-sore sebelumnya, awan dipenuhi dengan warna hitam, tertanda hujan. Tetapi sore ini hujan tidak turun.

Sepertinya Tuhan mendengarkan segala rencana kami, yang kami lakukan setiap akhir pekan dalam pekan terakhir setiap akhir bulan. Tak butuh waktu lama, segera kukenakan baju hitam lengan panjang warna kesukaanku, untuk sedikit membentengi diri dari diginnya udara sore itu. Kucoba melangkah, meski sedikit merasa gelisah karena besarnya keinginanku untuk ketemu si dia.

Terminal yang menjadi tempat persinggahan banyak orang mulai terlihat dari jauh. Seorang perempuan duduk bersandar dibawah pendoponya. Huu…Uu.. dia sudah menungguku, semakin cepat langkahku ke arahnya.

“Hallo Narty, udah lama nunggu ya?”
“Belum, aku juga baru sampai. Ayo kita jalan-jalan sekarang!” Kami sangat sering berjalan bersama, bahkan menjadi rutinitas kami tiap bulan. Tapi selama beberapa bulan terakhir kami sepakat untuk renggang sementara, karena ujian sudah di ambang pintu. Setelah ujian berakhir, kami membuat kesepakatan untuk kembali melakukan rutinitas kami.

“Oh ya, Terys, hasil tes masuk biara sebulan yang lalu udah keluar dan aku…aku… lulus!”
“Terus gimana keputusanmu, Nat?”
“Sebelumnya maafkan aku, Ter. Aku putuskan untuk tetap masuk biara.”
“Te…terus, Nat, kamu kan sudah janji ke aku kalau kamu nggak bakalan masuk biara dan kita akan mendaftar di universitas yang sama, dimana janjimu Nat?”
“Iya memang aku sudah janji. Tapi Tuhan memanggilku, untuk menjadi alat-Nya. Dan aku juga tidak bisa melawan kehendak orang tuaku. Memang ini berat bagi kamu Terys. Juga sangat berat buat aku. Sekali lagi maafin aku Terys.”

Sore ini perasaanku menjadi tidak karuan. Aku pulang dengan penuh dilema dan galau. Aku belum siap untuk menerima keputusan Narty, yang aku cintai. Sekarang, aku seorang diri. Cintaku telah pergi dariku.

***

Setelah tiga tahun berjalan, sejak kepergian Narty sore itu. Aku pun telah memulai hidup dan hubungan yang baru dengan orang lain. Sekarang aku mahasiswa tingkat tiga di sebuah universitas di seberang pulau tanah kelahiranku.

Sejak berkulliah, aku tinggal di rumah kontrakan. Hari-hari kulalui, meski aku sadar masih terus bersembunyi dibalik bayang-bayang Narty. Awalnya memang tidak terlintas dalam pikiranku bahwa aku kuliah di sini. Tapi aku tidak bisa bertahan di tempat atau universitas yang dulu direncanakan bersama Narty.

Bagaimana bisa, tiap hari kulewati tempat-tempat kami sering pergi bersama, yang membuat aku teringat lagi akan sosok seorang perempuan yang aku sayang dulu. Terlalu banyak tempat di kota itu yang kerap kali membuat air mata membasahi pipiku.

Kini cintaku bersama Narty berakhir dengan kesedihan. Sungguh itulah yang aku rasakan. Malam ini adalah malam tahun baru. Semua orang bergembira. Aku termasuk didalamnya. Setelah doa bersama, aku dan kawan-kawanku jalan-jalan berkunjung ke setiap rumah.

Salah satu rumah yang kami kunjungi itu adalah rumah teman SMA-ku dulu. Kami makan, minum, bergembira dan bergurau bersama. Tut … tut… tut… Ponselku berbunyi. Ada pesan singkat dari nomor baru yang tak dikenal. Segera kubuka, “Hallo selamat Tahun Baru Terys!” Aku penasaran siapa yang yang mengirim pesan ini. Kuteruskan ke bawah untuk melihat nama pengirimnya. Jantungku berdetak pelan, Narty.

Pesan perdananya di malam yang gembira itu, menjadi komunikasi kami tersambung lagi, dan aku sadar dia bukan milikku lagi. Dia memberi pemahaman mengenai mengapa dia tidak menghubungiku selama tiga tahun yang lewat, karena tidak diperbolehkan untuk menggunakan HP pribadi di biara.

Selain itu juga karena dia tidak tahu nomorku yang baru. Walau sudah lama, tapi tetap ada rasa saat pertama kali jumpa. Masih ada ruang dihatiku untuk Narty. Kerap kali aku memikirkan, apakah dia merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan, sepertinya tidak.

***

Terminal yang menjadi ikon tempat kami nongkrong dulu sangat sunyi dan sepi. Libur semester sudah mulai dari hari ini aku akan segera kembali ke kampung halamanku. Sudah tiga tahun aku lewati. Sekarang aku seorang mahasiswa tingkat tiga. Begitu juga Narty.

Dia tetap setia menjalani panggilan sucinya. Dia baru saja menerima profesi dan tempat pelayanan di daerah dimana aku kuliah. Jadilah hari ini, mungkin karena Tuhan tahu betapa aku merindukannya, kami berada dalam pesawat yang sama dan nomor kursi yang berdekatan.

Setelah turun dari pesawat, entah karena takdir atau bukan kami berada dalam bus yang sama untuk pulang kampung. Sekarang aku berada disampingnya. Dua hari lama perjalanan, aku terus duduk disamping Narty, ini adalah sebuah kado yang istimewa bagiku.

Waktu terus berjalan hingga siang beranjak pergi ke peraduannya, hingga malam pun tiba. Lampu bus dipadamkan. Para penumpang bersiap untuk tidur, dan lagu pengantar tidur pun diputar.

Dalam hati aku berkata,“Tuhan, seandainya status kami masih seperti yang dulu, apa bukan kesempatan indah untuk dijalani? Duduk disampingnya, diapun bersandar di bahuku.

Tapi, kalau aku melakukannya bukannya aku memaksa merebut dirinya dari-Mu? Tapi aku tak tahan lagi Tuhan. Rinduku selama empat tahun sudah meluap. Bisakah aku meminjamnya meski saat ini saja?”

Pelan-pelan tanganku menggenggam tangan Narty. Kurasakan tangannya balas menggenggam tanganku. Akupun mengelus rambutnya yang bersandar di bahuku. Sepertinya dia tahu apa yang kurasakan. Walaupun tidak ada jawaban langsung atas pertanyaanku, malam ini sudah cukup bagiku. Maaf Tuhan, aku ingin meminjamnya sebentar. Aku sangat merindukannya.

***

Aku tahu, Narty memang mencintaiku. Tapi dia memilih cinta yang lebih besar dan lebih Agung. Sekarang aku sudah benar-benar menerima kenyataan ini. Walau aku tidak bisa memilikinya, aku tidak pernah kecewa untuk mencintainya.

Seandainya waktu bisa diputar kembali ke belakang, aku akan tetap mencintainya. Tuhan, terima kasih karena aku telah mencintai cinta-Mu.

 

Fr Sergius Cangung OFMCap

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here