Kematian Maria

1079
Kematian Maria
4.5 (90%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Sebagai manusia biasa Maria Ibu Yesus tentu saja mengalami kematian. Bagaimana catatan Gereja soal kematian Bunda Maria?

Angelus, Palangkaraya

Dogma yang berkaitan dengan Maria, selalu bersumber pada hubungan Maria dengan Kristus sendiri. Maria adalah ibu Yesus, yang terberkati, penuh rahmat, dan sekaligus ‘pengikut’ Yesus yang unggul. Karena keistimewaan ini peristiwa apapun dalam hidup Yesus, selalu coba ditemukan padanannya dengan Maria. Misalnya, jika kelahiran Yesus dirayakan (25 Desember), kelahiran Maria (8 September) pun diperingati. Peristiwa awal dikandungnya Yesus (25 Maret: Hari Raya Kabar Sukacita) paralel dengan peristiwa dikandungnya Maria (8 Desember: Hari Raya Maria dikandung tanpa noda), dan seterusnya.

Hal yang sama terjadi pada akhir hidup Maria. Yesus sendiri menjanjikan bahwa semua pengikut-Nya, akan tinggal bersama dengan Dia di rumah Bapa. Di antara semua pengikut Yesus, Maria pastilah sangat istimewa. Allah memasukkan dia dalam rencana keselamatan, disiapkan dalam kandungan secara tanpa noda, mengandung Yesus dalam rahimnya, hingga berdiri di bawah salib-Nya. Berkat kedekatan dengan Puteranya ini, Maria menjadi yang pertama dan istimewa dalam kepenuhan janji Tuhan.

Itulah yang ditegaskan Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus dari Paus Pius XII, ketika menyatakan dogma Maria Diangkat ke Surga (1 November 1950), yaitu: “bahwa Bunda Allah tak bernoda, Maria selalu perawan, sesudah menggenapi perjalanan hidupnya di dunia, diangkat badan dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi” (no. 44). Apakah Maria meninggal dulu sebelum diangkat ke surga? Ya. Sesuai dogma itu, Maria diangkat ke surga sesudah kematiannya. Namun dokumen menekankan adanya keistimewaan pada Maria, yaitu pada proses dalam tubuhnya: Seturut hukum alami sesudah kematian tubuh menjadi rusak, dan seturut iman akan digabungkan kembali dengan jiwanya yang mulia pada akhir jaman, tetapi “Allah menghendaki bahwa Perawan Maria terberkati dikecualikan dari hukum umum ini. Berkat privilege yang unik, dia secara penuh mengatasi dosa oleh perkandungannya yang tak bernoda, dan sebagai akibatnya dia tidak tunduk kepada hukum jazad dalam pembusukan kubur, dan dia tidak perlu menunggu sampai akhir zaman untuk penebusan tubuhnya” (no. 4 dan 5). Jadi sekali lagi, dogma tersebut tidak menyangkal kematiannya, melainkan menekankan keistimewaan pada tubuhnya, yaitu bahwa tubuhnya itu tanpa rusak, diangkat ke surga dengan mulia, tanpa menunggu pada akhir zaman.

Bagaimana peristiwa kematian itu terjadi tidak banyak dilukiskan; Kitab Suci sendiri juga tidak. Namun dengan tidak disebut, itu justru menjadi isyarat bahwa kematian Maria terjadi secara normal. Tidak banyak catatan lain, kecuali dari hasil perenungan beberapa tokoh saleh, pengagum Maria, seperti yang banyak disinggung dalam dokumen di atas. Memang ada juga pelukisan menarik dari berbagai karya Apokrif sekitar Pengangkatan Maria, namun karya itu juga muncul lebih dari perenungan kesalehan. Karya-karya itu memakai nama Yohanes Penginjil, dan Yosep dari Arimatea sebagai pencerita, dan melukiskan bagaimana sebelum kematian Maria Tuhan secara ajaib mengumpulkan para Rasul yang tersebar di mana-mana untuk mendampingi Maria. Dalam kisah itu tubuh suci Maria yang telah mengandung Sang Penyelamat, diangkat pada hari ketiga seperti Kristus. Di balik semua cerita itu selalu muncul penghormatan umat pada relasi batiniah Maria dengan Yesus dan dengan para Rasul yang merupakan wakil Gereja. Maria selalu tampil sebagai pendoa, pengasih, Ibu Tuhan dan Ibu Gereja. Keutamaan rohani inilah yang menjadi perenungan Gereja sepanjang jaman.

Gregorius Hertanto MSC

HIDUP NO.46 2018, 18 November 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here